Kolom Pembaca

Keturunan Habil atau Qabil …?

Dalam banyak hal, bahkan kadang masih muncul perdebatan dan pertanyaan. Apakah Islam harus mengikuti zaman? Ataukah zaman yang mengikuti islam? Kedua pertanyaan ini hampir sudah lama menjadi perdebatan bahakan saya kira, seharusnya sudah selesai dan final.

Munculnya tokoh-tokoh pembahruan Islam seperti Cak Nur. Ahmad Wahib, Kuntowijoyo, Dawam Rahrjo, Djohan Efendi, Mukti Ali dan lain sebaginya. Memberikan kesegaran pada islam itu sendiri, mereka Lebih menekanakan pada insklusif kemoderanan Islam, tradisional Islam serta relevansi Agama itu sendiri. seperti ungkapan yang terkenal satu ini “setiap zaman punya zamanya sendiri”, maka muncul pertanyan kedua diatas “ataukah zaman yang mengikuti islam?”. Pandangan ini juga tidak salah juga tidak benar dan harus dikoreksi. Tidak benarnya disini iyalah apakah mungkin kita mengunakan onta, kuda, menolak sosial media (whatsap, youtube, instagram, facebook, dan ll), menolak segala bentuk kemajuan yang saya kira padahal mempermudahkan segala urusan manusia, yang tadinya mengunakan onta berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sekarang dengan mudah dan cepat untuk hijrah ke satu tempat ke tempat yang lain.

Bila kita berkaca pada hari ini, kemajuan luar biasa ini adalah kemajuan yang tidak kita temui di zaman rasul. Bahkan bukan berati dizaman rasul juga tidak maju. Justru islam yang dibawak oleh rasulullah adalah  agama yang  kontemporer mempunya visi misi besar dan jauh kedepan (Rahmatan lil alamain). Maka setiap “zaman punya zamanya sendiri-sendiri”.

Dogma Agama

Bila kita membaca Al-Quraan tentu isinya lebih banyak dialektika historis, dimanah lebih banyak diceritakan kisah-kisah sejarah dari nabi- nabi terdahulu. Bila kita menilik satu persatu dari kisah-kisah sejarah didalam Quraan itu sendiri tidak terlepas dari fenomena sejarah “pertentangan kelas” (antar ke-kuasaan vs non-kekuasaan, kauam lemah versus kaum kuat, kaum kapitalisme dan sosialisme dan lain sebagainya).

Seperti sebuah kisah sejarah permulaan. Kelompok yang diwakili Habil adalah kelompok taklukan dan tertindas; yakni, rakyat yang sepanjang sejarah dibantai dan diperbudak oleh sistem Qabil, sistem hak milik indivindu yang memperoleh kemenangan dalam masyarakat. Peperangan antara Habil dan Qabil adalah pertempuran sejarah abadi yang telah berlangsung pada setiap generasi. Panji-panji Qabil senantiasa dikabarkan oleh penguasa, dan hasrat untuk menembus darah Habil telah diwarisi oleh generasi keturunanya, rakyat tertindas yang telah berjuang untuk keadilan, kemerdekaan, dan kepercayaan teguh pada suatu perjuangan yang terus berlanjut pada setiap zaman (Syarifudin 2010: 145; Ali Syariati, 1982). Melihat dualisme yang berseberangan antara penindasan dan yang tertindas kita bertanya, apakah ciri tabiat diatas, kita bagian dari keturunan yang manah? Apakah kita anak cucu Habil ataukah kita adalah bagian dari gen-gen nya qabil?

Islam tidak mengenal yang namanya sitem kapitalisme-individualistik, tapi islam dengan terang menanamkan semangat sosialisme, dimanah dicantumkan dalam bahasa Al-Quraan “setiap rezeki yang diberikan tuhan ada sebgaian rezeki untuk orang lain”. Ini tentu berbeda pula dengan Max Weber dengan Etika Protestan-nya, Adam Smith dengan The Wealth of Nation-nya, dan David Ricardo dengan On The Principles Of Political Economy And Taxation-Nya.  Maka menumpuk kekayaan adalah satu sifat yang amat buruk dan dibenci oleh Tuhan, untuk  itu islam lebih mengenal sistem “sadaqah/Infak”. Tapi memang aneh pada ahkirnya orang yang mencintai rasulnya juga memiliki kehidupan yang sangat mewah dan berkehidupan yang kapitalis, justru sangat bertentangan dengan kehidupan nyata rasulullah. Apakah memiliki harta bergelimang itu tidak boleh? Tentu saja boleh hanya saja lebih baik digunakan untuk beramal jariyah (sedeqah) pendidikan dan pengembangan kualitas manusia (anak yatim piatu, rakyat miskin, serta janda-janda). Namun penulis tidak membahas hal itu lebih dalam.

