Masa Depan Kota Tanjungpinang ‘’Smart City’’

Tanjungpinang adalah ibu kota dari provinsi kepulauan riau,indonesia .kota ini terletak di kota bintan dan beberapa pulau kecil seperti Dompak dan Pulau Penyengat, . Kota Tanjungpinang dahulunya adalah pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Sebelum dimekarkan menjadi kota otonom, Tanjungpinang adalah Ibu kota Kabupaten Kepulauan Riau (sekarang Kabupaten Bintan). Kota ini juga awalnya adalah ibukota Provinsi Riau (meliputi Riau daratan dan kepulauan) sebelum kemudian dipindahkan ke Kota Pekanbaru.

Kota ini memiliki cukup Pelabuhan Laut Tanjungpinang di Sri Bintan Pura memiliki kapal-kapal jenis feri dan feri cepat (speedboat) untuk akses domestik ke pulau Batam dan pulau-pulau lain seperti Kepulauan Karimun dan Kundur, serta kota-kota lain di Riau. Pelabuhan ini juga merupakan akses internasional ke Malaysia dan Singapura.banyak daerah pariwisata seperti Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang lebih 2 mil dari Pelabuhan Sri Bintan PuraPantai Trikora dengan pasir putihnya terletak kurang lebih 65 km dari kota, dan Pantai Buatan yaitu Tepi Laut yang terletak di garis pantai pusat kota sebagai pemanis atau wajah kota (waterfront city).

  1. Sistem Pendidikan.
    Di dunia pendidikan sangat lah penting dari program smart city. Seperti karakteristik masyarakat perkotaan lainnya, penggunaan internet dan media sosial telah menjadi bagian dan gaya hidup masyarakat perkotaan seperti Kota Tanjungpinang.Keterampilan untuk menggunakan berbagai aplikasi teknologi informasi yang terus berkembang, penggunaan ponsel cerdas juga telah melekat dan menjadi kebutuhan sekunder dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Tanjungpinang. Dengan fakta tersebut, sangat wajar jika Pemerintah Kota Tanjungpinang mulai menyusun konsep pembangunan smart city.

    Gubernur Provinsi Kepri Nurdin Basirun  menekankan pentingnya peningkatakan kualitas pendidikan . Menurutnya, tiada investasi lain selain memajukan pendidikan agar mampu bersaing, mengambil peluang dalam rangka pembangunan.”Kesuksesan pembangunan tidak hanya bersumber dari sumber daya alam saja tapi juga sumber daya manusia, sebagai penggerak semua elemen yang ada dalam membangun wilayah kepulauan Riau,” kata Nurdin.

    Nurdin berpesan kepada para pelajar, untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Kesempatan mereka saat ini adalah mengeyam pendidikan semaksimal mungkin sebagai bekal menghadapi era modernisasi

  2. Sistem Ekonomi
    Namun ia tidak menafikan sejak tahun 2016 hingga sekarang terjadi perlambatan perekonomian di Tanjungpinang, yang disebabkan berbagai faktor seperti ekonomi global maupun nasional yang saat ini mengalami kelesuan.Pada tahun 2016 terjadi perlambatan pertumbuhan perekonomian hingga 5,08 persen, padahal setahun sebelumnya mencapai 5,99 persen.Meski demikian pertumbuhan tersebut tetap berada di atas pertumbuhan ekonomi Kepri yaitu 5,03 persen dan pertumbuhan ekonomi nasional yaitu 5,02 persen.

    Untuk memajukan perekonomian tanjung pinang masa yang akan  mendatang. menggerakkan ekonomi tanjungpinang dengan melestarika cagar budaya dan situs-situs bersejarah yang ada di Tanah Melayu. peninggalan sejarah seperti makam para Raja, bangunan-bangunan bersejarah, ini yang harus dirawat dan tonjolkan untuk dikenalkan ke dunia luar sebagai kekayaan sejarah budaya Melayu,Inilah modal kita untuk menggali dan menggembangkannya menjadi potensi kekayaan Tanjungpinang yang sekarang menjadi pusat Pemerintahan Tujuh kabupaten/kota di Kepulauan Riau. Jika ini bisa kita wujudkan yang tentunya bersama masyarakat, kekayaan situs sejarah ini akan kita wariskan untuk generasi berikutnya.

    Dengan menggali,melestarikan dan  mengenalkan cagar budaya dan situs bersejarah yang ada di Tanjungpinang, baik di dalam maupun ke luar neger cagar budaya tersebut akan banyak menarik keinginan masyarakat untuk melihat dan mengunjunginya. Sehingga, potensial mendatangkan tamu-tamu dalam dan luar negeri yang tentu akan meningkatkan kunjungan pariwisata.

  3. Perkembangan Pangan Sektor Kelautan.
    Kita paham bahwa Kepulauan Riau adalah provinsi kepulauan dengan luas lautan mencakup 96 % (252.601 km2) dari total wilayahnya sehingga secara alami Kepri memiliki sumberdaya kelautan yang apabila dikembangkan dengan baik dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dengan pendekatan « Blue Economy ». Blue economy atau ekonomi biru didefinisikan dengan pemanfaatan sumberdaya kelautan untuk meningkatkan ketahanan pangan, meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat, mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan pekerjaan, menghasilkan energi alternatif baru terbarukan, meningkatkan perdagangan dan industri kelautan dan melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati (biodiversity).

    Merikanan budidaya data yang ada mengindikasikan rendahnya jumlah produksi budidya ikan dibandingkan jumlah produksi hasil perikanan tangkap yakni sebesar 27.366 ton. Salah satu kendala utama dari lambatnya pengembangan perikanan budidaya adalah terbatasnya akses terhadap benih dan pakan ikan bagi kegiatan budidaya.Untuk industri pengolahan ikan di Kepri, ketidaktersediaan bahan baku serta adanya penurunan kualitas lingkungan akibat pencemaran menyebabkan produksi raw material seperti rumput laut dari jenis Eucheuma cottonii menurun.

    Selain itu perlu juga didorong induksi teknologi di sektor hulu dan hilir perikanan di Kepri untuk mempercepat pertumbuhannya. Jelas bahwa upaya yang harus dilakukan adalah menyediakan infrastruktur dan sarana prasarana pendukung seperti TPI dan SPBN, meningkatkan kualitas infrastruktur dan sarana pendukung pengembangan sektor perikanan, menyediakan teknologi pengolahan produk dan pasca panen serta membangun pelabuhan perikanan. (iii). Regulasi dan finansial.

Ditulis Oleh : Nurani (160569201053)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: