Karimun

Serah Terima Murid Baru MTSs Al Hidayah Boarding School Moro

Momentum Kolaborasi Orang Tua dan Pesantren untuk Cetak Generasi Taat dan Beradap!

KARIMUN – Prosesi serah terima murid baru angkatan tahun ajaran 2026/2027 di MTSs Al Hidayah Boarding School Moro yang digelar pada Jumat (17/7) berlangsung dengan penuh khidmat. Acara yang mempertemukan pihak pengelola Madrasah, Yayasan, serta para wali murid ini menjadi tonggak awal komitmen bersama dalam membentuk karakter islami anak didik.

Kegiatan strategis ini dihadiri langsung oleh Ketua Yayasan Al Hidayah Moro, H. Bakar, beserta jajaran pengurus yayasan, Zulhari Ramadhan, S.Sos., M.Pd. unsur pengelola boarding school. Turut hadir sebagai tamu kehormatan dan narasumber utama, Wakil Rektor III Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Kepulauan Riau, Dr. Suryadi, S.P., S.H., M.H., yang didampingi oleh Bendahara DDII Kepulauan Riau, Dr. Hos. Arie Rhamadhsn Sibarani, S.H., M.H. Kehadiran para tokoh ini memberikan bobot motivasi dan wawasan akademik-keagamaan yang kuat bagi seluruh civitas akademika dan orang tua santri.

Dalam pengarahan utamanya, Ketua DDII Kepri Dr. Suryadi menekankan bahwa mempercayakan anak di MTSs Al Hidayah Boarding School Moro adalah sebuah pilihan yang sangat tepat. Menurutnya, saat ini dunia pendidikan sering kali menghadapi tantangan konsistensi penyimpangan karakter pada anak didik akibat arus teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang tidak terbendung.

“Melalui ekosistem pesantren (boarding school), kita berupaya mengembalikan hakikat dan khittah tujuan pendidikan nasional. Kita tidak hanya mengejar kecerdasan otak semata, tetapi yang paling utama adalah membentuk adab, mental, spiritual, dan karakter anak agar menjadi putra-putri terbaik di hadapan manusia dan terutama di hadapan Allah SWT,” ujar Dr. Suryadi.

Lebih lanjut, Dr. Suryadi mengingatkan para wali murid agar tidak lepas tangan setelah menyerahkan anak-anak mereka ke pesantren. Keberhasilan anak di lembaga pendidikan sangat bergantung pada kerja sama segitiga emas: ustaz, santri, dan orang tua. Orang tua di rumah diharapkan memperkuat ikhtiar anak melalui amalan khusus dan doa-doa terbaik (jalur langit), seperti bersedekah yang diniatkan untuk kelancaran belajar sang anak.

Ia juga memberikan tips psikologis kepada orang tua baru agar tidak mudah goyah atau buru-buru menjemput anak pulang jika anak menangis karena rindu rumah di minggu-minggu pertama pesantren. “Namanya budak-budak (anak-anak), menangis satu dua hari itu biasa, itu bagian dari proses adaptasi. Orang tua harus tegar demi masa depan mereka,” tambahnya.

Sebagai penutup motivasi, Dr. Suryadi mengajak para santri baru untuk menumbuhkan rasa cinta yang mendalam terhadap ekosistem barunya di MTSs Al Hidayah Moro. Mengambil tamsil dari kisah Amru Qais (Majnun) yang sangat mencintai Laila hingga mencintai seluruh hal yang berkaitan dengan Laila, ia berharap santri dapat mencintai bangunan sekolahnya, menghormati para ustaz-ustazahnya, menyayangi temannya, hingga menikmati makanan (termasuk menu sederhana seperti sayur nangka/tewel) yang disajikan.

Pesan serupa ditujukan kepada para ustazah, seperti Ustazah Zarina, agar memperlakukan puluhan santri yang dititipkan sebagai anak kandung sendiri dengan penuh kasih sayang dan kesabaran demi melahirkan generasi peradaban islam yang cemerlang.

Tags
Show More
Kepriwebsite

Leave a Reply

Close