OPTIMALISASI PENDIDIKAN VOKASI UNTUK DAYA SAING INDONESIA PADA MEA

Association of Sout East Asian Nations atau yang sering kita singkat dengan sebutan ASEAN merupakan perhimpunan dari negara-negara yang berada di Asia Tenggara. Pada awalnya ASEAN didirikan oleh lima negara saja pada tahun 1957 di Bangkok. Sekarang ASEAN sudah bertambah menjadi sepuluh negara. Pertambahan negaranya pun adalah negara-negara yang masih berada di wilayah Asia Tenggara. Semua negara tersebut berhimpun ke dalam satu organisasi memiliki tujuan bersama untuk meningkatkan taraf hidup dalam bidang ekonomi, kehidupan sosial, kebudayaan, memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regionalnya, dan membahas perbedaan diantara anggotanya dengan damai. Tujuan itu tertulis dalam isi deklarasi Bangkok.

Dari isi deklarasi bangkok tersebut lahirlah berbagai kerjasama antara sesama negara ASEAN. Kerja sama tersebut meliputi berbagai bidang seperti kerja sama di bidang politik dan keamanan dengan adanya perjanjian perdamaian dan wilayah bebas senjata nuklir Asia Tenggara. Pada bidang sosial budaya dengan adanya ASEAN GAMES, dan di bidang ekonomi dengan banyak kerja sama pengolahan sumber daya alam dan industri serta kerja sama ekonomi pasar terbuka yang kita kenal dengan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

MEA adalah bentuk kerja sama antara negara-negara ASEAN dalam bidang ekonomi. Terutama pada pasar, baik pasar modal, pasar tenaga kerja, dan pasar penjualan produk. MEA membentuk sebuah pasar ekonomi terbuka bagi negara-negara ASEAN untuk saling bertransaksi. Sehingga akibatnya akan mempercepat dan memperbesar arus aliran fakto-faktor produksi dan hasil produksi antara negara-negara ASEAN karena hambatan perdangangan antar negara pun dihilangkan.

Karena hambatan perdangan antar negara dihilangkan, maka akan menjadi persaingan pasar yang sangat kompetitif dan besar. Dengan hilangnya hambatan tersebut maka akan mudah pula barang atau jasa yang diperdagangkan untuk keluar masuk pasar setiap negara ASEAN. Aliran modal dari investor suatu negara asean pun akan mudah masuk ke negara lain di ASEAN tanpa adanya double taxation sehingga mampu pula untuk meningkatkan produk domestik bruto atau produk nasional bruto negara-negara ASEAN.

Tidak hanya pada aliran barang, jasa, atau modal saja. Tenaga kerja di negara-negara ASEAN juga akan mudah untuk bekerja di negara lainnya dengan permudahan dan wacana pembebasan visa antar negara ASEAN. Jadi setiap pekerja dari satu negara akan mudah untuk bekerja di perusahaan negara lain dengan syarat dia memiliki kompetensi yang diatas rata-rata pekerja lainnya. Dari sinilah yang terlihat tidak hanya persaingan perdagangan produk saja. Siapa yang lebih berkompeten, maka itulah yang akan bertahan.

MEA bisa jadi peluang sekaligus tantangan bagi ekonomi Indonesia. Hal tersebut bisa dilihat sebagai peluang dari terbuka dan semakin luasnya pasar. Maka para wirausahawan atau pengusaha Indonesia akan mampu untuk memasarkan produk-produknya ke negara lain di Asia Tenggara. Selain itu, masalah pengangguran dan potensi bonus demografi Indonesia pada masa ini akan berpeluang untuk teratasi dengan terbukanya pasar regional tersebut dengan akan mudah mendapatkan pekerjaan dan membuka usaha dengan peluang pemasaran sebesar Asia Tenggara.

Namun, tantangannya adalah ketika masyarakat Indonesia tidak siap untuk memasuki era MEA ini. Yaitu ketika MEA sudah masuk, tapi masyarakat Indonesia tidak memiliki kompetensi untuk bersaing di MEA. Seperti misalnya masyarakat Indonesia kurang keprofesionalan untuk bersaing dengan pekerja dari negara lain. Saat terbukanya MEA, maka pesaing untk sama-sama mendapatkan pekerjaan pun akan semakin banyak lagi. Sehingga membutuhkan kompetensi diri yang unggul untuk pekerja Indonesia supaya mampu meningkatkan daya saing dengan pekerja dari negara lain di ASEAN.

