
Tanjungpinang
Diskusi Bersama Guru Sekolah Muhammadiyah Tanjungpinang: Evaluasi Penguatan Budaya Literasi sebagai Tindak Lanjut Program Pengabdian
Tanjungpinang, 19 November 2025 – Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan literasi membaca bagi peserta didik sekolah dasar, tim pengabdian UMRAH yang terdiri atas Eko Febri Syahputra Siregar (Ketua), M. Pemberdi Intasi dan Dios Sarkity (Anggota) melaksanakan kegiatan diskusi bersama guru dan Para Kepala Sekolah Muhammadiyah Tanjungpinang yang terdiri atas jenjang SD, SMP, dan SMA pada Rabu, 19 November 2025. Kegiatan ini bertujuan mengevaluasi perkembangan implementasi budaya literasi di sekolah sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan dan peluang dalam menjaga keberlanjutan program yang telah dilaksanakan.
Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan partisipatif. Para Kepala sekolah berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan berbagai aktivitas literasi setelah program pengabdian selesai dilaksanakan. Pertemuan ini menjadi wadah refleksi bersama untuk melihat sejauh mana dampak program terhadap perubahan kebiasaan membaca peserta didik di lingkungan sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, para Kepala Sekolah menyampaikan bahwa berbagai kegiatan literasi yang diperkenalkan selama program pengabdian mulai diterapkan secara rutin dalam aktivitas pembelajaran. Peserta didik tidak hanya membaca ketika mendapatkan tugas dari guru, tetapi mulai menunjukkan inisiatif untuk memanfaatkan waktu luang dengan membaca buku-buku yang tersedia di kelas maupun di perpustakaan sekolah. Guru juga mengamati meningkatnya antusiasme siswa dalam berdiskusi mengenai isi bacaan dan menceritakan kembali buku yang telah mereka baca.
Kepala SD Muhammadiyah Tanjungpinang, Dra. Rusmiati menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin antara sekolah dan UMRAH. Menurutnya, program pengabdian tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi peserta didik, tetapi juga mendorong guru untuk mengembangkan berbagai strategi pembelajaran yang lebih menarik dalam menumbuhkan minat baca. Ia menekankan bahwa pembentukan budaya literasi memerlukan proses yang berkelanjutan dan dukungan dari seluruh warga sekolah.
Selama diskusi, para Kepala Sekolah dan perwakilan guru juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendukung keberhasilan program. Di antaranya adalah keterlibatan aktif guru dalam mendampingi kegiatan membaca, penyediaan bahan bacaan yang sesuai dengan usia peserta didik, serta terciptanya suasana kelas yang memberikan ruang bagi siswa untuk membaca, berdiskusi, dan berbagi pengalaman. Menurut para guru, pendekatan yang menyenangkan membuat peserta didik lebih termotivasi untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Di sisi lain, Toh Muandy sebagai salah satu peserta diskusi juga mengungkapkan beberapa tantangan yang masih dihadapi dalam mempertahankan budaya literasi. Keterbatasan koleksi bacaan, meningkatnya penggunaan gawai pada anak, serta perlunya dukungan orang tua dalam membiasakan membaca di rumah menjadi beberapa isu yang memerlukan perhatian bersama. Oleh karena itu, seluruh peserta sepakat bahwa penguatan budaya literasi harus dilakukan melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi.
Eko Febri S. Siregar, selaku Ketua Tim pengabdian menyampaikan bahwa kegiatan diskusi ini merupakan bagian dari proses pendampingan yang dirancang untuk memastikan keberlanjutan program. Pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi juga mencakup evaluasi, refleksi, dan pendampingan agar inovasi yang telah diperkenalkan dapat terus berkembang sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Melalui forum diskusi ini, berbagai masukan dari guru dan kepala sekolah menjadi bahan evaluasi yang berharga untuk penyempurnaan program pengabdian pada masa mendatang. Hasil diskusi menunjukkan bahwa perubahan budaya membaca memang tidak terjadi secara instan, tetapi dapat tumbuh secara bertahap ketika sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan konsisten memberikan ruang bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan buku.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan nyata sekolah. Kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan diharapkan dapat memperkuat Gerakan Literasi Nasional serta mendorong lahirnya generasi pembelajar yang memiliki kemampuan literasi, berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Diskusi diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat budaya literasi di SD Muhammadiyah Tanjungpinang melalui berbagai program kolaboratif. Seluruh peserta berharap sinergi antara sekolah dan perguruan tinggi dapat terus berlanjut sehingga upaya menumbuhkan budaya membaca tidak berhenti sebagai sebuah program, melainkan menjadi bagian dari budaya belajar yang melekat dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.







