KepriSTISIPOL Raja HajiTanjungpinang

Ngopi, Kedai Kopi dan Pandemi Di Tanjungpinang

Lihatkepri.com, Tanjungpinang – Menjamurnya kedai kopi di sisi jalan utama dan jalan protokol Kota Tanjungpinang merupakan fenomena yang telah merebak jauh sebelum pandemi COVID-19.

Hal ini kemudian menyebabkan Tanjungpinang sebagai ‘Negeri Seribu Kedai Kopi’, yang melekat pada perilaku hingga kebiasaan mengonsumsi kopi oleh masyarakatnya. Kedai kopi atau coffee shop, diartikan sebagai suatu gerai atau tempat yang menyediakan menu berbagai jenis kopi atau minuman lain, yang disertai oleh fitur-fitur menarik yang membuat konsumen merasa nyaman, seperti akses internet (WiFi), portal charger, ruangan ber-AC, hingga hiburan seperti life acoustic.

Secara umum, kedai kopi sangat berkembang, yang awalnya hanya tempat untuk menikmati secangkir kopi, hingga menjadi wadah bersantai, bersilaturahmi, hingga berkolaborasi. Istilah ‘ngopi’ yang telah menjadi gaya hidup, menyebabkan perkembangan dan pertumbuhan usaha kedai kopi sangat berkembang dewasa ini.

Menikmati kopi di kedai kopi menjadi suatu simbol penting dalam pergaulan hingga diskusi penting dalam urusan bisnis atau urusan lain secara formal maupun nonformal. Kedai kopi berperan penting dalam sosialisasi masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya, serta menjadi salah satu wadah bertukar informasi, di mana setiap harinya berbagai topik dibahas dan diulas oleh masyarakat. Kedai kopi juga dijadikan sebagai wahana untuk menyerap aspirasi.

Salah satu kedai kopi yang tersohor di kalangan masyarakat Pulau Bintan adalah Kedai Kopi Jembatan. Kedai kopi ini selalu ramai dengan pengunjung yang hilir mudik menyambangi tempat ini, tidak hanya sekadar menikmati kopi, namun juga bersantai menikmati pemandangan dan suasana rimbunnya mangrove. Kegiatan bersilaturahmi sudah menjadi salah satu nilai kehidupan inti masyarakat melayu.

Dodi Darmawan, salah seorang pemiliki Kedai Kopi Jembatan memaparkan bahwa Pandemi COVID-19 sempat menurunkan animo masyarakat untuk ‘ngopi’.

“Pada awal-awal masa pandemi ini, daya beli masyarakat menurun dan kedai kopi sempat sepi. Namun setelah ada pelonggaran aturan operasional dari pemerintah dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan, perlahan keadaan mulai membaik” ucapnya.

Pandemi COVID-19 memang telah membatasi banyak ruang gerak usaha, salah satunya adalah usaha kedai kopi yang cukup besar terdampak. Pembatasan interaksi sosial dan penggalakan pelaksanaan protokol kesehatan adalah strategi yang diaplikasikan untuk mencegah penyebaran COVID-19 menjadi kian meluas. Namun, ternyata pandemi tidak menghentikan masyarakat untuk mengonsumsi kopi favoritnya melalui layanan pesan antar melalui aplikasi ojek daring dan juga layanan take-away.

“Memang sejak pandemi banyak pesanan yang dibawa pulang” ujar Dodi.

Dinamika kebiasaan ‘ngopi’ yang terdampak pandemi COVID-19 telah mampu beradaptasi dengan kondisi dengan memanfaatkan teknologi dan layanan yang prima. Melalui berbagai inovasi, kedai kopi tidak akan mati di tengah pandemi. Tergantung pengelola kedai kopi yang harus pandai mencermati keadaan dan mengambil gerak cepat untuk bertahan.

Dilansir dari corona.kepriprov.go.id, per 9 Januari 2021, terdapat 43 kasus aktif infeksi COVID-19 di Tanjungpinang, dengan total kasus sembuh sebanyak 1065. Melalui artikel ini, penulis mengajak pembaca untuk tetap menegakkan protokol kesehatan secara ketat dengan selalu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

 

(Khusnul Digayolanda)
Mahasiswa Stisipol Raja Haji Jurusan Sosiologi

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close