
Oleh: Nur Eka Kusuma Hindrasti
Mahasiswa S3 Pendidikan IPA UNS
Subtema: Pariwisata | Energi dan Lingkungan | Gagasan Baru Menuju 2045
Akhir pekan keluarga Indonesia kini punya ritual yang hampir seragam: berangkat ke mal, menghabiskan uang untuk makanan olahan berkemasan plastik, pulang membawa kantong belanja, dan sama sekali tidak membawa pulang pengetahuan tentang dari mana pangan mereka berasal. Padahal di saat yang sama, kita sedang dihantam dua krisis sekaligus, yaitu krisis pangan keluarga yang kian bergantung pada rantai pasok panjang dan rentan terhadap guncangan harga, serta krisis energi yang membuat biogas, listrik, dan gas elpiji menjadi beban rumah tangga yang terus membengkak. Pertanyaannya sederhana: mengapa kita tidak mengubah arah liburan keluarga, dari mal menuju kebun?
Di Klaten, Jawa Tengah, ada contoh kecil yang menjawab pertanyaan itu. Yosofarm adalah salah satu dari sekian pegiat pertanian yang mengubah lahan pertanian menjadi ruang belajar, tempat keluarga kota bisa melihat langsung bagaimana sayur ditanam tanpa bergantung penuh pada pupuk kimia, bagaimana limbah dapur bisa menjadi kompos, dan bagaimana pangan sehat sesungguhnya tidak harus mahal dan tidak harus menempuh perjalanan ratusan kilometer sebelum sampai ke meja makan. Yosofarm dan ribuan pegiat serupa di seluruh Indonesia sesungguhnya adalah aset bangsa yang belum dikelola secara serius. Mereka berjalan sendiri-sendiri, mengandalkan media sosial, tanpa jaringan, tanpa standar mutu edukasi, dan tanpa dukungan kebijakan yang memadai.
Pelajaran dari Negeri Ginseng
Korea Selatan telah lebih dulu menjawab persoalan yang sama dengan cara yang sistematis. Pemerintah melalui lembaga pengembangan pedesaannya membina dan mengkurasi puluhan hingga ratusan peternakan dan pertanian keluarga menjadi “gyoyuk-cheheom nongjang”, pertanian edukasi dan wisata pengalaman, yang memanfaatkan hasil bumi lokal seperti padi, stroberi, bunga, hingga makanan tradisional petani sebagai bahan program belajar langsung bagi anak sekolah dan keluarga urban. Program ini lahir dari kebutuhan ganda yang sama persis dengan Indonesia hari ini: memberi jeda bagi warga kota dari rutinitas, sekaligus menahan laju penurunan pendapatan petani di pedesaan yang menua.
Yang membedakan Korea bukan semangatnya, karena semangat yang sama juga dimiliki para pegiat di Indonesia, melainkan keberanian negaranya untuk mengubah gerakan akar rumput menjadi sistem nasional yang terstandardisasi, didampingi, dan dipromosikan secara terpadu. Di sinilah peluang kemitraan Indonesia–Korea Selatan menemukan bentuknya yang paling membumi: bukan transfer teknologi canggih yang mahal, melainkan transfer cara mengorganisasi semangat rakyat menjadi gerakan nasional.
Gagasan: Jalur Eduwisata Dapur Mandiri Indonesia–Korea
Saya mengusulkan sebuah gagasan konkret: Jalur Eduwisata Dapur Mandiri, sebuah jaringan nasional yang mengurasi dan menstandardisasi kebun-kebun edukasi seperti Yosofarm menjadi satu rute wisata keluarga yang terintegrasi dengan tiga pesan sekaligus, yaitu pangan lokal, hemat energi, dan ramah lingkungan.
