Kemajemukan negara kita merupakan sebuah anugrah dari yang maha kuasa, karena dari kemajemukan tersebut sejatinya akan mempoles pesona negara kita dari citra yang baik menjadi citra yang sangat baik untuk diperlihatkan kepada Dunia. Maka tidak berlebihan kalau ada yang mengatakan negara Indonesia sangat relevan untuk menjadi contoh bagi negara yang ada di belahan dunia tentang merawat keharmonisan di tengah-tengah kemajemukan.

Kemajemukan kita bisa terlihat dari keberagaman suku, budaya, bahasa dan bahkan kepercayaan. Semua bisa kita satukan dengan ikatan kebinekaan, artinya kita sudah sama-sama sepakat bahwa perbedaan ini tidak menjadi krikil tajam dalam merajut keharmonisan di tengahperbedaan. Melainkan kemajemukan tersebut dijadikan sebagai batu loncatan untuk tetap mengukuhkan dan merawat kebinekaan, hingga pada akhirnya kita akan benar-benar mewujudkan kesejukan, kedamaian dan saling menyantuni antara satu dengan yang lain atau sederhananya mengaplikasikan rahmatan lila’lamin untuk semua suku, agama dan golongan.

Akan tetapi sangat disayangkan kemajemukan tersebut sepertinya sedang dihempaskan oleh tingginya gelombang dilema, seakan dilema tersebut ingin mematahkan sendi-sendi kebinekaan kita. Dilem tersebut harus kita sadari dengan benar supaya tidak menjamur dan berubah menjadi kanker yang akan menggerogoti sendi-sendi rajutan kebinekaan yang sudah kita rawat selama ini. Karena bila tidak maka kebinegakan akan berubah hanya sebagai slogan tanpa fakta yang bisa dinikmati bersama. Apa artinya slogan tanpa fakta dan realisasi, tentunya hanya menambah kepiluan akibat kegagalan mewujudkan cita-cita yang mulia.

Adapun dilema yang menghantui kebinekaan kita pada saat ini dalam kaca mata penulis adalah tentang memudarnya kebersamaan antara ummat beragama. Dilema ini bukanlah dilema biasa, karena sudah terbukti ada beberapa negara yang hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan debu-debu sejarah akibat gesekan agama. Entah dari mana muaranya tiba-tiba saja dilema agama muncul di negara kita, dan saat ini kita digalaukan dengan kicauan-kicauan penghinaan kepada agama, dan bahkan berujung pada tindakan-tindakan yang merugikan seperti pembunuhan di dalam dalam rumah ibadah dan bahkan sudah pernah terjadi tindakan brutal yang melakukan pembakaran tempat ibadah.

Selain itu kicauan-kicauan di dalam media sosial saat ini kerap diwarnai kepada pelecehan dan penghinaan kepada agama-agama tertentu. Tentunya ini tidak akan bisa dibiarkan karena semakin menjamurnya pristiwa-pristiwa semacam ini tidak hanya merugikan bagi pemeluk agama tertentu melainkan membuat kerawananan dan goncangan akan ketahanan bagi negara kita. Sebelum dilema tersebut membesar dan menjadi percikan api terhadap kebinekaan negara kita maka harus sama-sama kita bendung, dan menyelesaikan dilema ini secepatnya.

Untuk menyelesaikan dilema semacam ini tentunya tidak bisa kita pikulkan secara merta-merta kepada pemerintah. Akan tetapi semua elemen harus memikul tanggung jawab yang sama, yakni mempunyai peran dan tanggung jawab untuk menetralitas keadaan dan menciptakan kesalehan di tengah-tengah kehidupan sosial dan ruang publik indonesia.

Maka dalam hemat penulis harus ada langkah-langka yang relevan yang harus kita lakukan untuk membendung masalah ini. Antara lain yang bisa dikukan adalah, menguatkan peran seluruh pemuka agama dan tokoh-tokoh nasioanl untuk memberikan kesadaran kepada para jamaahnya masing-masing, sesuai ketentuan pada agamanya dan kepercayaannya. Karena pada hakikatnya seluruh agama selalu mengajarkan kebaikan dan cinta kasih, dan tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kejahatan atau kedzoliman. Maka langkah ini sangat relevan dalam pandangan penulis, karena pada prinsipnya semua agama akan selalu mengikuti nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para tokoh dan pemeluk agamanya masing-masing.

Dengan cara ini akan memberikan refleksi  dan  kesadaran kepada kita semua untuk merawat persatuan dan kesatuan, dan menepiskan kecurigaan antara sesama kita. Karena ketika kita berpikir secara rasional, akan sangat mustahil untuk mewujudkan perdamaian dan persatuan di tengah perbedaan. Apalagi selalu dihasut dengan rasa egois dan kecurigaan. Maka tidak ada jalan lain yang harus ditempuk untuk mewujudkan segala hasrat dan impian kita untuk menikmati kehidupan yang sejuh di tengah naungan kedaamaian kecuali kita sudah bersatu dan saling menghormati antara satu dengan yang lain.

 

Ditulis Oleh: Irwansyah (Wakil ketua II DPW KAMUS Kepri)