
Batam
REFLEKSI MILAD Ke 69 HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)
“REFLEKSI MILAD Ke 69 HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)”
Meneguhkan Intelektualisme dan Mengembalikan Khittah Perjuangan Himpunan (To Becoming AGAIN).
SOPIAN
Ketua Umum HMI Komisariat Politeknik Negeri Batam
Membincangkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tak Pernah lepas dari wacana “Ke-islaman dan Keindonesian”. Kelahiran HMI tidak jauh setelah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) ini Merdeka. Pada saat itu kondisi Indonesia masih dalam keadaan tidak stabil alias dalam ancaman tergandainya kembali Negara ini ketangan Penjajah. Kemudian HMI muncul ditengah Minimnya generasi Cendikia Muslim yang konsen untuk memperjuangkan Kemajuan Islam dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara. HMI Lahir dipelopori oleh seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Islam di Jogyakarta yang bernama “LAFRAN PANE” pada tanggal 14 Rabbiul Awal 1366 H atau Bertepat dengan 5 Februari 1947 di sebuah ruang belajar Lafran Pane meminta ijin Kepada salah satu Dosen untuk mempresentasikan kepada Mahasiswa bahwa Dia akan mendirikan Himpunan yang Bernama Himpunan Mahasiswa Islam dari situlah awal mula berdirinya HMI oleh seorang Kaum Muda Yang Gerah Melihat Kondisi Ke-Umatan pada saat itu. Dengan dasar kelahiran Indonesia pada 17 agustus 1945 dan HMI 5 Februari 1947 yang tidak jauh berbeda maka tidak salah Banyak sejarawan mengatakan HMI adalah saudara kandung Negara ini. Tujuan awal didirikannya Himpunan Mahasiswa Islam adalah “Mempertahankan Kemerdekaan dan mempertinggi Harkat dan Martabat rakyat Indonesia serta Menyebarkan Syiar Agama Islam”.
Bila kita Berkhidmat (Menghayati) tujuan himpunan ini dimasa awal berdirinya tidak mudah sekali karena bagi kader HMI turut serta melakukan kontak fisik mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah sudah menjadi keharusan. kemudian membantu para pendakwah untuk turut Ambil bagian dalam mensyiarkan Agama Islam Karena seperti Hal Yang diungkapkan Abangda Karnoto dalam Milad HMI ke 68 th, HMI adalah Wadah bagi Pemuda dan Mahasiswa Islam dimana pada saat itu minim sekali Perkumpulan Pemuda dan Mahasiswa Islam. Kemudian ungkapan selaras juga disampaikan oleh Kanda Arip Mustofa HMI merupakan alat perjuangan Untuk mensyiarkan Islam dan Menghadirkan Islam Universal “Rahmatan Lil alaamiin”.
Dalam konteks kekinian HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) terkesan Kehilangan Ruang Aktualisasi Diri ditingkat Kampus (Akar Rumput) yang sebernarnya adalah sebagai tempat bermunculannya benih-benih pemimpin Hebat dan Manusia-Manusia Handal (Agent of Change) atau Kaum Intelektual Tercerahkan “Rausyan Fikr” atau leadership (Visioner), akibat Menurunnya KOMITMEN INTELEKTUALISME Para KADER HMI, Benarkah ?. Kemudian mulai bergesernya KHITTAH PERJUANGAN KADER.
Semua ini adalah tantangan dan masalah yang harus kita jawab bersama, Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam untuk Menunjukan Perannya di Akar Rumpun (Kampus dan Masyarakat) Bahwa Kader HMI yang memiliki The Power of Militan atau Karakter Tangguh/Pejuang (memperbaiki Himpunan) maka dia tidak akan pernah Menyerah terhadap Masalah begitu saja karena Komitmen mereka merasuk dalam Relung Hati .
Komitmen Himpunan Seperti termaktub dalam Pasal 4 tujuan HMI yaitu “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi Yang Bernafaskan Islam Yang bertanggung Jawab atas Terwujudnya Masyarakat adil Makmur yang diridhai Allah SWT” ini adalah Komitmen Ke-umatan dan Ke-Bangsaan Bagi Himpunan Dan Para Kader HMI serta para alumninya.
