KolomRudi Saputra

Aksi Terorisme Harus Ditangkal Sejak Dini Dilevel Pelajar

Kabar kurang menyenangkan kembali kita dengar di belahan timur Indonesia, tepat pukul 10.30 WITA terjadi ledakan bom yang menyasar para jemaah Gereja Katedral Makassar. Pelaku bom bunuh diri berjumlah 2 orang dan melakukan aksinya bertepatan dengan perayaan minggu palma bagi umat katolik.

Atas kejadian ini menjadi sinyal bahwa teroris masih ada dan terus menunjukkan eksistensi dengan menebarkan ketakutan kepada masyarakat.

Melihat ini kita sebagai warga dituntut untuk tidak takut dan selalu waspada dengan segala potensi ancaman yang ada. Memang, Karimun sendiri bukanlah daerah yang rawan konflik dari aksi-aksi terorisme, namun kita sejatinya tetap jaga diri dan keluarga dari ideologi yang menyimpang tersebut.

Karena kejahatan kemanusiaan seperti ini harus senantiasa jadi pantauan kita bersama. Selain kepolisian kita sebagai masyarakat, pemuda dan seluruh elemen dapat memeranginya melalui gagasan pemikiran untuk menetralisir doktrin yang mereka anggap sebagai jalan kebenaran mereka.

Selain itu, persoalaan regenerasi merupakan bagian terpenting dari eksistensi kelompok teroris. Rekrutmen terus dilakukan mereka untuk menjadi martir dengan berbagai cara. Hal inilah tentu menjadi pekerjaan utama bagi seluruh instansi terkait yang menangi isu teroris dalam memutuskan generasi mereka.

Paling mudah yang dilakukan mereka dalam mencari anggota baru adalah propaganda melalui dunia maya. Dengan bebasnya internet yang mudah diakses oleh kawula muda tentunya amat berbahaya, jika tidak difilter akan menumbuhkan bibit-bibit baru bangsa yang tumbuh dengan doktrin ideologi yang ekstrem.

Dan peranan aparat keamanan hari ini belum begitu optimal, jika tidak diajak beberapa elemen dalam menghadapi paham radikal di level anak muda khusunya pelajar. Tentu ini harus ada kerjasama seluruh komponen masyarakat termasuk tingkat kewaspadaan bela lingkungan terhadap bahaya terorisme yang lebih terukur dan teruji.

Kemudian sekolah dan kampus yang dijadikan laboratorium pengetahuan kerap kali menjadi sasaran utama dibanding wilayah lain, penanganannya harus dielaborasi melalui pendekatan-pendekatan baru dan tidak monoton. Mengikuti tren kekinian, serta mudah diterima oleh pelajar-pelajar kita.

Salah satunya dapat mengaktifkan organisasi badan otonom Nahdatul Ulama (NU) ditingkat pelajar putra dan putri di Kabupaten Karimun. Yakni IPNU dan IPPNU sebagai backup kepolisian dan motor penggerak untuk melawan pemikiran para penganut pemikiran radikalisme.

Mengharapkan OSIS saja tidak cukup, secara kelembagaan mereka bertanggung jawab terhadap sekolah terkait kegiatan yang dilakukan. Kegiatan keorganisasian lebih sering diisi oleh pihak internal, jarang melibatkan pihak luar. Sementara kebutuhan organisasi dalam dinamika lajunya zaman begitu tinggi.

Harapan kita sederhana saja, jangan sampai ada generasi muda di Indonesia khususnya para pelajar di Kabupaten Karimun masuk dalam jaringan atau kelompok teroris. Apapun motivasinya seluruh agama tidak membenarkan untuk saling membunuh dengan cara-cara yang keji.

Penulis:

(Rudi Saputra)
Ketua Umum PC PMII Kabupaten Karimun 2019-2021

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close