Batam

Defri Paparkan Masa Depan Industri Batam Berbasis AI dan Otomasi di Pameran Internasional EMAX & BMAX Expo 2026

BATAM, Lihatkepri.com – Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing industri manufaktur di tengah perubahan teknologi global. Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), robotika, otomasi, dan Internet of Things (IoT) diperkirakan semakin memengaruhi pola produksi, efisiensi operasional, hingga arah investasi industri.

Isu tersebut disampaikan Defri dalam ajang internasional Electronics Manufacturing Expo (EMAX) Indonesia dan Batam Smart Manufacturing & Automation Expo (BMAX) 2026 di Radisson Golf & Convention Center Batam, Jumat (30/10/2026).

Dalam forum yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 itu, Defri membawakan materi bertajuk Digital Transformation & Technological Innovation Through Automation, Robotics, AI & IoT.

Defri merupakan Director PT MES Teknologi Indonesia sekaligus VMES 4.0 dan Chairman of Standing Committee on Industry 4.0, Artificial Intelligence (AI), and Smart Business KADIN Kepulauan Riau.

Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa transformasi digital tidak cukup dilakukan dengan mengganti mesin konvensional menjadi mesin otomatis.

Perubahan juga harus mencakup integrasi sistem produksi, pengelolaan data, proses bisnis, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Menurut Defri, integrasi Programmable Logic Controller (PLC), Human Machine Interface (HMI), sensor, Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), Manufacturing Execution System (MES), dan AI memungkinkan perusahaan membangun sistem smart manufacturing.

Teknologi tersebut dapat digunakan untuk memantau produksi secara real-time, mendeteksi gangguan lebih awal, mengidentifikasi cacat produk, serta membantu manajemen mengambil keputusan berdasarkan data operasional.

“Batam memiliki posisi strategis dalam peta investasi industri nasional maupun regional karena didukung lokasi geografis, kawasan industri, serta kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia. Namun, keunggulan lokasi saja tidak lagi cukup. Investor ke depan akan semakin mempertimbangkan kesiapan ekosistem industri, infrastruktur digital, kualitas sumber daya manusia, kemampuan integrasi teknologi, dan efisiensi proses produksi,” ujar Defri.

Ia menilai, perkembangan industri manufaktur global semakin mengarah pada penggunaan predictive maintenance, machine vision, analitik produksi, dan kolaborasi manusia dengan robot.

Perubahan ini menuntut perusahaan untuk tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat kemampuan penguasaan teknologi dan pengelolaan data.

“Batam tidak boleh hanya menjadi lokasi investasi dan tempat berlangsungnya aktivitas produksi, tetapi harus mampu berkembang menjadi bagian penting dari rantai nilai industri regional. Kita perlu meningkatkan kemampuan teknologi dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Defri juga memperkenalkan kapabilitas VMES 4.0 dalam bidang otomasi industri, robotika, IoT, SCADA, sistem monitoring industri, otomatisasi pergudangan, building automation, serta solusi manufaktur elektronik berbasis SMT.

Selain pengembangan solusi teknologi, VMES 4.0 menyediakan program pelatihan teknis di bidang PLC-HMI, hidrolik-pneumatik, motor-servo, sensor, robotika, smart manufacturing, dan energi terbarukan.

Menurut Defri, pengembangan teknologi industri perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Investasi teknologi tanpa kesiapan tenaga kerja berpotensi tidak menghasilkan manfaat optimal.

“Masa depan industri Batam tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar investasi yang masuk, tetapi juga oleh kemampuan kita menguasai teknologi, membangun inovasi, dan menyiapkan sumber daya manusia yang kompetitif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perusahaan dapat memulai transformasi digital melalui identifikasi hambatan produksi, penentuan indikator kinerja, pelaksanaan proyek percontohan, integrasi sistem, dan perluasan penerapan teknologi berdasarkan hasil evaluasi.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Start Small, Integrate Smart, Scale with Confidence yang diperkenalkan VMES 4.0.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, penyedia teknologi, dan institusi pendidikan diperlukan agar Batam dapat memperkuat ekosistem manufaktur cerdas serta meningkatkan daya saingnya di pasar regional dan global.

Tags
Show More
Kepriwebsite

Leave a Reply

Close