PendidikanSTISIPOL Raja Haji

Membangun Karakter Bangsa Dari Budaya Literasi Anak Sejak Usia Dini

Tulisan ini dibuat sebagai refleksi dari peringatan hari Aksara Internasional yang diperingati pada tanggal 8 September 2021.

Perkembangan peradaban umat manusia tidak terlepas dari adanya sarana komunikasi  berupa bahasa, yang diungkapkan secara lisan maupun dalam sebuah tulisan. Pada awal sejarahnya, manusia berkomunikasi secara non verbal melalui bahasa tubuh dan simbol-simbol yang dibuatnya dan dalam suara yang dihasilkannya. Tercatat dalam sejarah, manusia berkomunikasi dan mendapatkan pengetahuan barunya melalui tradisi lisan sekitar abad pertengahan (abad ke 17 dan 18), dimana saat itu watak lisan kebudayaan masyarakat Eropa berkembang secara retorik seperti khutbah di gereja-gereja sebagai media ‘massa’nya, perdebatan resmi dalam perkuliahan, pidato ataupun deklamasi resmi (sebagai alat uji kemampuan mahasiswa dalam hal seni berbicara, kefasihan dalam bahasa latin saat pentas sandiwara, juga dalam nyanyian balada). Sementara itu desas-desus juga membentuk pola budaya lisan tersendiri dengan alur pesan yang khas, terutama untuk kepentingan politik pada masa itu.

Tradisi lisan mulai berubah menjadi tradisi tulisan sejak ditemukannya kemajuan teknologi mesin cetak oleh Gutenberg asal Jerman, yang terinspirasi oleh mesin cetak yang pernah dibuat oleh bangsa Cina dan Korea pada abad ke 15. Pengaruh dari penemuan ini membuat berkembangnya pencetakan buku dan berbagai dokumen, sehingga perkembagan informasi lebih cepat meluas, orang-orang mulai menuliskan surat sehingga memunculkan jaringan pos, koran-koran dicetak, dan hasil-hasil penemuan baru cepat terpublikasi.

Adanya perkembangan tradisi tulisan, membuat beberapa bangsa lebih dahulu maju dari bangsa lainnya. Sejarah panjang perkembangan peradaban dan budaya masyarakat dunia dalam literasi memberikan pemahaman kepada kita bahwa kemajuan peradaban sebuah bangsa tidak terlepas dari budaya literasi yang melekat pada masyarakatnya. Disamping itu, ukuran kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari indikator ekonomi, dari angka pendapatan perkapita masyarakat melalui GNP, GDP dan PDB nya, namun juga dari indikator non ekonomi yaitu dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Angka Melek Huruf, dan Indeks Kualitas Hidup Lingkungan warga negaranya.

Kemajuan negara-negara di Eropa dibandingkan dengan negara-negara dunia ketiga tidak terlepas dari perkembangan pesat ilmu pengetahuan, penemuan ilmiah di bidang sains, teknologi dan ilmu sosial. Misalnya saja Ketika Teori Modernisasi populer karena beberapa penggagasnya memberikan gambaran tentang kemajuan bangsanya pada masa itu melalui faktor-faktor ekonomi (teori Adam Smith tentang Invisible Hand; Harrod dan Domar tentang fungsi tabungan dan investasi; Rostow tentang lima tahap pembangunan) dan faktor-faktor non ekonomi (Max Weber tentang etika protestan dan teori lintas gawang; Alex Inkeles dan David H. Smith tentang manusia modern; serta David McCleland dengan teori N-Ach, N-Pow dan N-Affill).

Diantara keenam teori modernisasi tersebut, meskipun mendapatkan kritikan dari mazhab teori pembangunan lainnya, namun ada sebuah teori yang berkesan dan sangat relevan dengan pendidikan karakter masyarakat melalui budaya literasinya. Yakni pada teori motivasi N-Ach (Need for Achievement). Teori N-Ach ini lebih menekankan kepada dorongan ataupun motivasi untuk berprestasi, dimana orang yang memiliki N-Ach yang tinggi, yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi, akan mengalami kepuasan bukan pada imbalan dari hasil kerjanya, tetapi karena hasil kerja tersebut dianggapnya baik. Penelitian yang dilakukan oleh David McClelland ini dilanjutkan pada perbandingan anak–anak yang dibacakan dongeng–dongeng “the hero” dengan yang tidak dibacakan dongeng saat sebelum tidur. Terbukti bahwa semangat untuk berprestasi jauh lebih tinggi sehingga mereka memiliki mentalitas dan semangat berprestasi dan mendukung majunya negara mereka. Jadi ternyata meskipun tampak sederhana, namun ada pelajaran penting disana bahwa pendidikan karakter dan motivasi dapat dibangun sejak anak berusia dini  melalui pengenalan secara literasi dari cerita dongeng.

Berdasarkan hasil kajian, membacakan cerita kepada anak dapat memberikan mereka kesempatan membayangkan sesuatu yang belum pernah mereka alami. Dengan kata lain, membacakan cerita melatih anak berimajinasi. Manfaat tersebut sangat penting untuk membantu perkembangan kognitif anak. Selain itu juga meningkatkan kedekatan antara anak dan orangtuanya.

Menurut pendapat Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation Eddy Henry mengatakan bahwa “perkembangan otak anak tidak hanya berkaitan dengan asupan nutrisi, tetapi juga pemberian stimulasi dan interaksi dengan anak. Salah satu bentuk stimulasi yang penting adalah dengan membacakan cerita”. Eddy juga menyatakan, “interaksi merupakan salah satu bentuk stimulasi bonding yang baik bagi anak dan orangtua sehingga perkembangan sosial-emosional anak dapat terjadi. Membacakan cerita seperti dongeng kepada anak juga bentuk dari stimulasi dini yang mampu merangsang keterampilan anak-anak dalam berbahasa dan mengenali bunyi”.

Kegiatan membaca juga dipercaya dapat membantu pembentukan karakter, karena anak yang terbiasa dibacakan cerita akan terhubung secara emosional dengan tokoh pada buku cerita tersebut. Dalam hal ini, kebiasaan membacakan cerita atau mendongeng bisa dilakukan sejak bayi untuk membangun kesadaran literasi. Kebiasaan ini akan sangat bermanfaat ketika anak berusia enam tahun atau mulai belajar membaca di taman kanak-kanak (TK). Para orangtua dapat menggunakan buku yang mampu menarik perhatian anak, misalnya yang memiliki gambar atau hiasan yang menarik bagi mereka, selain pula memilih buku berbahan tebal agar tidak mudah robek dan mudah membalikkan tiap halamannya. Selain itu orangtua juga dapat mengajukan pertanyaan ketika membacakan buku untuk mengajak anak menebak alur ceritanya. Para orangtua juga perlu menghargai pendapat anak dengan tidak selalu berpatokan pada teks yang tertera di buku, dan mengembangkan kalimat dari kata-kata yang mereka lontarkan untuk mengajari tata bahasa dan kata-kata baru dengan lebih cepat. Bagi orangtua yang sibuk bekerja, melatih kebiasaan tersebut tentu membutuhkan ketekunan dan dedikasi yang tinggi. Meski demikian, investasi tersebut akan sangat berguna bagi perkembangan kemampuan anak dalam berbahasa, bersosialisasi, dan kepercayaan diri yang baik.

Sebagian besar kita menyadari bahwa semangat menumbuhkan N-Ach harus dilakukan sejak dini. Namun faktanya sistem pendidikan dasar kita tak demikian. Apa lagi ditunjang dengan tayangan televisi yang hiburannya kurang megedukasi. Bahkan juga dengan perkembagan digital saat ini, anak-anak milenial generasi Z, sudah terbiasa menggenggam gadget dan mengoperasionalkan komputer ataupun laptop sebagai alat komunikasi, belajar maupun alat hiburan. Terlebih dimasa pandemi Covid-19, dimana tidak lagi anak-anak pada usia sekolahnya mengalami pembelajaran tatap muka, belajar hanya mengandalkan media online yang terkadang tanpa pendampingan orang tua maupun guru. Hal ini membuat Pendidikan sulit mengasah keterampilan rasa kepekaan sosial, emosi dan mentalitas mereka. Padahal, apa yang mereka konsumsi akan menjadi karakternya dimasa depan. Oleh karenanya, tanggungjawab ini tidak hanya pemerintah yang memenuhinya melalui Sistem Pendidikan Nasional yang telah diimplementasikan oleh penggeraknya yakni para pendidik dan tenaga kependidikan di tingkat dasar hingga Pendidikan tinggi. Namun juga ada peran masyarakat khususnya para orangtua untuk mewujudkan tujuan mencetak generasi emas bangsa. Namun secara khusus, kita juga memiliki peran Misalnya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan N-Ach bagi anak–anak bangsa ini melalui cara menghidupkan kembali tradisi membacakan dogeng untuk anak sebelum tidur.

Oleh :

Fitri Dewi Wulandari, S.Sos., M.Si
Dosen Prodi Administrasi Publik STISIPOL Raja Haji

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close