Dalam hal ini pentingnya memberikan kesadaran kritis bahwa ada hal yang mesti dibedakan antara rasionalitas dan irasionalitas. Dalam hal ini yang dimaksud adalah islam berlaku sangat humanis sebagaimanah rasul menerapkan rasa persamaan (sosialisme) senansib sepenagungan dikala dimusuhi oleh banyak kalangan masyrakat Arab. Sebagai bentuk kepedulian Islam sebagai ajaran yang (Rahmatan lil alamin) yang dibawak langsung rasul adalah ajaran (kesadaran) pembebasan dan anti diskriminatif (kelas-kelas sossial) terhadap ekspolitasi perbudakan dan mengangkat derajat emansipasi wanita. Itu dibuktikan dengan perinsip egaliter juga equality(sejajar) yakni adanya pembebasan bilal bin rabah yang menjadi budak oleh masyrakat abad jahiliyah.

Oleh karna itu, kemunculan nabi Muhammad sebagai utusan Allah membawa kabar gembira dan peringatan kepada manusia khususnya umat Islam, menunjukan bahwa misi islam merupakan misi kemanusiaan dan itu sebagi bukti empiric-historis kehadiran islam sebagai agama yang melindungi, mengayomi, dan membebaskan.

Merujuk hal itu, Islam progesif yang dimaksud penulis adalah islam yang berkemajuan sadar terhadap kehidupan sosial, peduli sosial, dan meneyelesaikan permasalahan sosial dalam banyak hal. Tentu untuk kemajuan rasul menawarkan ajaran yang masuk akal dan rasional, tentu pula tidak dangkal dan sempit. Pandangan islam yang berkemajuan yakni Islam yang terbuka (inklusif) tidak tertutup terhadap ilmu pengetahuan apapun. Bila menilik dengan sungguh-sunguh di dalam Quraan dimanah terdapat ajaran islam sekaligus perintah Tuhan yang menekankan pentingnya ber-iman juga sekaligus pentingnya ber-Ilmu pengetahuan. Ini yang membedakan doktrin ajaran Islam dan ajaran Kristen pada pra-renisains. Namun ahkir-ahkir ini justru kehebatan islam pada massa lalu sangat berbeda jauh diabad millennium sekarang ini. Akibat doktrin Agama yang salah, kaku juga sempit, seolah-olah islam sebatas agama yang mengurus bagaimanah orang mati, tetapi tidak peduli terhadap perjuangan, pembebasan, dan anti diskriminasi trehadap berbagai macam ketimpangan kelas dan lainya.

Bahaya mengabaikan Ilmu pengetahuan (Rasionalitas) dengan doktrin ke-imanan semata yang sering kita dengar “tidak apa kita didunia kalah, diahkirat nantinya kita menang”, “dunia sementara ahkirat selama-lamanya”,”disurga ada terdapat 75 bidadari, cantik-cantik berbeda dengan wanita didunia”. Juga mengangab suatu kemajuan berbahaya bagi ketaatan terhadap Tuhan dan keimanan justru kekeliruan yang fatal. Bahkan arogansi yang meluap-luap atas nama apologian Agama menimbulkan perpecahan antara yang berbeda keyakinan. Itu masih bisa kita jumpaai, Dimanah yang mayoritas muslim melarang pendirian Gereja, juga yang mayoritas Kristen melarang pembangunan musola dan lain stereusnya.

Permasalahan ini membuat manusia Agama ini buta akan kesadaran realitas, bahwa “jihad” melawan orang-orang yang berbeda keyakinan dianggap suatu keharusan, pembenaran-pembenaran Agama yang dianggap kebenaran kian waktu nampak aneh. Tidak menyadari kerusuhan yang terjadi sebenarnya justru menguntungkan pihak elite kekuasan yang mempunyai kepentingan dan niat buruk tertentu. Hal hasil isu Agama sangat digemari oleh kalangan elite politik maupun elite kapitalis, guna ingin mempekeruh keberagaman dan persatuan.

Permasaalahan utama Seringkali dogamtis berupaya menyederhanakan apa yang dianggap benar adalah benar (pragmatis), sedangkan engan untuk mampu otonom dan lebih bijak didalam pikiran, mengolah informasi dengan analisis yang kritis mencarik data yang lebih otentik dan sumber-sumber yang benar. Budaya mendengar(lisan) juga tidak baik, jika tidak sembari dengan budaya membaca tulisan. Kadang-kadang budaya malas membaca buku juga menimbulkan banyak masalah baru. Informasi-informasi di sosial media menjadi asupan yang dicerna ditelan mentah-mentah tanpa dikunyah terlebih dahulu.

