
Tanjungpinang
Sarasehan Doktor KAHMI Kepri: Riset Harus Jadi Jiwa Pembangunan Monumen Bahasa di Penyengat
TANJUNGPINANG – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bersiap menggelar Sarasehan Doktor guna menyoroti isu strategis pembangunan kebudayaan Melayu. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah pentingnya menyeimbangkan proyek fisik Monumen Bahasa di Pulau Penyengat dengan penguatan riset, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Ketua Umum Majelis Wilayah KAHMI Kepri, Dr. Suryadi, S.P., S.H., M.H. menegaskan bahwa pembangunan Monumen Bahasa adalah langkah strategis untuk memperkuat identitas Kepri sebagai rahim bahasa Indonesia. Kendati demikian, pembangunan fisik dinilai belum cukup untuk menjaga dan mengembangkan warisan intelektual bangsa.
”Pembangunan Monumen Bahasa merupakan bentuk penghormatan atas jasa Raja Ali Haji dan Pulau Penyengat sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu yang menjadi fondasi bahasa Indonesia. Namun, pembangunan kebudayaan tidak boleh mandek pada bangunan fisik. Harus ada investasi berkelanjutan pada riset dan publikasi ilmiah agar warisan intelektual Raja Ali Haji tetap hidup,” ujar Dr. Suryadi, Senin (29/6/2026).
Senada dengan hal tersebut, Founder sekaligus Executive Director Raja Ali Haji Research Network, Dr. Hos Arie Sibarani, menilai Monumen Bahasa akan berdampak jauh lebih besar jika diiringi kebijakan yang mendukung lahirnya penelitian berkelanjutan.
Bagi Hos Arie, Raja Ali Haji bukan sekadar tokoh sejarah atau pahlawan bahasa, melainkan pemikir besar dengan gagasan yang masih sangat relevan dalam bidang hukum, pemerintahan, etika, hingga konstitusionalisme.
”Monumen adalah simbol penghormatan, tetapi riset adalah cara menghidupkan warisan intelektual. Jangan sampai kita menghabiskan lebih dari seratus miliar rupiah untuk membangun monumen, sementara dukungan terhadap penelitian, publikasi ilmiah, penerjemahan karya, dan pengembangan pusat kajian justru minim. Investasi pada ilmu pengetahuan memberikan manfaat yang jauh lebih panjang,” cetus Dr. Hos Arie Sibarani.
Ia pun mengusulkan agar Pemerintah Provinsi Kepri mengalokasikan anggaran khusus untuk hibah penelitian, publikasi jurnal nasional dan internasional, digitalisasi manuskrip Melayu, penerjemahan karya Raja Ali Haji ke berbagai bahasa dunia, hingga penyelenggaraan konferensi ilmiah internasional secara berkala.
Langkah konkret ini dipercaya akan memperkuat posisi Pulau Penyengat. Bukan hanya sebagai destinasi wisata sejarah, melainkan sebagai pusat kajian dunia Melayu dan pemikiran Raja Ali Haji yang diakui secara global.
Sarasehan Doktor KAHMI Kepri ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi strategis bagi Pemprov Kepri dalam menyusun kebijakan kebudayaan yang lebih komprehensif. Melalui forum ini, pembangunan Monumen Bahasa diharapkan menjadi momentum emas untuk memperkuat tradisi riset berbasis warisan intelektual.
”Peradaban besar tidak hanya dikenang melalui monumen yang megah, tetapi juga melalui gagasan yang terus diteliti, ditulis, dan diajarkan kepada dunia,” pungkas Dr. Hos Arie Sibarani.







