
BatamKepulauan Riau
Tangkal Komunisme, Simpul Mahasiswa Kepri Gelar Dialog Pancasila
Lihatkepri.com, Batam – Tangkal komunisme di Batam, Simpul Jaringan Mahasiswa Kepri (Kepulauan Riau) bersama BEM STT Ibnu Sina menggelar Dialog Kebangsaan bertema, “Peningkatan Pemahaman Pancasila Sebagai Daya Tangkal Komunisme di Batam”.
Pemahaman menghadang azas komunisme dalam dialog yang digelar berlangsung hingga pukul 18.05 WIB, dilanjutkan dengan buka puasa bersama tanda rasa bersyukur kepada Allah dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1437 hijriyah. Turut hadir sebagai pembicara dalam dialog ini dari berbagai instansi yaitu, TNI, Polri dan akademisi.
Dalam pemaparannya, Kapten Patar Purba (Pasi Ops Kodim 0316 Batam) menegaskan, pentingnya menyampaikan pemahaman kepada para generasi muda bahwa Pancasila merupakan satu-satunya idiologi, azas tunggal di Indonesia.
“Tidak ada idiologi lain di negara ini selain Pancasila. Apalagi yang namanya komunis. Komunis haram di negara kita,” ujar Kapten Patar Purba, Kamis (30/6/2016), di PIH Batam.
Selain itu, Kapten Patar Purba juga mengatakan bahwa secara legal jelas komunis dilarang di Indonesia.
“Hal itu sesuai UU dan Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 yang diatur dengan jelas,” ujar Kapten Patar Purba.
Oleh karena itu, Kapten Patar Purba meminta kepada generasi muda untuk bersama-sama menangkal masuknya komunis gaya baru yang mencoba merusak bangsa Indonesia.
Selanjutnya, Ipda Kamulun dari Binmas Polresta Barelang mengatakan bahwa pentingnya pemahaman generasi muda tentang Pancasila. Sempat ditemukan pengenaan atribut yang menunjukkan identitas PKI atau komunisme muncul di tengah-tegah masyarakat.
“Sesuai dengan arahan pimpinan, Polri harus menggunakan pendekatan hukum sesuai Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966 dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 guna menghindari maraknya aktifitas dan atribut komonis,” ujar Ipda Kamulun, dalam pemaparannya.
Selain itu, tidak hanya Polri yang melakukan pengawasan dan penindakan, TNI, menurut Ipda Kamulun, juga turut membantu mengawasi adanya kegiatan-kegiatan berbau komunisme.
Selaku Akademisi, Dr. M. Gita Indrawan mengatakan bahwa dasar untuk menghindari komunisme adalah Pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Jadi pada saat bicara komunisme, bicara leninisme, bicara sosialisme sebelum masuk sila-sila lainnya kita ketemu sila pertama dulu. Jadi kalau tidak bisa ketemu jangan kita paksakan lagi. Karena komunisme secara substansi memang tidak mengakui agama, jadi memang tidak ada tempat di negara Indonesia, apalagi pada sila-sila lainnya,” ujar Dr. M. Gita Indrawan.
Sementara itu, Koordinator Simpul Jaringan Mahasiwa Kepri, Bambang Heri, SH mengatakan, paham komunis tidak sesuai dengan kepribadian dan pandangan hidup bangsa indonesia.
“Di mana bangsa Indonesia sangat mengakui adanya Tuhan, bangsa Indonesia sangat menghormati HAM, sangat menjunjung tinggi budaya gotong royong serta banyak keyakinan agama dan budaya sebagai warisan dari para leluhur,” ujar Bambang.