Fokus Masalah
Berdasarkan uraian masalah yang penulis ungkapkan ada masalah yang menarik di angkat
- Meneguhkan Intelektualisme para Kader Himpunan Mahasiswa Islam, Menyelaraskan Tujuan Pribadi dan Tujuan Himpunan ?
- Bagaimana mengambalikan Khittah Perjuangan Himpunan Agar tercapainya Kemaslahatan Bersama ?
Pembahasan
Sudah Menjadi watak sejarah yang dipentaskan umat manusia dalam beberapa dekade terakhir ini, bahwa setiap peristiwa yang terjadi disudut manapun tidak bisa terlepas dari kondisi makro yang ada dinegaranya atau bahkan dunia internasional. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam tubuh Himpunan Ini Tak ubahnya menggambarkan Carut marutnya Pertiwi ini. Hal ini semakin menyata ditengah deras arus globalisasi dan zaman yang serba terbuka sumber informasi dengan cepat masuk ke Individu-individu secara Individualis membuat kita tidak lagi dapat melihat Permasahan secara universal namun dari sudut pandang “INDIVIDUALIS”.
Meneguhkan Intelektualisme sebagai jati Diri kader, Menyelaraskan Tujuan Pribadi dan Himpunan.
Sudah menjadi kebiasaan kita bersama terkadang sering terbuai dengan Kemenangan Masa Lampau, Hingga kita lupa masalah yang dihadapi sekarang dan tantangan yang akan kita hadapi dimasa yang akan datang.
Dalam konteks KEKINIAN menurunnya Intelektualitas kader HMI dalam percaturan Kampus sejatinya Tugas Rumah Bersama yang harus diselesaikan. Kita tidak perlu menganggap hal ini bukan sebagai suatu masalah yang serius namun cukup dengan melihatnya dengan kaca mata OBJEKTIF, apakah hal itu memang terjadi dalam tubuh Himpunan Ini, kalau Memang benar adanya mari kita mencari benang merah dari permasalahan tersebut kemudian bersama-sama secara sadar dengan kesungguhan hati kita sebagai kader segera menghimpun diri untuk berbenah kulitas diri. Kedua Melihat Dinamika yang terjadi dalam Dunia Kampus memang kita harus jeli karena Kampus bisa menjadi Pisau bermata Dua ?
Karena sejatinya kampus sebagai tempat mendidik pribadi yang Individualis untuk menjadi Pribadi yang Humanis. Kemudian kampus juga ada tempat berkumpulnya berbagai organisasi baik internal maupun eksternal Karena Organisasilah yang sejati Menempa “Kemampuan Leadership dan Social Empowering” seorang mahasiswa. Bukan menjadi tempat mencetak para pekerja yang siap menjadi pembantu dirumah mereka sendiri. Artinya selain kemampuan Hard skill yang diberikan, Pihak kampus juga seharus memberikan Ruang Bagi Organisasi untuk Bisa menjadi Parther Manajemen dalam Mengembangkan dan membina Kemampuan Soft Skill.
Kembali kepada akar Rumpun pergerakan dan Berhimpun nya para calon Pemimpin Umat dan Bangsa dikampus terkadang cendrung digantungi oleh kepentingan sebauh kelompok tertentu. Saling Menstigmakan Oraganisasi ini Baik dan Organisasi Itu Buruk (Mengkafirkan Organisasi Juga sering terdengar ditelinga).
Pada posisi ini HMI seharusnya kembali menguatkan wacana-wacana intelektualnya. HMI harus menjadi intelektual tercerahkan ‘rausyan fikr’ meminjam istilah Ali syariati. Kecendrungan organisasi Kampus yang terkadang menjadi jalan kepentingan kelompok adalah sebuah penghianatan intelektual. Kalau memang dibuka bagi Organisasi untuk menujukkan Peran dan Eksisitensi Mereka maka berikan Ruang untuk Mereka. Seperti yang diungkap Julian benda ‘kalau intelektual bercampur dengan atau menjadi bagian dari kekuasaan, ia telah berkhianat. Intelektual harus setia pada nilai-nilai abadi yang non kepentingan (politik). Sementara politik adalah sesuatu yang sangat terkait atau sarat dengan kepentingan.
