PendidikanSTISIPOL Raja Haji

Kenakalan Remaja Ditinjau Dari Kecerdasan Emosional Dan Adaptasi Sosial

Masa yang paling rentan bagi kehidupan individu adalah masa remaja, karena pada masa ini individu mengalami krisis identitas. Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa. Monks dkk (2004) membagi masa remaja menjadi empat bagian, yaitu: 1. Masa praremaja atau prapubertas pada usia 10-12 tahun, 2. Masa remaja awal atau pubertas usia 12-15 tahun, 3. Masa remaja pertengahan usia 15-18 tahun, 4. Masa remaja akhir pada usia 18-21 tahun. Pada masa remaja terjadi perubahan baik fisik, psikis, maupun social yang pesat dan berbeda dari masa sebelumnya sehingga dimungkinkan remaja mengalami masa krisis yang ditandai dengan kecenderungan munculnya prilaku menyimpang. Pada tahapan ini, individu memiliki energi yang berlebihan, hal ini didukung dengan rasa ingin tahu yang sangat besar sehingga mendorong mereka bertingkah laku di luar control diri mereka. Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan seorang anak, dimana pada masa peralihan ini seorang anak merasa kehilangan masa kanak-kanaknya yang merupakan satu-satunya identitas yang dimilikinya sejak lahir. Dan Perubahan ini merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dihindari, oleh siapapun, setiap individu pasti akan melewati tahapan ini.

Kartono (1981) mendefinisikan perkembangan sebagai “Perubahan-perubahan psikifisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisis pada diri anak, yang ditunjang oleh factor lingkungan dan proses belajar dalam fase waktu tertentu menuju kedewasaan”. Secara umum dan dalam kondisi normal, masa remaja merupakan periode yang sulit ditempuh, baik secara individual ataupun kelompok, sehingga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah (thetrouble teens). Salah satu kelompok yang rentan untuk ikut terbawa arus pada era globalisasi dan modernisasi dewasa ini adalah anak-anak pada masa remaja, mereka memiliki karakteristik tersendiri karena pada usia remaja seorang anak unik dan masih sangat labil. Mereka masih pada tahap mencari identitas diri karena mengalami masa transisi dari fase remaja kepada fase dewasa.

Kecerdasan emosional dipengaruhi oleh kesadaran dan pengendalian diri, komponen kesadaran diri menuntut pengetahuan tentang emosi diri sendiri dan seseorang, serta memahami dan memprediksi reaksi emosional seseorang terhadap berbagai situasi. Secara emosional pada kesadaran diri juga menyadari sepenuhnya nilai-nilai seseorang dan keyakinan diri serta mengetahui dampak dan pengaruh segala tindakannya. Kondisi kecerdasan emosional yang kurang baik mengakibatkan remaja kurang memahami orang lain, sehingga remaja cenderung berorientasi pada diri sendiri, dan cenderung menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Goleman (1995) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional yang rendah ditandai dengan ketidakmampuan remaja dalam menjalin relasi antar pribadi. Perubahan secara fisik, psikis, dan sosialpun terjadi dengan cepat, dan terjadi ketidakseimbangan emosional dan ketidakstabilan dalam banyak hal yang terdapat pada usia remaja, statusnya tidak jelas dan pola-pola hubungan social mulai berubah.

Dalam menjalin relasi antar pribadi maupun masyarakat akan dipengaruhi oleh kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri. Perilaku penyesuaian diri pada dasarnya terbagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Mengubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungannya, dan yang ke 2. Mengubah lingkungan agar sesuai dengan tingkah lakunya. Adaptasi social atau penyesuaian diri didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk mengharmonisasikan kepuasan pada satu kebutuhan dan permintaan yang berhubungan dengan fisik dan social. Sedangkan Schneiders (1964) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai proses belajar memahami, mengerti dan berusaha melakukan apa yang diinginkan oleh individu maupun lingkungannya yang melibatkan proses mental, respon tingkah laku, frustasi dan konflik untuk mencapai suatu keharmonisan atas tuntutan dalam dirinya dan dunia disekitarnya.

Remaja mulai mengabaikan keluarganya dan beralih pada kehidupan social bersama teman-teman sebaya. Pada saat bergabung dalam lingkungan teman-teman  sebaya, seorang individu akan meleburkan dirinya dalam lingkungan teman sebaya tersebut, sehingga sedikit banyaknya nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh orang tua dalam keluarga akan mengalami perubahan atau pergeseran. Karena dalam lingkungan sebaya ini, para remaja memiliki cara pandang tersendiri, yang terkadang akan bertentangan dengan nilai-nilai yang telah diterima dari lingkungan keluarga sebelumnya. Seorang remaja dituntut agar dapat menyeragamkan diri dengan lingkungan baru tempat dimana ia bersosialisasi dan harus dapat menunjukkan kemampuan mereka untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya tersebut.

Dalam pergaulan teman sebaya inilah, terkadang remaja mungkin saja akan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, dimana penyimpangan tersebut terkadang menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk dapat dianggap menjadi bagian dari sebuah kelompok dilingkungan teman sebaya. Penyimpangan prilaku yang terjadi dalam lingkungan teman sebaya disini dapat berupa kenakalan remaja, dimana kenakalan remaja disini dapat lagi dijabarkan dalam berbagai bentuk perilaku seperti misalnya mabuk-mabukan, kebut-kebutan liar, perkelahian antar pelajar atau tawuran, seks bebas, narkoba dan sebagainya.

Kenakalan remaja merupakan penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran terhadap norma-norma social. Kecerdasan emosional mampu membantu remaja mengontrol sikap dan tingkah lakunya agar terhindar dari kenakalan remaja. Sementara itu, keberhasilan remaja menyesuaikan diri dengan lingkungan akan mengarahkan remaja untuk berprilaku adaptif dan tidak terjerumus dalam kenakalan remaja. Remaja yang mampu mengontrol emosi dan tingkah lakunya serta dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.

 

Oleh :

Desmayeti Arfa, S.Sos, M.Soc.Sc
Dosen Program Studi Sosiologi Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close