Pondasi Filsafat

Filsafat bukan barang baru, juga bukan barang lama yang harus dilupakan begitu saja (ibarat kacang yang lupa pada kulitnya). Sebagai ibu dari segala macam ilmu penegtahuan, filsafat tidak boleh diragukan sebagai titik balik peradaban awal pengetahuan manusia. Suka atau tidak suka, filsafat sering dianggap menjadi ancaman bagi pemeluk Agama, lantaran sering membongkar kesemuan/irasional tehadap praktik-praktik pemuka Agama.

Filsafat tidak mengajarkan ke-praktisan yang pragmatis dari serapan ilmu pengetahuan. Filsafat sering mempertanyakan juga menyangkal sesutau hal yang dinilai cara berpikir yang dianggap belum tepat. Tentu filsafat mempunyai kerangka/metode tertentu sebagai pisau bedah ilmu pengetahuan. Menurut Bambang Sugiharto dalam buku Posmodernismenya; Bila kita bicara dari sudut filsafat, maka karakter yang khas dalam moderenisme adalah, bahwa ia selalu berusaha mencarik dasar segala penegetahuan (episteme, wissenschaft) tentang “apa” nya (ta onta) realitas, dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui itu sendiri (dipahami secara psikologis maupun transendetal). Lanjutnya, disana diharap ditemukan kepastian mendasar bagi pengetahuan kita tentang realitas itu, realitas yang biasanya dibayangkan sebagai “realitas luar”. Kepastian itu persisnya terdapat dalam hukum logika. (Bambang:33).

Dalam hal ini filsafat memang melatih kita cara berpikir benar juga bijaksana, atas pergulatan-pergulatan analitis yang mendasar dan paling ontologis. Meskipun kadang kala sedikit madness(kegilaan) dan mengejutkan bagi banyak orang dengan pertanyan-pertanyan yang filosopis. Tentu pemahaman ini mesti didukung lengkap dengan epistemology sebgai basis pengetahuan dan literature yang ragam untuk menjadi penyangah bagi filsafat ilmu itu sendiri.

Pemhaman agama yang tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan. Atau pencahrian-pencahrian cenderung pragmatis dan juga mudah dogamatis. Dilemma ini, menjadikan sesorang yang beragama ketergantungan pada apa yang sesuatu, yang seharusnya disaring kembali terhadap khutbah agama yang cenderung satu arah. Hal itu Juga tentu baik, juga tentu tidak melulu baik bahkan berbahaya bagi kedaulatan pikiran. Munculnya kaum konservatif yang juga malas membaca dan berpikir, memang gampang ter-ilusi akan keimanan dan harapan-harapan semu yang fantasi dan tak menginjak bumi.  Tehhadap jawaban fenomena-fenomena baru akan dianggap sesuatu yang bidaah. Apa lagi sampai berpikir dunia adalah ancaman yang nyata bagi kesalehan dan keimanan. Tidak terlepas munculnya teroris agama khususnya di indonesia berasal dari rendahnya tingkat pendidikan, kemiskinan, serta ketimpangan terhadap individu/kelompok tertentu.

Untuk itu. Bagi Aristoteles, pengetahuan yang betul-betul ilmiah tentang kebenaran adalah filsafat. Filsafat adalah pengungkapan dari sang logos alias sang kebenaran, sebab filsafat bicara tentang kenyatan dalam segi esensi umumnya. Demikian Aristoteles memang meyakini bahwa filsafat adalah wacana yang bersifat logis ketat.(Bambang:123)

Maka, filsafat Sangat dibutuhkan diera sosmed yang digadang-gadang sebagai era post-truth.  filsafat melatih kita cara berpikir yang baik dan benar serta jujur. Melihat sesutau yang tidak texstuel semata, juga harus melihat kontexstual(asbabunuzul) yang menjadi kongkret dalam pergulatan dialektika. Sebagai manah firman Tuhan ada baiknya ketika mendengar suatu berita harus didahulukan tabayun(diteliti) terlebih dahulu. Sebagai manah tema diatas, siapakah asal kita dan bagian dari keturunan gen-gen Habil-kah atau Qabil?

Pustaka :

  • Syarifuddin, “Sosiologi islam & masyrakat modern”, Penerbit Kencana,2010.
  • Bambang, “Postmodernisme. Tantangan Bagi Filsafat”, Penerbit Pustaka filsafat, 2016.
Tags
Show More
Kepriwebsite

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close