Sebagai Kader Hijau Hitam yang terlahir dari nol mulai dari LATIHAN KADER 1 di Komisariat dengan memiliki Nasab yang terus tersambung pada Master Of Training (MOT). Kami kami sejati telah dinyatakan lulus dan dibaiat langsung berjanji kepada Allah SWT maka sudah menjadi tanggung jawab bersama Untuk terus memupuk Kesadaran untuk meningkatkan Intelektualitas Diri kemudian Menyelaraskan Apa yang Kami Cita-Cita Melalui Keyakinan akan Mimpi (IMAN) lalu selanjutnya melalui berbagai Proses yang kami jalani di Kampus dan Di Himpunan Kami Ikhtiarkan dengan Ilmu yang didapat (ILMU) pada akhirnya Ikhtiar bersama yang kami lakukan adalah bentuk kecintaan kami terhadap Himpunan Mahasiswa Islam untuk Terus Menjadi Bintang seperti yang di Janjikan Rasulullah Saw hanya dengan Kesungguhan Semua dapat yang dicita-citakan INSYA ALLAH AKAN SAMPAI dan Bermanfaat untuk Kehidupan Pribadi lebih jauh Kehidupan Umat dan Bangsa.
Kembali ke Khittah Perjuangan, Upaya mencapai Kemaslahatan Bersama (Umat dan Bangsa)
Mengambil istilah Dr.syafii Ma’arif bahwa insentif politik bagi HMI jauh lebih besar dari pada insentif intelektual. Dua paradigma besar dalam HMI yakni politik dan intelektual masih sering bercokol dalam sikap HMI. Menurut syafii “keinginan untuk menyeimbangkan dua kutub di HMI, orientasi intelektual dan orientasi politik masih cukup berat bagi HMI. Sedang anas urbaningrum berujar bahwa intelektualisme perlu disuburkan dalam tradisi HMI adalah untuk sejauh mungkin mengurangi reduksi-reduksi kebenaran yang ada dalam HMI. Jika intelektualisme hilang maka terjadilah anomali-anomali dalam HMI yang membuat ambruk organisasi HMI. Suburnya tradisi intelektualisme merupakan lahan subur untuk menghidupkan independensi etis maupun organisatoris. Keterkikisan nilai kebenaran saat terlalu terjebak dalam permainan politik praktis akan semakin kecil terjadi.
Pada titik ini HMI sebagai organisasi kader yang berorientasi pada “People Orientied” yang mengedepankan kebebasan harus Berani Menegaskan Diri untuk Kembali Kepada Khittah Perjuangan Himpunan Yaitu Mensyiarkan Agama Islam dan Mendidik Kadernya untuk selalu mampu memberikan warna khasnya YAITU HIJAU DAN HITAM dalam segala aspek. Mengambil isitilah yang disampaikan Oleh Kanda Abdullah Hemahahua Bahwa HMI HARUS Kembali Kepada KHITTAH Perjuangannya sangat sederhana sekali Yaitu “MENJADI MAHASISWA YANG ISLAM yang Berpegang Kepada Tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai “Manual Intrukstion”.
Menumbuhkan “Student Need and Student Interst” Mahasiswa terhadap Himpunan Harus dengan satu kata kunci yaitu TAULADAN DAN AKSI NYATA. Kalau sudah nyata karya nya maka tanpa diminta mereka akan membutuhkan Himpunan Ini sebagai Wadah Aktualisasi Diri.
Dalam konteks keislaman “KADER HMI” tidak boleh meninggalkan Jati diri Mereka terlalu Jauh karena itu akan membuat Image Himpunan memburuk. Para kader harus kembali konsentrasi untuk terus memberikan karya ilmiahnya untuk menguraikan HMI Adalah bagian dari Integral dari pergerakan Islam.
Kemudian selalu berusaha menghadirkan “Islam Universal” yang substansial dan kuat dalam pegamalan syariatnya.
Pada akhirnya dalam peringatan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang ke 69 th ini, walau memasuki usia senja bukan berarti sudah cukup perjuangan Himpunan Ini. Sejumlah masalah terurai seperti benang kusut yang memerlukan kesadaran bersama untuk memintalnya kembali sehingga menjadi To Be The Way For Kader (jalan jihad MAHASISWA).
YAKINKAN DENGAN IMAN
USAHAKAN DENGAN ILMU
INSYA ALLAH AKAN SAMPAI PADA TUJUAN
Billahi Taupik Wal Hidayah Wr Wb







