BintanKampus

Ubah Limbah Plastik Jadi Rakit Semai Mangrove: UMRAH Edukasi Anak-Anak Pesisir Bintan

BINTAN — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) berkolaborasi dengan Learning Center The Island Foundation (TIF) menggelar program Sustainable Learning di kawasan pesisir Desa Pengudang, Kabupaten Bintan. Program ini mengedukasi 45 anak-anak pesisir dalam pelestarian lingkungan melalui inovasi pembuatan Rakit Semai Apung Hidroponik (RSA-H) berbahan dasar limbah botol plastik bekas. Sabtu, (10/26).

Kegiatan bertajuk “Penguatan Literasi Mangrove pada Anak-Anak Pesisir melalui Media Pembibitan Mangrove Berbasis Limbah Botol Plastik” ini dirancang untuk menghadirkan pembelajaran kontekstual. Anak-anak tidak hanya dibekali teori ekosistem pesisir, tetapi juga diajak secara langsung mengolah sampah plastik menjadi sarana pembibitan propagul mangrove yang efektif dan ramah lingkungan.

Dalam aksi lapangan ini, peserta mengumpulkan botol plastik bekas dari kawasan pantai, pemukiman, dan tempat pembuangan sampah sekitar. Sampah tersebut kemudian dirangkai menjadi rakit semai apung melalui serangkaian tahapan praktis, mulai dari pemotongan, pembersihan, pembuatan lubang aerasi, hingga perangkaian modul rakit

Bibit propagul mangrove yang telah disiapkan sebelumnya oleh tim mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari kawasan Dompak, Tanjungpinang, kemudian ditempatkan di atas rakit RSA-H yang telah diuji terapung di area pembibitan berlumpur.

Ketua Tim Pengabdian UMRAH, Assoc. Prof. Satria Agust, S.S., M.Pd., CIAR., MCE., MCF., menjelaskan bahwa pendekatan kontekstual ini bertujuan mengubah persepsi anak-anak terhadap sampah lingkungan.

“Anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan teoritis tentang pentingnya menjaga mangrove. Mereka melihat, memegang, dan mengolah sendiri limbah di sekitar mereka menjadi karya bermanfaat. Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa aksi menjaga bumi bisa dimulai dari langkah sederhana di lingkungan terdekat,” ujar Satria.

Sistem RSA-H menawarkan alternatif baru dalam metode pembibitan mangrove pesisir yang selama ini mendominasi penggunaan media kantong plastik (polybag).

Fasilitator Pembelajaran Yayasan Peduli Kepulauan Indonesia (YPKI), Aidil, mendampingi kegiatan bersama Program Manager Learning Centers, Agus Suprianto. Ia mengapresiasi inovasi rakit apung ini karena memberikan wawasan dan keterampilan baru bagi anak-anak pesisir.

“Selama ini pembibitan lebih banyak menggunakan polybag. Metode rakit apung berbasis botol bekas ini memberikan pengalaman baru sekaligus membuka ruang diskusi tentang pengelolaan sampah plastik secara lebih bertanggung jawab,” ungkap Aidil.

Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh pengelola kawasan mangrove Bintan, Iwan Winarto, yang memberikan dukungan penuh terhadap keberlanjutan pemantauan pertumbuhan bibit secara berkala oleh masyarakat lokal.

Program keberlanjutan ini mempertemukan kepakaran dari pelbagai latar belakang keilmuan, mencakup Pendidikan Bahasa Inggris, Perikanan dan Akuakultur, serta Pendidikan Biologi. Integrasi ini memastikan edukasi lingkungan disampaikan secara komprehensif, baik dari sisi sains ekosistem, teknik budidaya, maupun komunikasi literasi.

Tim akademisi UMRAH yang terlibat meliputi:

Ketua Tim:
Assoc. Prof. Satria Agust, S.S., M.Pd., CIAR., MCE., MCF.

Anggota Dosen:
Assist. Prof. Henky Irawan, S.Pi., M.P., M.Sc, Assist. Prof. Gatot Subroto, S.S., M.Pd., MCE., Assist. Prof. Dr. Trisna Amelia, S.Pd., M.Pd.

Mahasiswa PPG:
Muhamad Risky, Rizky Nurul Suhendra, Rahmawati Rinjani, Raja Reza Putri Aisyah, Siska Destiani Putri, Viona Stefani Montela, dan Putri Suryani Sari.

Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UMRAH:
Adinda, Laudy Astini, dan Noibee Hia.

Melalui keberlanjutan pemantauan rakit RSA-H, anak-anak pesisir Pengudang didorong untuk mencatat perkembangan bibit secara berkala, menjadikan pengalaman ini sebagai bagian dari literasi lingkungan jangka panjang demi kelestarian benteng pesisir Bintan.

Tags
Show More
Kepriwebsite

Leave a Reply

Close