Batam

Dwi Ajeng Sekar Respaty  Ajak Perkumpulan “Ayuk Wong Kito Galo” Menjadi Penggerak Ekonomi dan Ketahanan Nasional

BATAM – Untuk menjalankan fungsinya selaku Anggota MPR RI dari unsur DPD RI yang mewakili Kepulauan Riau, Dwi Ajeng Sekar Respaty, S.H., M.Kn., menggelar kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama pengurus dan anggota Perkumpulan “Ayuk Wong Kito Galo” Batam di Kantor Perwakilan DPD Provinsi Kepri, Kompleks Kadin Batam, Selasa (10/3).

”Komunitas perempuan seperti Perkumpulan “Ayuk Wong Kito Galo” Batam bisa berkontribusi aktif menjadi penggerak ekonomi dan ketahanan nasional melalui pemberdayaan UMKM dan SDM unggul melalui pendidikan karakter yang baik, yang pada gilirannya mendukung stabilitas ekonomi keluarga dan bangsa,’’ kata Dwi Ajeng  dalam sosialisasi yang dipandu akademisi Dr Ngaliman dan juga dihadiri tokoh penggerak UMKM Batam  Dewi Koriati,

Dwi Ajeng Sekar, yang merupakan satu-satunya Senator Perempuan dari Kepri  mengajak pengurus dan anggota Perkumpulan “Ayuk Wong Kito Galo” Batam untuk  menanamkan Kembali pemahaman mendalam  arti penting  Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara melalui

Selain itu, Dwi Ajeng Sekar berharap, Perkumpulan “Ayuk Wong Kito Galo” Batam yang dipimpin Bunda Casmira dan beranggotakan kaum perempuan asal Sumatera Selatan, dapat melakukan internalisasi nilai-nilai kebangsaan dan konstitusi dalam kegiatan sehari-hari.

Menurut Dwi Ajeng Sekar,  banyak peran yang dapat dilakukan organisasi perempuan dalam internalisasi nilai empat pilar MPR RI.  Komunitas perempuan berperan sebagai pilar utama dalam menanamkan nilai-nilai empat konsensus kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika) melalui pendidikan keluarga, penguatan toleransi, dan literasi digital.

Peran kaum perempuan dalam mendidik anak-anak, kata Dwi Ajeng adalah sangat strategis. Mereka adalah agen perubahan yang menjaga harmoni sosial, memperkuat ketahanan nasional, serta membentengi bangsa dari berbagai ancaman dan disinformasi di era digital.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Casmira menjelaskan, sebagai organisasi, Ayuk Wong Kito Galo telah eksis di Batam selama 18 tahun dan banyak membuat berbagai kegiatan sosial, keagamaan dan pemberdayaan ekonomi anggota dan masyarakat. Selama ini, mereka sudah terbiasa menerapkan praktik  gotong royong untuk membantu sesama.

Dalam penyampaiannya, Akademisi Ngaliman menjelaskan sejarah pergerakan perempuan di Palembang memiliki akar yang panjang. Palembang mencatatkan sejarah penting dengan terpilih sebagai tuan rumah Kongres Wanita Indonesia (Kowani) ke-III yang berlangsung pada 2—5 Maret 1955. Ini menegaskan posisi Palembang dalam peta pergerakan perempuan nasional pasca-kemerdekaan.

Ngaliman menambahkan, gerakan perempuan di Palembang terorganisasi  dengan baik, terbukti dengan adanya gabungan organisasi perempuan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) sejak tahun 1950 yang aktif memperingati Hari Ibu. Hal itu berlangsung hingga saat ini, yang ditandai dengan aktifnya berbagai perkumpulan komunitas perempaun dari Sumsel seperti Perkumpulan “Ayuk Wong Kito Galo” Batam.

Tags
Show More
Kepriwebsite

Leave a Reply

Close