Kolom

Kupas Kisah, Harta dan Jamaah Da’awah Tabligh Khuruj Fi sabilillah

Assalamualaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh,.

Ketika abu Ayyub Al Anshari menghilangkan makanan di hadapan Rasulullah dan dua sahabatnya ( abu bakar dan Umar bin Khattab ), mereka memakan hidangan itu, tiba tiba Rasulullah mengis.

Sahabatnya bertanya mengapa Rasulullah menangis?, Ternyata Rasulullah menangis karena makanan itu akan dihisab di hadapan Allah SWT di hari kiyamat nanti. Bercermin dari kisah ini, sejauh mana kita takut akan hisab?

Sesuatu yang halal saja akan di hisab, bagaimana dengan harta yang syubhat bahkan haram?. Semua ada sebab dan akibat, bisa jadi sedikit harta yang syubhat itu menjadi penyebab panjangnya hisab.

Bisa jadi harta yang tidak halal itu menjadi penyebab datangnya penyakit atau musibah.

Mungkin ada yang berpikir bahwa dia mencari harta secara halal, tidak mungkin memakan makanan yang haram, itu pikiran yang keliru. Bisa jadi ada hak harta yang tidak di tunaikan, semisal zakat bagi yang sudah sampai nishob nya. Dan hak harta yang tidak ditunaikan bisa mengundang murka Allah SWT. Pernahkah kita menangis saat makan dan teringat saudara saudara kita seiman dalam keadaan lapar?

Tentu sangat sedikit orang yang mau berpikir tentang hal itu sebab perasaan kasian terhadap sesama mahluk, walaupun seiman itu sudah tidak ada lagi, mengapa? Karena makanan yang dimakan tidak tau apakah itu halal, haram ataukah subhat semua di makan, sebab kurangnya dari ilmu atu pemahaman agama.

Oleh sebab itu Rasulullah. SAW, mewajibkan dan mengharuskan ummatnya untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya walaupun sampai ke Negeri Cina. Dalam sebuah hadis menyatakan, yang mahfumnya, “Artinya: Rasulullah SAW. Bersabda ” Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)..” (HR. Muslim, no. 2699).

Hal demikian juga disyari’kan dari hadits tentang menuntut ilmu yang diriwayatkan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224.
طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.”

Jadi jelas setiap individu baik muslimim ataupun muslimat wajib hukumnya menuntut ilmu, jika kita mengajak orang untuk menuntut ilmu lalu ia menolak sedangkan ilmu yang hendak di pelajari tersebut adalah ilmu agama, maka sangat-sangat lah rugi jika menolak ajaran tersebut.

Jamaah Da’wah Tabliq Khuruj Fi Sabilillah

Sebagai contoh di Indonesia ini ada sekelompok jamaah yang menamakan dirinya jamaah ahli Sunnah wa jamaah (Tabligh) ada juga yang menyatakan bahwa jamaah ini tidak punya nama kalo tidak punya nama gimana orang mau kenal, pada dasawarsa ini orang-orang banyak menyebutkan dengan nama jamaah Da’wah Tabliq Khuruj Fi sabilillah. Da’wah = Mengajak, Tabliq = menyampaikan, Khuruj = Meluangkan waktu diri, masa dan harta untuk menuntut ilmu, Fi Sabilillah = Orang yang berjuang menuju jalan Allah SWT.

Berdakwah dengan cara khuruj  bisa dilakukan minimal selama empat bulan dalam seumur hidup ataupun 40 hari setiap tahun. Namun, bagi para anggota yang terikat dengan jam kantor, khuruj  cukup dilakukan selama tiga hari setiap bulannya.

Khuruj yang dilakukan oleh para pegawai kantoran itu biasanya dimulai pada Jumat sore dan berakhir hingga Senin pagi sebelum masuk waktu jam kerja. Dengan cara seperti itu pekerjaan mereka di kantor tidak akan terganggu.

Dalam menjalankan khuruj mereka tidak jarang ke luar kota, bahkan sampai ke luar negeri. Bagi mereka yang mampu, diharapkan untuk khuruj ke poros markas pusat gerakan Jamaah Tabligh yakni, India-Pakistan-Bangladesh.  Sehingga, mereka bisa melihat suasana keagamaan yang kuat dan diharapkan akan mempertebal keimanan mereka.

Sewaktu khuruj, para jamaah mengisi waktunya dengan taklim (membaca hadis atau kisah sahabat, biasanya dari kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria), mengunjungi rumah-rumah di sekitar masjid tempat khuruj dengan tujuan mengajak kembali pada Islam yang kaffah, bayan, mudzakarah (menghafal) enam sifat sahabat, karkuzari (memberi laporan harian pada amir), dan musyawarah. Selama masa khuruj, mereka tidur di masjid.

Selain itu mereka juga mengadakan malam Ijtima (berkumpul). Malam Ijtima ini biasanya hanya diadakan di markas-markas regional/daerah. Malam Ijtima diisi dengan bayan (ceramah agama) oleh para ulama atau tamu dari luar negeri yang sedang khuruj di tempat itu. Sekali dalam setahun,  digelar Ijtima umum di markas nasional pusat, yang biasanya dihadiri oleh puluhan ribu umat Muslim dari seluruh pelosok daerah.

Pada hari ini memasuki fase akhir zaman ini ada kalangan yang menyebutkan Tabliq itu adalah jamaah sesat atau perbuatan Bid’ah.

Kesimpulan:
Harta dan kekayaan itu hanyalah titipan Allah SWT jadi rugi jika seorang itu kaya raya namun tidak mempergunakan harta kekayaannya dengan sebaik-baiknya maka di akhirat kelak proses hisapnya sangat lama kalo harta hanya di pergunakan untuk perkara yang tidak baik maka dan melanggar dari hukum agama maka azab amatlah pedih namun sebaliknya jika di pergunakan pada perkara yang baik-baik maka hisapnya ringan tapi lama karena harta kekayaannya banyak.

Maka solusi untuk mensucikan dari harta-harta kita yang kita peroleh, maka kita dianjurkan untuk habiskan sebagian harta kita untuk, Khuruj Fi Sabilillah ikutlah jamaah Da’wah Tabliq. Demikian

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu anlaa ilaaha illa anta astaghfiruka watuubu ilaiika.
Artinya: “Mahasuci Engkau ya Allah dan engan memuji kepada-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Saya memohon ampun dan bertaubat hanya kepada-Mu”.

Penulis Naskah/Narasi :
Muhammad Amin, Pelaku Media Lihatkepri.com

Kepala Biro
(Lihatkepri.com Natuna)

Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close