
KampusTanjungpinang
Perkuat Benteng Laut Kepri, FIKP UMRAH dan Reef Check Indonesia Cetak Masyarakat Tangguh Iklim
TANJUNGPINANG – Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) kembali mengukuhkan posisinya sebagai kiblat akademik kemaritiman di Kepulauan Riau. Hal ini ditandai melalui peresmian kemitraan strategis dengan Yayasan Reef Check Indonesia lewat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) serta Dokumen Persetujuan Implementasi (Implementation Agreement) untuk aksi pelestarian ekosistem laut di wilayah Kepri. Kamis (11/06/2026).

Kolaborasi ini menjadi bentuk pengakuan nyata atas kapasitas sains, rekam jejak lapangan, dan komitmen FIKP UMRAH dalam memberdayakan masyarakat pesisir. Dalam aliansi ini, FIKP UMRAH ditunjuk sebagai mitra utama guna memperkuat kapasitas lokal serta memimpin pengumpulan data ilmiah lapangan terkait pengelolaan terumbu karang yang adaptif dan berketahanan terhadap hantaman krisis iklim global.
Dekan FIKP UMRAH, Dr. Dony Apdillah, M.Si, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan momentum krusial untuk meruntuhkan dinding pembatas antara teori akademik di kampus dan praktik konservasi riil di laut.
“Kepercayaan dari Yayasan Reef Check Indonesia membuktikan bahwa kompetensi ilmiah dan sumber daya manusia FIKP UMRAH diakui mampu mengawal program konservasi pesisir berbasis sains. Kami berkomitmen agar kolaborasi ini memberikan dampak instan bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkokoh tata kelola terumbu karang di Kepulauan Riau,” ujar Dr. Dony optimis.
Aksi penyelamatan lingkungan ini akan langsung diterjunkan di tiga titik wilayah laut strategis Kepri, yaitu Batam, Bintan, dan Anambas. Ketiga kawasan tersebut dipilih karena memiliki ekosistem karang yang bernilai tinggi, namun saat ini sedang berada di bawah ancaman serius akibat tekanan pembangunan serta dampak nyata perubahan iklim.
Direktur Yayasan Reef Check Indonesia, Derta Prabuning, S.Kel., M.Si, mengungkapkan bahwa kedekatan kultural FIKP UMRAH dengan masyarakat pesisir Kepri menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Keterlibatan universitas diharapkan mampu melahirkan solusi berbasis sains (science-based solutions) yang mudah diadopsi oleh warga lokal.
“Sinergi antara kekuatan riset kampus dan taktik konservasi organisasi non-pemerintah ini ditargetkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang kokoh bagi pemerintah daerah. Lebih dari itu, program ini berfokus untuk menempa kapasitas masyarakat lokal agar mampu mandiri menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut mereka sendiri,” pungkas Derta Prabuning.
Langkah taktis ini mempertegas langkah FIKP UMRAH dalam memperluas jejaring kolaborasi nasional. UMRAH membuktikan diri bukan lagi sekadar menara gading institusi pendidikan, melainkan pusat keunggulan (center of excellence) penelitian dan pengabdian yang berdiri nyata di garis depan pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.







