
Oleh Nur Eka Kusuma Hindrasti
Mahasiswa S3 Pendidikan IPA UNS
Subtema: Pendidikan dan Pengembangan SDM | Industri dan Teknologi; Energi dan Lingkungan; Gagasan Baru Menuju 2045
Sebuah paradoks tengah berlangsung di hadapan kita. Korea Selatan, negara yang mengubah reruntuhan pascaperang menjadi kekuatan teknologi hijau dunia, kini menjadi mitra strategis komprehensif khusus Indonesia. Namun kemitraan teknologi secanggih apa pun akan mandek jika generasi yang mewarisinya belum terbiasa berpikir dengan nalar sains: mengamati, mengukur, menguji, dan memperbaiki. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia dan Korea Selatan perlu bekerja sama, melainkan apakah kerja sama itu akan menyentuh akar persoalan, yaitu kapasitas siswa Indonesia untuk menggunakan sains dalam memecahkan masalah nyata, atau berhenti sebagai simbol diplomatik di atas kertas.
Mengapa Kemitraan Ini Strategis
April 2026 menjadi titik balik hubungan bilateral Indonesia–Korea Selatan, ketika kedua negara menyepakati peningkatan status menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership. Peningkatan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih konkret di bidang pendidikan, inovasi, dan teknologi, melampaui kerja sama ekonomi dan pertahanan yang selama ini mendominasi narasi hubungan kedua negara.
Momentum ini relevan karena keduanya memiliki kebutuhan yang saling melengkapi. Korea Selatan membutuhkan pasar dan mitra kolaborasi riset untuk memperluas ekosistem teknologi hijaunya di Asia Tenggara, sementara Indonesia membutuhkan percepatan kapasitas SDM sains sebagai fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Data PISA 2025 dari OECD menunjukkan kesenjangan capaian kompetensi sains yang masih mencolok: hanya sekitar 37% siswa Indonesia mencapai setidaknya Level 2 dalam sains, jauh di bawah Korea Selatan yang mencapai 86%. Angka ini bukan bukti bahwa sistem pendidikan Korea harus disalin mentah-mentah ke Indonesia, melainkan sinyal bahwa Indonesia memerlukan model pembelajaran sains yang lebih aplikatif, dan Korea memiliki pengalaman panjang dalam membangun model tersebut. Kemitraan pendidikan sains, karenanya, bukan sekadar bantuan teknis, melainkan investasi dua arah yaitu Indonesia memperoleh akselerasi kapasitas, Korea memperoleh mitra riset dan pasar inovasi hijau jangka panjang.
Analisis Kesenjangan dan Peluang
Persoalan kompetensi sains Indonesia bukanlah soal kurangnya materi kurikulum, melainkan putusnya hubungan antara konsep yang diajarkan di kelas dan praktik memecahkan masalah nyata. Siswa diperkenalkan pada konsep ekosistem, siklus karbon, atau pengelolaan limbah secara teoretis, tetapi jarang diberi kesempatan merancang solusi berbasis data terhadap persoalan lingkungan di sekitar mereka. Akibatnya, sains berhenti menjadi hafalan, bukan alat berpikir.
Kesenjangan ini perlu dibaca secara proporsional. Tidak semua sekolah di Indonesia mengalami persoalan yang identik. Sekolah di kota besar dengan akses laboratorium dan internet tentu berada pada posisi berbeda dibanding sekolah di daerah 3T. Namun satu benang merah dapat ditemukan pada hampir semua jenjang bahwa minimnya model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang terhubung dengan isu lingkungan dan industri hijau yang nyata, terukur, dan relevan secara lokal (berdasarkan data pribadi yaitu rata-rata sekitar 14,5%). Celah inilah yang tepat diisi oleh kemitraan Indonesia–Korea Selatan, bukan dengan mengimpor kurikulum Korea secara utuh, tetapi dengan mengadaptasi pendekatan pembelajaran sains berbasis proyek dan inkuiri, salah satu kekuatan pendidikan STEAM Korea, ke dalam konteks persoalan lingkungan khas Indonesia, seperti pengelolaan sampah organik, energi terbarukan skala sekolah, dan konservasi air.
Solusi Utama dan Mekanisme Pelaksanaan
Saya mengusulkan Jembatan Sains Hijau Indonesia–Korea (Indonesia–Korea Green Science Bridge), sebuah model kemitraan tiga lapis yang menghubungkan sekolah, kampus, dan industri hijau.
