KampusPendidikan

Mengulas “Satu” Karya Sutardji Calzoum Bahri

Kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
Ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
Jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
Kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
Jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
Kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
Aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
Jika jari jemarimu tak bisa memetikku
Ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
Kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
Jika ususmu belum bisa mencerna ususku
Kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
Kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
Aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

 

Daging kita satu arwah kita satu
Walau masih jauh
Yang tertusuk padamu berdarah padaku

 

Sutardji Calzoum Bahri atau yang lebih dikenal sebagai presiden penyair Indonesia merupakan pelopor penyair pada tahun 1970-an. Beliau lahir pada tanggal 24 Juni 1941 di Rengat , Indragiri Hulu, Riau. Beliau dianggap sebagai angin segar bagi dunia penyairan di Indonesia kala itu. Ia mulai aktif didalam bidang sastra pada saat menjadi mahasiswa diumur 25 tahun.

Pada tahun 1971 merupakan pertama kali sajak berjudul “O” diterbitkan dimajalah Horizon. Lalu pada tahun selanjutnya iya menerbitkan “Amuk” pada majalah yang sama dan dikenal sebagai ‘Kredo Puisi’ yang menarik perhatian dunia sastra Indonesia.

Menurut pandangan saya , karya Sutardji Calzoum Bahri yang berjudul Satu memiliki estetika yang unik. Puisi ini menunjukkan tentang kecintaan terhadap sesorang kekasih hati. Sebuah cinta tidak harus dalam bentuk kata yang dilisakan melainkan juga dengan perbuatan. Pada puisi ini menyampaikan hal demikian bahwasanya sebuah cinta harus dilakukan dengan perbuatan yang nyata tidak hanya dilisan saja.  Puisi ini juga menyampaikan apa yang dirasakan oleh sang kekasih juga akan dirasakannya.

Dalam puisi ini juga menjabarkan bahwa cinta itu merupakan sebuah perjalanan. Hal tersebut dapat dilihat dari dari penggunaan kata tubuh hingga semakin dalam kebagian yang lainnya. Yang mengakibatkan adanya hubungan yang semakin erat antara satu dan lainnya.

Terdapat beberapa bagian yang menurut saya puisi ini mempunyai beberapa makna yang negatif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pemakaian kata darah, usus dan kelamin. Menurut pandangan saya hal ini menjabarkan tentang hal hal yang berbau negatif pada diri manusia. Karna pada sejatinya manusia ialah mahluk yang mempunyai sisi gelap disetiap insannya. Dan perlu disadari bahwa tanpa hal tersebut maka seorang manusia tidak bisa dikatakan manusia tanpa ada hal tersebut. Memang benar apa adanya kita diciptakan melalui segumpal darah.

Lebih lanjut, ‘…..Daging kita satu arwah kita satu …Walau masing jauh… Yang tertusuk padamu berdarah padaku…’ merupakan bait yang nilai estetika yang cukup dalam. Jika pasangan sejati akan ikut merasakan suka dan duka yang dialami oleh setiap pasangannya. Hal ini menjadi bagian favorit saya pada puisi yang bertajuk Satu. Dikarenakan makna yang cukup dalam mengenai hal keromantisan terhadap pasangan kita.

Penulis

[ Yoga Andhika Pratama ] Mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji

Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close