KolomRianto, S.Sos., MA

Kebangkitan Nasional Dan Momen Memutus Rantai Penyebaran Covid-19

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati suatu peristiwa sejarah perjuangan bangsa yang dikenal dengan Hari Kebangkitan Nasional. Tahun ini merupakan peringatan yang ke 113. Artinya sudah selama satu abad lebih kita memperingati hari yang menjadi titik awal perjuangan bangsa Indonesia secara nasional.

Hari Kebangkitan Nasional adalah masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, nasionalisme, dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini diwujudkan dengan terbentuknya organisasi Budi Utomo yang menjadi babak baru dalam menumbuhkan semangat perjuangan.

Dimana adanya Budi Utomo membuat perjuangan melawan penjajah tidak lagi bersifat kedaerahan dan menggunakan senjata. Tetapi perjuangan yang bersifat nasional dengan memanfaatkan pemikiran bukan kekerasan dan dilakukan oleh kaum-kaum intelektual. Intinya, mulai tumbuh rasa persatuan dan kesatuan. Terutama dikalangan intelektual dan kaum muda pada masa itu.

Apakah keberadaan Budi Utomo dapat diterima dengan lapang dada? Ternyata tidak. Sebagaimana diketahui bahwa organisasi Budi Utomo berdiri dimasa penjajahan dan digunakan sebagai alat untuk melawan penjajah. Hal ini tentu saja tidak menyenangkan bagi penjajah Belanda.

Untuk itu penjajah Belanda berusaha menggiring Budi Utomo untuk tidak masuk dalam ranah pergerakan politik. Strategi penjajah Belanda antara lain dengan mempengaruhi beberapa peserta Kongres Budi Utomo untuk mengarahkan hasil kongres antara lain agar organisasi Budi Utomo tidak berpolitik. Kegiatan organisasi hanya ditujukan pada bidang sosial, budaya, dan pendidikan, serta ruang gerak terbatas pada Jawa dan Madura.

Keinginan agar Budi Utomo tidak masuk dalam politik juga dilakukan penjajah Belanda melalui peraturan yang berlaku saat itu, yaitu Regering Reglement pada Pasal 111 yang melarang pendirian perkumpulan politik atau yang serupa dengan perkumpulan yang dianggap mengganggu ketenteraman umum.

Surutkah semangat para pemuda pejuang saat itu? Tidak, mereka terus berjuang walaupun selanjutnya organisasi Budi Utomo meleburkan diri ke dalam Perhimpunan Bangsa Indonesia (PBI) yang didirikan oleh Soetomo pada tahun 1935. Peleburan ini selanjutnya melahirkan Partai Indonesia Raya (Parindra).

Meski harus melebur, mereka tidak menyerah. Mereka terus bergerak dalam memperjuangkan Indonesia Merdeka. Menggunakan segala akal, manfaatkan jejaring sosial yang ada, galang persatuan dan kesatuan dari penjuru daerah. Atasi segala perbedaan latar belakang, suku, ras, dan aliran kepercayaan.

Dari hal di atas terlihat bagaimana para bapak bangsa tersebut mampu mengaplikasikan kebhinnekaan (keragaman) sebagai kekayaan, kelebihan dari manusia Indonesia yang berbudaya, berbudi luhur. Bukan sebagai halangan untuk bersatu.

Munculnya rasa identitas kebangsaan yang terus diperjuangkan dalam masa-masa sulit di bawah tekanan penjajah saat itu tidak menyurutkan semangat para pemuda dan kaum intelektual. Mungkin juga ada musuh-musuh dalam selimut, pengkhianat, ataupun antek-antek penjajah yang berusaha menggagalkan usaha-usaha perjuangan mereka. Namun pergerakan tetap jalan sehingga terwujudnya Indonesia Merdeka. Sehingga sampai saat ini kita bisa menikmati hasil perjuangan tersebut.

Bila dulu para pendiri Budi Utomo menghadapi berbagai tantangan. Hari ini kita juga sedang menghadapi tantangan. Baik tantangan dari dalam maupun dari luar.

Tantangan yang sama-sama sedang kita hadapi saat ini adalah musuh bersama umat manusia sedunia, yaitu pandemi Covid-19. Menghadapi ini kita harus tetap optimis bakal mampu menanggulangi dan melewati masa-masa tersulit sekalipun. Sebagai sebuah bangsa pada dasarnya kita adalah bangsa petarung. Bukan golongan cengeng yang mudah putus asa dalam menghadapi tantangan.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam menghadapi pandemi Covid-19 masih ada sebagian kecil masyarakat yang meragukan keberadaan corona virus tersebut. Juga sebagian tidak mematuhi protokol kesehatan (prokes) seperti tidak memakai masker saat berinteraksi dengan orang lain, masih berkerumun, abai dalam mencuci tangan setelah memegang sesuatu, dan sejenisnya. Selain itu masih ada yang tega mengambil kesempatan dalam kesempitan, mengkhianati kepercayaan yang diberikan dengan menilap bantuan sosial (bansos).

Bahwa sebagian kecil masih ada yang meragukan keberadaan Covid-19, tidak melaksanakan prokes sebagaimana mestimya, dan mengkhianati bansos, anggap saja itu “musuh bersama”. Justeru dengan adanya “musuh bersama” mendorong kita untuk bersatu dalam memerangi virus yang menjadi musuh dunia. Anggap saja “musuh bersama” tersebut sebagai “vitamin” atau “vaksin” untuk memperkuat dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan daya tahan dan daya juang dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dimaksud.

Hanya dengan tetap bersatu kita akan mampu melewati masa-masa sulit dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Sebagaimana para pendiri Budi Utomo tetap bersatu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, meskipun mendapat tantangan dari berbagai sisi. Yakinlah, bersama kita bisa. Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2021.

Oleh :

( Rianto )
Dosen STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close