Mekanismenya dapat dijalankan dalam tiga langkah. Pertama, kurasi dan pendampingan mutu. Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pertanian bekerja sama dengan lembaga pengembangan pedesaan Korea Selatan untuk membina sepuluh kebun edukasi percontohan di berbagai provinsi, termasuk kebun sekelas Yosofarm, agar memiliki kurikulum kunjungan yang jelas, bukan sekadar tempat berfoto. Setiap kebun dilengkapi tiga modul wajib: menanam dan mengolah pangan lokal tanpa pestisida berlebihan, mempraktikkan teknologi hemat energi skala rumah tangga seperti biogas dari limbah dapur dan ternak atau panel surya mini untuk pompa air kebun, serta kelas keluarga untuk membawa pulang bibit dan resep sederhana menata pekarangan sendiri, selaras dengan program Pekarangan Pangan Lestari yang sudah berjalan di banyak daerah.
Kedua, paket wisata keluarga lintas negara. Biro perjalanan kedua negara merancang paket kunjungan timbal balik, keluarga Indonesia berkunjung ke pertanian edukasi Korea untuk belajar efisiensi energi pertanian empat musim, dan keluarga Korea berkunjung ke jalur eduwisata Indonesia untuk belajar keragaman pangan tropis dan kearifan pekarangan Nusantara. Pertukaran ini membuka devisa pariwisata baru sekaligus membangun hubungan masyarakat yang jauh lebih dekat dibanding kunjungan resmi antarpejabat.
Ketiga, integrasi ke pendidikan dan kebijakan. Kunjungan ke kebun dalam jalur ini dijadikan bagian dari kurikulum muatan lokal sekolah dasar dan menengah tentang gizi, energi, dan lingkungan, serta dimasukkan ke dalam peta destinasi resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sehingga setiap kebun memperoleh promosi dan pendampingan berkelanjutan, bukan hanya proyek seremonial yang berhenti setelah peresmian.
Mengapa Ini Penting bagi Kesejahteraan
Jika gagasan ini berjalan, manfaatnya mengalir ke tiga arah sekaligus. Bagi keluarga pengunjung, mereka pulang bukan hanya dengan foto, melainkan dengan keterampilan nyata mengelola pekarangan dan energi rumah tangga, sehingga ketahanan pangan keluarga tidak lagi menjadi slogan, melainkan praktik harian. Bagi petani dan pegiat seperti Yosofarm, eduwisata membuka sumber pendapatan baru di luar hasil panen yang harganya naik turun, sekaligus memberi mereka jaringan dan pengakuan yang selama ini tidak dimiliki. Bagi kedua negara, kemitraan ini membuktikan bahwa hubungan strategis komprehensif khusus Indonesia–Korea Selatan tidak hanya berbicara soal investasi besar dan teknologi tinggi, tetapi juga mampu menyentuh hal paling mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu apa yang kita makan dan dari mana energi yang memasaknya berasal.
Penutup
Krisis energi dan krisis pangan keluarga tidak akan selesai dengan subsidi semata, melainkan dengan mengubah kebiasaan, dan kebiasaan paling mudah diubah lewat pengalaman langsung, bukan ceramah. Yosofarm telah menunjukkan arahnya di Klaten, Korea Selatan telah menunjukkan bagaimana menskalakannya menjadi sistem nasional. Yang kita butuhkan sekarang bukan lagi contoh baru, melainkan keberanian untuk menghubungkan keduanya. Jika liburan keluarga Indonesia pelan-pelan bergeser dari mal menuju kebun, maka kita sedang menanam fondasi ketahanan pangan dan energi yang jauh lebih kokoh daripada proyek besar mana pun, satu keluarga, satu pekarangan, pada satu waktu.
Referensi
- Yosofarm Klaten. [Akun Instagram resmi]. https://www.instagram.com/yosofarm/
- Gimje City Agricultural Technology Center. (2021). Pembinaan Pertanian Edukasi dan Wisata Pengalaman Pedesaan Korea Selatan. https://www.jjan.kr/articleAmp/20210512732112
- Badan Pangan Nasional Republik Indonesia. Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).
- Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (2026). Indonesia and ROK Reaffirm Strategic Partnership at State Luncheon in Seoul. https://setkab.go.id/5v1i







