Kolom

Duka Pengusaha Hotel Karena Covid-19

Penyebaran virus Corona diberbagai negara memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya pada perekonomian. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, virus Corona telah memunculkan pesimisme terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Pada 2020 ada optimisme namun hanya dalam seminggu itu berbalik.

Wacana untuk memberlakukan Lockdown atau beredar sejak pemerintah mengumumkan bahwa kasus virus corona (COVID – 19) secara nasional telah mencapai 96 kasus dengan kematian pada 5 orang per 12 Maret lalu. Dan sekarang penambahan 65 kasus positif corona. Satu kasus penambahan dari Provinsi Kepri. Penambahan 65 orang di berbagai provinsi sehingga total kasus menjadi 579, kemudian ada penambahan sembuh menjadi 30 orang, dan yang meninggal 49.

Upaya ini dinilai bisa meredam transmisi virus secara lokal mengingat sejumlah kasus yang terdeteksi terjadi pada WNI yang tak memiliki riwayat bepergian ke negara terjangkit, kendati demikian lockdown pada saat yang sama memiliki konsekuensi besar pada roda perekonomian. Mulai dari industri transportasi, industri makanan dan minuman, properti dan akitivitas beberapa pabrik akan tersendat atau bahkan terhenti.

Dampak dari virus Corona yang menghantui masyarakat Indonesia ini salah satunya berdampak ke sektor perhotelan yang menjadi pendapatan bagi Indonesia ini terancam menurun setiap harinya. Dilihat dari setiap kebijakan yang pemerintah lakukan semakin membuat semua pengusaha mengalami kerugian besar. Beberapa hotel sudah mengambil kebijakan untuk mengistirahatkan atau cuti karyawan untuk tetap dirumah. Di industri perhotelan mulai menghentikan penggunaan pekerjaan harian, sedangkan untuk yang kontrak tetap bekerja secara bergilir.

Jika berangkat dari perspektif pelaku usaha, disarankan agar para karyawan yang diberikan cuti agar tidak berpergian keluar daerah kita bahkan negara, mencakup larangan bepergian ke negara yang melaporkan kasus virus corona, instruksi pada masyarakat untuk menjaga jarak saat bersosialisasi (social distancing), penyuluhan pencegahan virus, dan penguatan sektor dan fasilitas kesehatan. Bali merupakan salah satu tempat yang banyak diminati oleh wisatawan China, sejak ditutupnya jalur penerbangan atau dilarang masuknya wisatawan dari China ini membuat beberapa hotel yang ada di Bali mengalami penurunan yang sangat drastis.

Dengan kerugian yang menelan hingga triliunan yang dialami perhotelan membuat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) meminta pemerintah menurunkan pajak hotel yang untuk menarik wisatawan. Dengan potongan pajak tersebut beban yang dikenakan kepada pengunjung akan ikut berkurang. Namun dengan setiap waktu virus covid-19 yang menyerang Indonesia ini semakin menimbulkan banyak kerugian di berbagai sektor pengusaha lainnya. Kebijakan Lockdown yang pemerintah tetapkan membuat semakin sulitnya perkonomian yang Indonesia alami karena setiap Masyarakatnya dianjurkan untuk tidak beraktivitas diluar ruangan.

Di sisi lain, sikap optimistis akan terjadinya pemulihan perekonomian global itu berbanding terbalik ketika virus Corona menyerang sehingga menimbulkan pesimisme bagi para pelaku pasar. Mewabahnya virus Corona tersebut menyebabkan tidak terealisasinya seluruh potensi perekonomian. Adanya virus Corona terjadi policy lockdown sehingga potensi perekonomian menjadi sulit. Hal tersebut menggambarkan bahwa ketidakpastian dan risiko di global terjadi sangat cepat dan tidak dapat diprediksikan waktunya sehingga semua negara harus terus waspada termasuk Indonesia sendiri. Pemerintah perlunya menyiapkan instrumen kebijakan dalam hadapi satu sisi keinginan untuk terus mempertahankan perekonomian negara. Semua negara juga perlu menyiapkan instrumen kebijakan yang baik untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah terjadinya berbagai risiko yang datang tiba-tiba.

 

Penulis

Azifa Lofita Virya
Prodi Administrasi Publik Stisipol Raja Haji

Baca Juga Informasi Lainnya
Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close
%d blogger menyukai ini: