
Jawa Barat
Dari Temuan ke Tindakan: Akademisi Deklarasikan CBM-B3T, Dorong Riset Biomaritim di Wilayah Perbatasan dan Daerah 3T!
BOGOR – Sejumlah akademisi, peneliti, praktisi kemaritiman, serta tokoh masyarakat mendeklarasikan pendirian Pusat Kajian Biomaritim Wilayah Perbatasan dan Daerah 3T (CBM-B3T) Sabtu, (28/02/2026) . Pusat kajian ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat riset, inovasi, serta pengembangan kebijakan di bidang biomaritim, khususnya bagi wilayah perbatasan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ketua Umum CBM-B3T Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag., M.Si. mengatakan pembentukan pusat kajian ini berangkat dari kebutuhan menghadirkan penelitian biomaritim yang memberi dampak nyata bagi masyarakat pesisir.
“Potensi kelautan Indonesia sangat besar. Melalui CBM-B3T, kami ingin mendorong riset biomaritim yang dapat memberi kontribusi langsung bagi masyarakat, terutama di wilayah pesisir, perbatasan, dan daerah 3T,” kata Agus Salim.
Menurut Agus, pengembangan sektor maritim membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, hingga komunitas masyarakat pesisir.
Pembina CBM-B3T Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc. dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menekankan pentingnya peran riset dan inovasi dalam membantu masyarakat, terutama di wilayah yang selama ini masih tertinggal dalam pembangunan infrastruktur.
“Banyak wilayah 3T masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, padahal potensi alam dan masyarakatnya sangat besar. Di sinilah riset dan inovasi perlu hadir untuk membantu mengembangkan potensi tersebut,” ujarnya.
Dukungan terhadap pendirian pusat kajian ini juga disampaikan Drs. Abd. Kholik, Tenaga Ahli Utama Dewan Pertahanan Nasional RI. Ia menilai semangat kolaborasi yang muncul dalam forum tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan program-program CBM-B3T.
“Kami mendukung penuh visi dan misi CBM-B3T. Semangat yang terbangun di sini sangat penting. Jika semangat itu terus dijaga, saya yakin akan selalu ada jalan untuk menjalankan berbagai program ke depan,” katanya.
Sementara itu, Laksamana Tasdik dari Pushidrosal (Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL) menyatakan kesiapan institusinya untuk mendukung kegiatan riset melalui penyediaan data kemaritiman.
“Pushidrosal siap mendukung kegiatan CBM-B3T. Kami juga siap membantu menyediakan data-data kemaritiman yang diperlukan untuk mendukung penelitian,” ujarnya.
Dalam diskusi yang berlangsung, Prof. Dr. Widodo Setyo Pranowo, M.Sc. dari Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) menyoroti persoalan lingkungan laut yang membutuhkan perhatian serius, termasuk kasus tumpahan minyak di wilayah Pulau Bintan yang kerap berulang.
“Tumpahan minyak di kawasan Pulau Bintan sudah lama terjadi dan sering berulang. CBM-B3T dapat ikut mengawal persoalan ini sekaligus mendorong lahirnya solusi berbasis riset,” katanya.
Dukungan terhadap penguatan jejaring riset internasional juga disampaikan oleh Dr. Albertus Sulaiman, M.Sc. dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia menilai kerja sama global penting untuk memperluas peluang pengembangan riset biomaritim.
“Kami siap membantu memfasilitasi peluang hibah riset dari mitra luar negeri bagi kegiatan CBM-B3T, termasuk dari Jepang dan negara lain,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Salim Mustofa, M.Eng., Sekretaris Jenderal Indonesia Japan Business Network (IJB Net), menegaskan kesiapan organisasinya untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan berbagai lembaga di Jepang.
“IJB Net siap membantu membuka jalur komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah maupun institusi di Jepang, khususnya terkait kerja sama kemaritiman dan upaya restorasi ekologi,” kata Salim Mustofa.
Selain melibatkan akademisi dan peneliti, kegiatan ini juga menghadirkan tokoh agama, tokoh adat, serta para guru madrasah dan pesantren untuk memberikan pandangan mengenai pengelolaan lingkungan laut dari perspektif nilai sosial, budaya, dan keagamaan.
Salah seorang guru madrasah yang hadir menilai penguatan kesadaran menjaga laut perlu dibangun melalui pendekatan nilai yang hidup di masyarakat.
“Nilai-nilai agama dan budaya penting dimasukkan dalam berbagai program CBM-B3T agar kesadaran menjaga lingkungan laut tumbuh dari masyarakat,” ujarnya.
Pendirian CBM-B3T merupakan komitmen bersama berbagai institusi akademik, lembaga pemerintah, industri, dan komunitas masyarakat pesisir untuk mengembangkan kajian biomaritim secara multidisipliner. Fokus kajian mencakup biodiversitas laut, bioteknologi kelautan, ketahanan pangan, energi, hingga ekologi pesisir yang mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil.
Deklarasi tersebut juga disertai dengan penandatanganan deklarasi bersama serta nota kesepahaman (MoU) sebagai dasar kerja sama dalam penelitian, pengabdian masyarakat, pengembangan teknologi, pengelolaan data, dan dukungan pendanaan kegiatan strategis.
Dalam struktur organisasi, CBM-B3T dipimpin oleh Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag., M.Si. sebagai Ketua Umum, didampingi Prof. Dr. Evika Sandi, S.Si., M.Si. sebagai Sekretaris Jenderal, dan M. Fahmi Hidayat, SE., MA. sebagai Bendahara Umum.
Adapun jajaran pembina terdiri dari Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc. (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Prof. Dr. Budi Setiyadi Darmono, M.Agr.Sc. (Universitas Gadjah Mada), Prof. Dr. Widodo Setyo Pranowo, M.Sc. (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut), serta Dr. Lebba, S.Ag., M.Si. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Sementara itu, Dewan Pengawas CBM-B3T terdiri dari Prof. Nur Hidayah, S.Ag., SE., M.A., MA., Ph.D. (INDEF), Dr. Albertus Sulaiman, M.Sc. (BRIN), dan Dr. Salim Mustofa, M.Eng. (Indonesia Japan Business Network).
Kegiatan deklarasi yang berlangsung di Resort Puta Nutu, Bogor, tersebut ditutup dengan buka puasa bersama dan ramah tamah, sebagai momentum mempererat jejaring kolaborasi antara akademisi, peneliti, tokoh masyarakat, serta para pemangku kepentingan di bidang kemaritiman.







