KolomShahril Budiman, S.Sos., MPM

Social “Ekonomi” Distancing

Teruntuk seluruh tenaga medis dan elemen-elemen yang sedang berjuang melawan covid-19 semoga diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menghadapi tantangan ini. Kerjasama kita didalam “Social Distancing” mesti sama-sama dipatuhi agar penyebaran tidak massive terjadi. Kita tidak ingin kehidupan masyarakat terguncang hebat tanpa batas waktu begitu juga kondisi ekonomi, sosial kemasyarakatan kita.

Goncangan Ekonomi Masyarakat

Tidak dapat dipungkiri dalam rangka menekan jumlah penyebaran dari wabah Covid-19 saat ini akan memberikan dampak terhadap kondisi dunia usaha baik itu sektor industri maupun yang lainnya. Sektor yang tidak kalah penting saat ini juga sektor UMKM dan sektor informal yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Goncangan terhadap perekonomian masyarakat merupakan konsekuensi logis dari fluktuasi laba dan rugi akan memberikan dampak terhadap kondisi ekonomi kedua sektor ini, belum lagi jika nantinya social distancing tidak dipatuhi maka bukan tidak mungkin pemberlakukan pembatasan pergerakan lewat mekanisme “Lckdown” dapat diambil sebagai pilihan akhir pemerintah. Akibatnya pasti sektor-sektor ini mesti “merumahkan” usahanya untuk sementara. Pekerja harian yang penghasilannya didapatkan dari usaha hariannya memang perlu jadi perhatian dari pemerintah, maklumat yang disampaikan pemerintah sebagai himbauan pembatasan pergerakan mesti dibarengi dengan rekondisi terhadap penyusunan belanja pemerintah terutama alokasi anggaran penanganan medis dan juga non medis seperti perekonomian masyarakat misalnya dengan paket kebijakan ekonomi “insentif ekonomi rakyat”.

Insentif Ekonomi Rakyat

Dengan keadaan force majeure yang dihadapi tidak hanya oleh masyarakat namun juga pemerintah saat ini memang fokus anggaran mesti ditelaah ulang terutama program-program serta kegiatan” yang dapat dialihkan untuk pembentukan solusi bencana non ala mini. Koreksi tidak hanya pada persoalan angka pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal pertama di tahun 2020 ini dapat saja menunjukkan hasi lyang tidak akan menggembirakan. Namun insentif terhadap dunia usaha dengan cara memberikan keringanan pajak terhadap dunia usaha akan mengurangi beban ekonomi. Dilain pihak insentif yang sama mesti diberikan kepada sektor UMKM dan informal beserta pekerja harian ini. pada tataran penyelenggaraan pemerintahan disini peran legislatif dan eksekutif sangat vital. Ditambah lagi landasan hukum baru yang mesti “melanggengkan” beberapa peraturan yang bisa saja dikemudian hari menjadi polemik hukum ketika pemerintah daerah melakukan serangkaian inovasi pembiayaan kepada masyarakat dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi. Realokasi anggaran APBN, APBN Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota terhadap pelayanan kesehatan tentu menjadi fokus utama pemerintah, ini melihat bagaimana kondisi pandemic covid-19 sekedar untuk test saja harganya cukup membuat masyarakat kelas menengah kebawah akan merogoh kantong begitu dalam. Keberlanjutan ekonomi akan menjadi kunci utama, menyisir kembali anggaran pemerintah secara internal oleh pemerintah daerah mesti dilakukan. Ini juga mesti didorong dengan forum CSR yang ada untuk dapat memberikan dukungan materil kepada pemerintah.

 Manajemen Krisis Bencana Non Alam

Kota yang tangguh adalah kota yang memiliki kemampuan untuk menyerap, memulihkan, dan mempersiapkan diri menghadapi guncangan di masa depan (ekonomi, lingkungan, sosial & kelembagaan). Kota-kota tangguh mempromosikan pembangunan berkelanjutan, kesejahteraan dan pertumbuhan inklusif. Jika melihat kondisi hari ini tentu saja membuat kita sama-sama mesti reorientasi pembangunan wilayah terutama aspek ketahanan kota yang salah satunya mengarah bagaimana manajemen krisis bencana non alam seperti yang kita hadapi saat ini. Efek terhadap ketersediaan barang-barang kesehatan saat ini menjadi PR bagi pemerintah terutama rantai produksi maupun juga distribusi. Dibeberapa daerah bahkan kekhawatiran terhadap bahan pokok tak luput juga dari perhatian ketika “Panic Buying”. Kondisi ini memberikan dampak terhadap akses konsumsi masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah, ketika barang-barang yang menjadi kebutuhan dasar perlindungan diri tidak lagi tersedia maupun sangat sulit ditemukan diperedaran. Manajemen krisis ini perlu disikapi kedepannya terutama bagaimana ketahanan suatu wilayah didalam menghadapi persoalan bencana non alam. Kerentanan wilayah yang tidak sebagai wilayah produksi pangan, tidak terdapat industri kesehatan saat ini rentan menghadapi covid-19, didaerah kepulauan tentu akan menyulitkan kehidupan masyarakatnya. Formulasi kebijakan “resilience city” mesti dimasukkan didalam agenda penyusunan kebijakan didaerah sebaga mitigasi bencana alam maupun non alam yang selama ini luput dari perhatian bersama. Disamping itu juga edukasi pribadi masyarakat penting dilakukan sebagaimana yang dialami saat ini bagaimana keterbatasan stok tidak dibarengi dengan “bijak berbelaja” oleh masyarakat kita didalam manajemen krisis ini. harga-harga alat perlindungan diri minimal sudah berada pada tahap ketidakwajaran, tidak hanya itu ketersediaannya di tengah-tengah pasar sangat langka. Peran aparat keamanan untuk mendeteksi terhadap oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab apabila ditemukan penumpukan barang kebutuhan kesehatan maupun pangan perlu ditindak tegas.

Bersama Cegah Penularan

Sudah begitu banyak himbauan untuk menekan angka penyebaran covid-19 baik dari pemerintah diberikan kepada masyarakat, namun persoalannya adalah bagaimana kita bersama dapat patuh terhadap segala himbauan itu. Belajar dari beberapa masyarakat di beberapa negara yang tidak patuh himbauan pemerintah efek yang ditimbulkan begitu massive penularan terjadi sehingga kewalahan tenaga medis mengatasinya. Keterbatasan fasilitas dan tenaga medis mesti menjadi pertimbangan kita bersama didalam menghadapi covid-19 ini. Tujuan dari social distancing saat ini adalah mengurangi kegiatan-kegiatan yang berkontak secara langsung sehingga dapat menekan penyebaran. Korban sudah berjatuhan baik masyarakat maupun tenaga medis. Semua berduka namun ada juga yang masih bersuka ria diluar sana dengan tidak mengindahkan arahan yang diberikan. Apa yang ditunggu? Kematian massal? Apakah kita masih sepele dan mengolok-olok wabah ini? sungguh egois sekali kita sebagai “makhluk sosial” ini. bersama kita melawan wabah ini dengan melakukan arahan dengan tidak mengurangi kualitas silaturahmi, pekerjaan serta kegiatan lainnya.

 

Penulis

Shahril Budiman
Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Baca Juga Informasi Lainnya
Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close
%d blogger menyukai ini: