BatamOpini

Realitas Komunikasi Kepemimpinan Amsakar–Li Claudia dan Bias Narasi AI

Beberapa hari terakhir, saya melihat satu fenomena menarik di media sosial Batam. Timeline Facebook, TikTok, Instagram, hingga grup WhatsApp dipenuhi berbagai analisis tentang gaya komunikasi Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra. Ada yang mencoba membedah cara komunikasi keduanya, ada yang membandingkan karakter kepemimpinan mereka, bahkan ada pula yang menyusun analogi politik dengan bahasa yang terdengar sangat akademis.

Fenomena ini terasa menarik untuk dicermati, karena narasi yang beredar hampir seragam. Pola komunikasi Pak Amsakar disebut terlalu birokratis, normatif. Sementara Bu Li digambarkan cenderung spontan. Bahkan muncul analogi bahwa Amsakar adalah “kompas”, sedangkan Li Claudia adalah “penggerak mesin”.

Sekilas, analisis seperti ini memang terlihat ilmiah. Bahasa yang digunakan rapi, sistematis, dan meyakinkan. Namun saat diperhatikan dengan seksama beberapa poster dan konten yang beredar memiliki karakteristik visual khas produksi AI. Mulai dari gaya desain, komposisi gambar, pemilihan diksi, hingga pola narasi yang terlalu rapi dan generik.

Kemudian saya membuat satu percobaan sederhana, saya memasukkan prompt ke AI untuk membaca pola komunikasi keduanya. Hasil yang keluar ternyata hampir sama persis dengan narasi yang sudah lebih dulu tersebar di media sosial. Pola kalimatnya mirip, analoginya hampir sama, bahkan sudut pandangnya juga seragam. Dari situ saya mulai menyadari satu hal penting, bahwa patut diduga narasi yang berkembang tersebut memang merupakan produk AI yang kemudian disebarluaskan kembali oleh banyak orang.

Artinya, publik hari ini sejatinya tidak sedang membaca hasil kajian mendalam, melainkan membaca reproduksi konten AI yang terus berulang dan dianggap sebagai analisis objektif. Hal ini sebenarnya wajar terjadi di era digital.

AI memang memiliki kemampuan luar biasa dalam menghasilkan tulisan, desain, dan analisis hanya dalam hitungan detik. Tetapi AI juga memiliki keterbatasan besar, terutama dalam akses data dan pemahaman konteks sosial. AI tidak turun langsung ke lapangan, tidak mengikuti dinamika pemerintahan secara nyata, dan tidak menyaksikan interaksi langsung antara pemimpin dan masyarakat. AI hanya membaca data yang tersedia di internet atau data yang diberikan pengguna.

Dalam ilmu sistem informasi ada istilah garbage in, garbage out. Artinya, kualitas hasil sangat bergantung pada kualitas data yang dimasukkan. Ketika AI diberi data yang bias, parsial, atau hanya potongan informasi tertentu, maka hasil yang keluar juga akan mengikuti pola tersebut. AI hanya menyusun kemungkinan jawaban paling logis berdasarkan pola data yang tersedia, bukan memverifikasi apakah informasi itu benar secara empiris atau tidak.

Karena itu muncul istilah AI hallucination, yaitu kondisi ketika AI menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya memiliki dasar fakta yang kuat.

Masalahnya, masyarakat sering kali langsung percaya karena bahasa AI terlihat akademis dan terstruktur. Padahal belum tentu sesuai dengan realitas di lapangan.

Dalam konteks Batam, saya melihat banyak orang akhirnya membaca hubungan komunikasi antara Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra secara terlalu sederhana. Perbedaan gaya komunikasi keduanya kemudian diterjemahkan seolah ada relasi dominasi dan subordinasi.

Padahal jika diamati secara langsung maupun dari berbagai pemberitaan serta publikasi di media sosial Pemerintah Kota Batam maupun media sosial pribadi keduanya, realitas komunikasi yang terlihat tidak sesederhana narasi yang berkembang di media sosial.

Dalam berbagai kegiatan pemerintahan, keduanya justru sering terlihat hadir bersama, saling mendampingi, dan terlibat dalam penyelesaian persoalan masyarakat. Pada isu-isu strategis maupun teknis, Pak Amsakar dan Bu Li tampak aktif bersama-sama memberikan arahan dan menjaga stabilitas komunikasi pemerintahan. Keduanya juga terlihat aktif membangun komunikasi publik, memperkuat interaksi dengan masyarakat, serta terlibat dalam berbagai aktivitas lapangan dan komunikasi stakeholder secara bersama-sama.

Keduanya sama-sama terlibat dalam proses konseptual maupun eksekusi kebijakan. Dalam banyak momentum, keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menunjukkan pola kerja yang saling melengkapi.

Inilah yang dalam teori komunikasi modern disebut sebagai collaborative executive communication, yaitu pola komunikasi kepemimpinan yang dibangun melalui pembagian peran strategis. Jadi bukan soal siapa yang lebih dominan, tetapi bagaimana dua pemimpin mampu saling mengisi sesuai kebutuhan organisasi dan kondisi masyarakat.

Sayangnya, media sosial hari ini tidak terlalu menyukai narasi kolaborasi. Algoritma lebih menyukai konflik, perbandingan, dan polarisasi karena lebih mudah menghasilkan perhatian publik. Konten yang mempertentangkan tokoh akan jauh lebih cepat viral dibanding narasi kerja sama. Akibatnya, masyarakat lebih sering diajak melihat siapa yang paling kuat dibanding memahami bagaimana pemerintahan sebenarnya bekerja.

Padahal dalam praktik pemerintahan modern, efektivitas komunikasi tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling banyak bicara atau paling sering muncul di media sosial. Ada pemimpin yang kuat dalam stabilitas birokrasi dan pengambilan keputusan, ada juga yang efektif dalam membangun komunikasi publik dan kedekatan sosial. Ketika keduanya mampu berjalan bersama, justru di situlah kolaborasi pemerintahan terbentuk.

Karena itu, kita perlu lebih bijak dalam membaca hasil AI maupun narasi media sosial. AI memang alat yang sangat membantu, tetapi AI tetap memiliki keterbatasan karena tidak mengalami realitas sosial secara langsung. Hasil AI seharusnya diposisikan sebagai bahan bantu berpikir, bukan sebagai kebenaran final.

Pada akhirnya, membaca gaya komunikasi Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra tidak cukup hanya dari prompt, potongan video, atau persepsi media sosial semata. Realitas lapangan sering kali jauh lebih kompleks daripada kesimpulan algoritma. Sebab kepemimpinan bukan hanya soal siapa yang terlihat paling dominan, tetapi bagaimana para pemimpin mampu bekerja bersama dan hadir untuk masyarakat.

Oleh :

Dr. Fendi Hidayat, M.Kom
Akademisi Universitas Batam

Tags
Show More
Kepriwebsite

Leave a Reply

Close