Pelaksana. Program ini dijalankan oleh konsorsium tiga pihak yaitu lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) di Indonesia sebagai penyedia metodologi pembelajaran dan pelatihan guru, universitas atau institusi riset sains-lingkungan Korea Selatan sebagai mitra pengembangan modul dan mentor teknis, serta pemerintah daerah bersama industri hijau lokal (pengelolaan limbah, energi terbarukan) sebagai penyedia studi kasus nyata dan tempat magang mini bagi siswa.
Kegiatan inti. Tiga aktivitas berjalan paralel: (1) pelatihan guru dalam merancang pembelajaran sains berbasis inkuiri dan proyek, mengadaptasi pendekatan STEAM Korea ke konteks lokal, seperti konteks eco enzyme dalam pendidikan sains, yang berdasarkan hasil telaah 32 penelitian empiris oleh Hindrasti et al. (2026) menunjukkan bahwa seluruhnya berasal dari Indonesia; (2) inkubator riset siswa, di mana kelompok siswa SMA misalnya, mengerjakan proyek investigasi lingkungan dan energi terbarukan terstruktur, misalnya mengukur volume dan komposisi sampah organik sekolah, membandingkan opsi pengolahan (kompos, biogas, maggot, eco enzyme), menghitung biaya-manfaat, dan menyusun rekomendasi berbasis data; (3) program mentoring jarak jauh oleh praktisi teknologi hijau Korea melalui sesi virtual berkala, menghubungkan siswa dengan standar industri nyata.
Tahapan uji coba. Tahun pertama: pilot di 10 sekolah pada dua wilayah dengan persoalan lingkungan berbeda (urban dan pesisir). Tahun kedua: evaluasi dan perluasan ke 50 sekolah, dengan penyempurnaan modul berdasarkan temuan pilot. Tahun ketiga: integrasi modul ke dalam penguatan kompetensi guru IPA tingkat nasional melalui kerja sama dengan Kemendikdasmen, sehingga dampaknya tidak berhenti pada proyek percontohan.
Indikator keberhasilan dan evaluasi. Keberhasilan diukur melalui tiga indikator: peningkatan skor asesmen kompetensi sains berbasis proyek pada siswa peserta (dibandingkan kelompok kontrol), jumlah proposal solusi siswa yang diuji coba nyata di sekolah atau komunitas, dan jumlah guru yang mengadopsi metode ini secara mandiri setelah program berakhir. Evaluasi dilakukan melalui penilaian portofolio proyek, survei pra-pasca pada guru dan siswa, serta studi lacak (tracer study) terhadap sekolah pilot setelah satu tahun program berakhir, untuk memastikan perubahan bersifat berkelanjutan, bukan sekadar seremonial.
Penutup
Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus Indonesia–Korea Selatan akan diingat bukan dari seremoni penandatanganannya, melainkan dari apa yang tumbuh sesudahnya di ruang-ruang kelas yang jauh dari pusat kekuasaan. Jembatan Sains Hijau yang diusulkan dalam esai ini dapat diintegrasikan dengan program adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup dan pada prinsipnya menegaskan bahwa kemitraan sejati bukan sekadar transfer teknologi dari satu negara maju ke negara berkembang, melainkan penguatan kapasitas manusia untuk berpikir, menguji, dan mencipta bersama. Ketika seorang siswa di sekolah pesisir mampu merancang solusi pengelolaan sampah berbasis data, dan seorang siswa lain di Korea Selatan belajar dari persoalan nyata Indonesia, keduanya sedang membangun fondasi yang sama: generasi yang memandang sains bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai cara memecahkan masalah dunia. Itulah wajah konkret dari kemitraan menuju 2045, dari ruang kelas menuju inovasi hijau.
Referensi
- Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. (2026). Joint Statement on the Establishment of a Special Comprehensive Strategic Partnership between the Republic of Korea and the Republic of Indonesia. https://kemlu.go.id/id/seoul/berita/joint-statement-on-the-establishment-of-a-special-comprehensive-strategic-partnership-between-the-republic-of-korea-and-the-republic-of-indonesia
- OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I and II): Country Notes – Korea. https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/korea_4e0cc43a-en.html
- Hindrasti, N.E.K., Sajidan, S. & Masykuri, M. (2026) Eco enzyme in science education: a systematic literature review from a Subject-Specific Pedagogy perspective. Discov Educ 5(1), 1202. https://doi.org/10.1007/s44217-026-02337-5





