LinggaOpini

Jalan Dibangun, Gedung Didirikan, Tapi Mengapa Pemuda Lingga Masih Pergi?

Di setiap forum pembangunan, kalimat tentang “pemuda adalah masa depan daerah” hampir selalu terdengar. Kalimat itu diucapkan berulang-ulang, menjadi tema kegiatan, masuk ke dokumen perencanaan, bahkan menjadi slogan pembangunan. Namun pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apa yang diucapkan, melainkan apa yang dihasilkan.

Kabupaten Lingga telah lama menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas daerah. Hal tersebut tertuang dalam arah pembangunan daerah dan terus diulang dalam agenda perencanaan pemerintah hingga tahun 2026.

Namun setelah bertahun-tahun berjalan, pertanyaan yang layak diajukan adalah: di mana hasilnya?

Jika pembangunan pemuda berhasil, seharusnya Lingga mulai melahirkan generasi muda yang menjadi motor ekonomi, inovator, pelaku usaha, pencipta lapangan kerja, serta aktor utama pembangunan daerah. Tetapi realitas yang terlihat justru berbeda. Banyak anak muda Lingga merasa peluang hidup yang lebih baik berada di luar daerah daripada di tanah kelahirannya sendiri.

Ini bukan karena anak muda Lingga tidak cerdas. Bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan. Masalahnya kemungkinan besar terletak pada ekosistem yang gagal dibangun.

Daerah bisa membangun jalan baru, pelabuhan baru, dan gedung baru. Tetapi pembangunan fisik tidak otomatis menciptakan masa depan bagi generasi muda.

Data terbaru menunjukkan penduduk Kabupaten Lingga diperkirakan mencapai sekitar 101 ribu jiwa pada 2025–2026. Jumlah tersebut merupakan modal demografi yang seharusnya dapat menjadi kekuatan pembangunan daerah.

Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lingga pada data terakhir yang tersedia berada di angka sekitar 73,05. Angka ini memang menunjukkan peningkatan, tetapi peningkatan statistik belum tentu menggambarkan kualitas kesempatan yang diterima anak muda di lapangan.

Persoalan sebenarnya mungkin bukan pada angka. Persoalannya adalah arah.

Pemuda sering hadir dalam kegiatan pemerintah sebagai peserta seminar, penonton acara seremonial, atau pengisi kursi undangan. Mereka diajak bicara tentang perubahan, tetapi tidak cukup diberi ruang untuk menjadi pelaku perubahan.

Berapa banyak startup lokal yang lahir dari Lingga? Berapa banyak industri kreatif yang tumbuh? Berapa banyak program kepemudaan yang benar-benar menciptakan pengusaha baru? Berapa banyak lulusan perguruan tinggi yang kembali dan memilih membangun kampungnya sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali lebih sulit dijawab daripada menyusun slogan pembangunan.

Kritik terbesar terhadap pembangunan di Lingga bukan karena tidak adanya program. Program selalu ada. Yang dipersoalkan adalah hasilnya. Sebab keberhasilan pembangunan bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan atau tebalnya dokumen perencanaan, tetapi dari seberapa banyak generasi muda yang memiliki alasan untuk bertahan dan berkarya di daerahnya sendiri.

Jika anak-anak muda terbaik terus pergi karena merasa kesempatan hidup lebih besar di luar Lingga, maka daerah sesungguhnya sedang kehilangan aset paling berharga: manusianya.

Dan kehilangan sumber daya alam masih bisa dicari penggantinya. Kehilangan anggaran bisa dipulihkan. Tetapi kehilangan generasi muda adalah kerugian pembangunan yang dampaknya bisa terasa puluhan tahun.

Mungkin masalahnya bukan bahwa Lingga gagal membangun pemuda.

Mungkin yang gagal adalah cara melihat pemuda, masih dianggap objek pembangunan, bukan subjek pembangunan.

 

Oleh :

Muhammad Fatur, S.Pd

Referensi

  • Publikasi resmi BPS Kabupaten Lingga Dalam Angka 2026 mengenai kondisi sosial-demografi dan perekonomian Lingga.
  • Dokumen arah pembangunan daerah Kabupaten Lingga 2021–2026 yang menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas.
  • Data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Lingga.
Tags
Show More
Kepriwebsite

Leave a Reply

Close