KolomRianto, S.Sos., MA

Menyoal Kepatuhan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan

Meski telah berjalan lebih kurang sepuluh bulan, namun pandemi covid-19 di Indonesia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berlalu. Bahkan saat ini cenderung semakin meningkat. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan guna menekan bertambahnya kasus penularan pandemi covid-19 ini. Terakhir adalah Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) Jawa-Bali 11-25 Januari 2021.

Mengapa penambahan kasus terinfeksi covid-19 belum juga menurun? Hal itu disinyalir tidak terlepas dari kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. terutama dalam penerapan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak. Beberapa waktu lalu Prof. Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, adanya penurunan kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan. Dimana angka kepatuhan masyarakat menggunakan masker sebesar 59,32 persen dan menjaga jarak 43,46 persen (kompas.com, 04/12/2020). Padahal Prof. Wiku juga pernah menyampaikan beberapa bulan sebelumnya bahwa untuk menurunkan angka kasus covid-19 dibutuhkan kepatuhan dari 75 persen populasi penduduk.

Pertanyaannya, mengapa kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan cenderung menurun? Untuk menjawab hal ini ada berbagai pendapat dan pandangan yang menjadi alasan.

Salah satunya adalah adanya kejenuhan masyarakat terhadap berbagai hal terkait dengan pandemi covid-19. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Dicky Rachmawan (2020) yang mengutip pandangan Jhon Macionis (2007) menjelaskan tiga pendekatan sosiologis untuk melihat sebuah permasalahan sosial.

Pertama, structural functionalism, yang melihat bahwa munculnya suatu permasalahan dipengaruhi atau disebabkan oleh permasalahan yang lain. Hal ini dijelaskan dengan adanya berbagai kebijakan penanganan covid-19 dengan menggunakan wacana atau istilah-istilah yang terkadang membingungkan bagi masyarakat. Seperti munculnya istilah “relaksasi PSBB” sampai “berdamai dengan corona” yang diikuti dengan istilah “new normal.” Selanjutnya kebingungan masyarakat bertambah lagi jelang lebaran Idul Fitri 2020, muncul istilah yang membedakan “mudik” dan “pulang kampung.” Dimana sebelumnya sudah ada larangan “mudik” namun berikutnya “pulang kampung” dibolehkan. Padahal selama ini masyarakat memahami “mudik” dan “pulang kampung” memiliki makna yang sama.

Disisi lain, Drajat Tri Kartono (Kompas.com, 04/12/2020), sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, menilai, yang terjadi saat ini bukan menurunnya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan, melainkan desakralisasi protokol kesehatan. Bila pada awal pandemi, protokol kesehatan menjadi kendali atas kehidupan sosial, sedangkan saat ini protokol kesehatan hanya dijadikan sebagai syarat atau salah satu norma untuk mengadakan aktivitas, baik ritual budaya, perjalanan, dan aktivitas pendidikan.

Hal ini dicontohkan dengan adanya kelonggaran untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan seperti resepsi pernikahan, melakukan perjalanan keluar daerah, pembukaan tempat rekreasi, dan kegiatan lainnya asal memenuhi persyaratan protokol kesehatan. Ini menunjukkan bahwa protokol kesehatan hanya menjadi syarat.

Pada akhirnya, kondisi sebagaimana di atas, memunculkan kejenuhan masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan. Sehingga masyarakat terkesan abai dan acuh terhadap berbagai kebijakan yang terkait dengan protokol kesehatan.

Kedua, pendekatan conflict, yang mana pandangan ini memahami masyarakat sebagai arena ketimpangan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya yang pada akhirnya memunculkan pertentangan. Terkait hal ini kejenuhan masyarakat menjadi bertambah dimana berbagai kebijakan terkait pandemi covid-19 telah dimanfaatkan oleh segelintir elit sebagai panggung guna meningkatkan elektabilitasnya. Apalagi saat ini masih ada mereka-mereka yang belum bisa move on dari pengalaman pilpres 2019. Ditambah lagi dengan wacana pilpres 2024 yang sengaja atau tidak sengaja telah memanfaatkan kondisi pandemi ini sebagai ajang kontestasi bagi para pendukung untuk memperkenalkan kiprah parah tokoh yang didukungnya. Akhirnya, kondisi pandemi yang semestinya dihadapi secara rasional objektif, namun yang muncul adalah perasaan-perasaan subjektif.

Ketiga, pendekatan symbolic interactionism, yang memahami bahwa masyarakat dibentuk oleh interaksi sosial dari individu-individu dalam kesehariannya. Dimana kejenuhan masyarakat semakin diperparah dengan munculnya informasi bahwa covid-19 adalah sebuah konsfirasi global. Kejenuhan yang menjadikan masyarakat tidak percaya dengan himbauan pemerintah semakin diperparah dengan munculnya berita-berita hoax terkait pandemi maupun kebijakan penanganannya di media sosial.

Ketidakacuhan dan ketidakpercayaan masyarakat, selain dikarenakan informasi-informasi yang tidak jelas kebenarannya, juga ditambah dengan pengamatan masyarakat terhadap apa yang dilihat di tengah-tengah lingkungannya. Dimana jalan-jalan semakin padat, demikian juga dengan pusat-pusat perbelanjaan yang semakin ramai, orang-orang yang tidak patuh terhadap protokol kesehatan dengan bebasnya hilir mudik sehingga masyarakat dapat menginterpretasikan dengan mengacuhkan covid-19.

Lantas, apa yang mestinya dilakukan guna tetap meningkatkan kepatuhan masyarakat kepada protokol kesehatan? Diantaranya adalah dengan memperbaiki komunikasi publik agar segala informasi yang terkait dengan pandemi covid-19 dan upaya-upaya penanganannya dapat tersampaikan dengan jelas dan benar. Jangan biarkan masyarakat mencari dan menginterpretasikan informasi yang didapat secara sendiri-sendiri. Libatkan berbagai elemen masyarakat, terutama masyarakat sipil seperti LSM, organisasi kemasyarakatan, tokoh-tokoh masyarakat dan agama, dan lain-lain. Dirasa perlu juga untuk melibatkan kelompok-kelompok kecil dari elemen masyarakat, seperti kelompok-kelompok sepermainan, komunitas-komunitas anak muda, dimana mereka-mereka ini yang sering berkumpul. Sehingga dengan keterlibatan berbagai elemen masyarakat ini diharapkan dapat memunculkan kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam upaya menurunkan dan memutus mata rantai penyebaran virus covid-19.

Salam sehat

 

Oleh :

(Rianto)
Dosen STISIPOL Raja Haji

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close