
KampusTanjungpinang
Perkuat Pelestarian Budaya Melayu, UMRAH dan Mahasiswa KKN UGM Gelar Talk Show Budaya di Pulau Penyengat
TANJUNGPINANG – Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) terus menunjukkan komitmennya dalam merawat dan melestarikan warisan budaya Melayu. Komitmen ini diwujudkan melalui kehadiran Wakil Rektor III UMRAH, Dr. Suryadi, S.P., S.H., M.H., bersama para Duta Kampus UMRAH dalam acara Talk Show Gelar Budaya yang diselenggarakan di Balai Adat Pulau Penyengat, Tanjungpinang (1/8).
Kegiatan bernuansa kebudayaan ini diinisiasi melalui kolaborasi hangat bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2026 yang tengah menjalankan program pengabdian masyarakat di kawasan bersejarah tersebut.
Kehadiran pimpinan universitas dan Duta Kampus UMRAH menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pilar pendidikan berbasis kebudayaan maritim. Dalam suasana yang kental akan kekeluargaan, kegiatan tidak hanya diisi dengan diskusi dan talk show interaktif seputar sejarah serta nilai-nilai tradisi, tetapi juga momen kebersamaan yang hangat.
Tampak para peserta, pimpinan kampus, dan Duta Kampus UMRAH menikmati tradisi makan berhidang atau makan bersama menggunakan nampan khas Melayu di pelataran Masjid, menegaskan eratnya tali silaturahmi antarcivitas akademika lintas perguruan tinggi.
“Pulau Penyengat bukan sekadar cagar budaya, melainkan laboratorium hidup peradaban Melayu dan bahasa Indonesia. Kolaborasi antara mahasiswa KKN UGM, Duta Kampus, dan UMRAH dalam Gelar Budaya ini adalah contoh nyata bagaimana generasi muda dapat menjadi garda terdepan merawat warisan luhur bangsa,” ujar Dr. Suryadi.

Rangkaian kegiatan Gelar Budaya ini juga diisi dengan penelusuran situs-situs bersejarah di Pulau Penyengat, salah satunya adalah kunjungan ke papan informasi Perigi Tua 8 (Perigi Tua Perkasa)—salah satu sumur bersejarah yang menjadi bagian penting dari heritage Kesultanan Riau-Lingga.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para mahasiswa KKN UGM maupun Duta Kampus UMRAH tidak hanya memahami teori kebudayaan, tetapi juga dapat menyerap secara langsung kearifan lokal, adab, dan sejarah besar yang ada di Pulau Penyengat untuk disebarluaskan ke tingkat nasional maupun internasional.