Selanjutnya untuk wira usaha. Indonesia adalah salah satu negara yang penduduknya terbanyak di ASEAN, juga pasti akan ditebak sebagai pasar yang bagus untuk menjual produk. Apalagi Indonesia memiliki banyak tempat wiasata, produk tersebut juga ditujukan tidak hanya untuk masyarakat Indonesia sendiri, tapi juga untuk warga negara lain yang sedang berada di Indonesia. Dalam MEA juga pasti akan banyak pengusaha dari negara lain yang masuk ke Indonesia untuk memperluas usahanya. Inilah yang juga akan menjadi pesaing usaha di Indonesia. Terutama juga usaha yang masih tergolong UKM karena di era MEA UKM dari negara lain juga akan mengambil peluang pasar. Apalagi MEA tidak ada batasan minimal dan maksimal besaran usaha. Maka dari itu perlu Indonesia meningkatkan daya saing ekonominya pada MEA sekarang ini.

Pendidikan vokasi merupakan salah satu potensi yang paling tepat untuk bertahan di MEA. Karena dalam pendidikan vokasi, pelajarnya akan diasah supaya memiliki kemampuan profesional yang tinggi (spesialisasi profesi). Optimalisasi keahlian pada pelajar ini harus terus dilakukan secara maksimal. Magang adalah salah satu cara yang tepat untuk mengoptimalkan kemampuan mereka. Karena dengan magang, teori profesi yang dipelajari akan dicoba untuk diimplementasikan pada dunia kerja yang nyata. Sehingga dari magang tersebut pelajar pendidikan vokasi akan siap untuk menghadapi dunia kerja yang nyata pada persaingan pekerja MEA  karena memiliki kemapuan yang matang. Hal ini bisa diterapkan pada pelajar pendidikan vokasi tingkat menengah dan perguruan tinggi.

Kemampuan kewirausahaan harus juga ditanamkan pada pelajar pendidikan vokasi. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas kemampuan dan kuantitas masyarakat Indonesia  dalam dunia wirausaha. Karena untuk menguasai MEA, Indonesia harus menggunakan UKM sebagai senjatanya mempertahankan ekonominya dalam persaingan MEA. Hal ini karena UKM adalah salah satu bisnis yang sangat mudah untuk ditumbuhkan dan dikembangkan dalam ekonomi dibandingkan bisnis tingkat tinggi seperti perusahaan terbuka. Jadi, kemampuan wirausaha yang ditanamkan pada pelajar vokasi tadi akan mampu untuk membantu mereka bersaing di MEA seandainya mereka memilih untuk mengimplementasikan keahlian profesinya ke dalam bisnis daripada menjadi pekerja.

Pelajar pendidikan tinggi juga harus mendapatkan kemampuan berinvestasi. Hal ini bertujuan untuk daya saing Indonesia dalam dunia pasar modal. Ini merupakan salah satu hal yang sangat penting pula dunia bisnis investasi modal, adalah bisnis yang berpengaruh besar dan cepat untuk petumbuhan GNP atau GDP suatu negara. Karena kegiatan tersebut berada pada usaha tingkat skala besar atau perusahaan Go Public yang pengaruh pergerakannya sangat sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika Indonesia memiliki masyarakat yang juga berkompeten dalam bisnis ini, maka Indonesia akan mampu pula menguasai pasar modal dalam MEA ini.

Kemampuan-kemampuan yang harus ditanamkan tadi bisa dikatakan sebagi kemampuan teknik.  Kemampuan yang menggunakan pergerakan anggota tubuh. Selain hal tadi, Indonesia juga harus menanamkan kemampuan jiwa keagamaan pada pelajar pendidikan vokasi. Hal ini untuk membentuk kejujuran dan keimanan atau idealisme pelajar tersebut. Karena dalam dunia bisnis, dibutuhkan manusia yang jujur sebagai mitra berbisnis. Jika tidak memiliki kejujuran, maka pasar Indonesia tidak akan diminati oleh luar, dan pekerja atau pengusaha Indonesia pun akan dijauhi oleh pasar luar karena terkenal curang.

Keimanan dan idealisme akan berguna untuk menjaga martabat bangsa Indonesia. Karena dalam MEA ada pembebasan visa untuk pekerja, maka akan ada pula pergaulan antar pekerja Indonesia dengan pekerja asing. Dikhawatirkan akan terjadi pertukaran budaya diantara keduanya yang bertentangan dengan budaya asli Indonesia. Untuk menjaga itu, maka  pendekatan pelajar vokasi kepada agamanya supaya menjaga martabat Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya. Sehingga tidak hanya sukses pada bisnis saja. Tapi Indonesia tetap mampu menajga budayanya di era globalnya MEA ini.

Oleh Febri Pajerin (Mahasiswa  FE. UMRAH Tanjungpinang)

Silahkan Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: