
Opini
PENDIDIKAN INDONESIA: ANTARA WARISAN PEMIKIRAN, KEMANDIRIAN, DAN TANTANGAN ZAMAN
Oleh: Tri Sukmono Joko PBS
Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan sejatinya merupakan proses memanusiakan manusia, membangun kemandirian, menumbuhkan karakter, serta mempersiapkan generasi agar mampu menghadapi perubahan zaman. Jika menengok sejarah pendidikan, Indonesia sesungguhnya memiliki warisan pemikiran pendidikan yang sangat kuat. Sayangnya, sebagian gagasan besar tersebut belum sepenuhnya menjadi kenyataan dalam praktik pendidikan saat ini.
Dalam sejarah pemikiran pendidikan dunia, Francis Bacon melalui aliran realisme memperkenalkan pendekatan induktif, yaitu membangun pengetahuan berdasarkan fakta dan pengalaman nyata. Peserta didik tidak cukup hanya menghafalkan teori, tetapi harus mengamati, menganalisis, melakukan percobaan, dan menarik kesimpulan dari realitas yang dihadapinya. Prinsip ini sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini. Sebagai contoh, ketika mempelajari pencemaran lingkungan, siswa seharusnya tidak hanya menghafalkan pengertian pencemaran, tetapi diajak mengamati sungai, mengidentifikasi sumber pencemaran, dan menganalisis dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Pemikiran tersebut memiliki kesamaan semangat dengan gagasan tiga tokoh pendidikan Indonesia sebelum kemerdekaan. Mohammad Syafei melalui INS Kayutanam yang didirikan pada 1926 menekankan pentingnya pendidikan yang membentuk manusia mandiri. Pendidikan tidak diarahkan hanya untuk menghasilkan calon pegawai, melainkan individu yang mampu menciptakan pekerjaan, mengembangkan keterampilan, dan bertanggung jawab atas kehidupannya. Keseimbangan antara teori dan praktik menjadi ciri penting pendidikan yang diperjuangkannya.
Sementara itu, Ki Hadjar Dewantara melalui Taman Siswa menempatkan kemerdekaan sebagai fondasi pendidikan. Anak harus diberikan ruang untuk berpikir, mengembangkan potensi, dan mengenali kebudayaannya sendiri. Semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani bukan sekadar ungkapan filosofis, melainkan pedoman kepemimpinan pendidikan. Guru harus mampu menjadi teladan, membangun semangat, sekaligus memberikan dorongan agar peserta didik berkembang secara mandiri.
Gagasan Ahmad Dahlan juga memberikan landasan penting. Melalui pendidikan Muhammadiyah, ia menekankan perubahan cara berpikir, aktivitas peserta didik, kreativitas, optimisme, dan kepedulian sosial. Pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi harus mendorong peserta didik mengamalkan pengetahuan untuk kehidupan masyarakat.
Ketiga tokoh tersebut memiliki titik temu yang menarik: pendidikan harus menghasilkan manusia yang merdeka, mandiri, kreatif, berkarakter, dan memiliki tanggung jawab sosial. Inilah nilai yang seharusnya menjadi orientasi pendidikan Indonesia.
Namun, persoalan pendidikan kita masih cukup mendasar. Orientasi pendidikan yang cenderung mengutamakan pencapaian akademik dan ijazah terkadang belum diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, keterampilan praktis, literasi, dan kemandirian. Persoalan kemampuan membaca pada jenjang pendidikan menengah menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat hanya diukur dari kenaikan kelas atau kelulusan. Literasi merupakan fondasi bagi kemampuan seseorang untuk memahami persoalan dan mengembangkan pengetahuan.
Di sisi lain, perubahan pendidikan juga sering kali lebih cepat mengikuti tren dan konsep dari luar negeri dibandingkan membangun inovasi berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat Indonesia. Padahal, setiap wilayah memiliki karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan tantangan pendidikan yang berbeda. Karena itu, inovasi pendidikan seharusnya didasarkan pada penelitian, diuji melalui praktik, dan disesuaikan dengan kondisi lokal tanpa menutup diri terhadap perkembangan global.
Pembelajaran mendalam (Deep Learning) yang menekankan pemahaman, keterlibatan aktif, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, karakter, kewargaan, dan berpikir kritis dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menjawab tantangan tersebut. Akan tetapi, pendekatan baru tidak akan memberikan hasil optimal apabila hanya berhenti sebagai perubahan istilah, dokumen kurikulum, atau tuntutan administratif. Perubahan harus menyentuh cara guru mengajar, cara siswa belajar, budaya sekolah, dan sistem pengelolaan pendidikan.
Pada akhirnya, pendidikan Indonesia tidak kekurangan pemikiran besar. Kita memiliki warisan gagasan dari Mohammad Syafei, Ki Hadjar Dewantara, dan Ahmad Dahlan yang masih relevan untuk menjawab persoalan pendidikan kontemporer. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerjemahkan pemikiran tersebut menjadi kebijakan dan praktik pendidikan yang konsisten.
Sudah saatnya pendidikan Indonesia tidak hanya sibuk menciptakan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga manusia yang mampu berpikir, bekerja, menciptakan peluang, menjaga nilai kemanusiaan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan bukan semata-mata berapa banyak peserta didik yang menyelesaikan sekolah, melainkan seberapa besar pendidikan mampu membentuk manusia yang merdeka dan berdaya.




