Bahaya Mikroplastik Dilautan

“Makan ikan memang enak lagi bergizi”, kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. “Ikan mengandung omega 3 yang bisa bikin anak-anak tumbuh sehat dan pintar” imbuhnya lagi. Tapi bagaimana bila ikan mengandung plastik? lautan dunia tercemar oleh limbah plastik/Bahkan menurut peneliti Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, Indonesia menjadi kontributor nomor dua di planet ini. Indonesia menghanyutkan 1,29 juta ton sampah plastik ke laut tiap tahunnya.

Muhammad Sahputra

Apakah ikan-ikan di laut pun harus memakan plastik tersebut? Para peneliti sedang meneliti dampak konsumsi ikan berplastik itu bagi kesehatan manusia. Saat plastik di lautan dihancurkan oleh kekuatan alam seperti sinar matahari dan ombak, maka plastik akan berubah menjadi mikroplastik, satu partikel punya diameter kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik yang dimakan ikan akan beredar ke semua organ tubuh ikan tersebut.

Chelsea M Rochman dan kawan-kawan pernah meneliti ikan yang dijual di Pasar Paotere di Makassar Indonesia sekaligus di California Amerika Serikat (AS). Hasilnya, ikan yang ditangkap nelayan di Makassar maupun di California sama-sama mengandung plastik. Di Pasar Paotere, mereka mengambil sampel 76 ikan. Ada ikan tilapia, cakalang, ikan kembung, ikan layang, ikan tamban, jenis-jenis ikan Carangidae, baronang, kakap merah, dan ikan selar. Hasilnya, 21 dari 76 ikan atau 28% dari sampel mengandung limbah plastik.

Mikroplastik di tubuh ikan itu berukuran lebih dari 500 mikrometer, rata-rata berukuran 3,5 mm, berkisar dari 0,1-4,5 mm tergantung bentuk. Mikroplastik itu berasal dari pecahan plastik (60%), gabus plastik (37%), plastik film (2%), dan tali pancing (1%). Di California, peneliti mengambil sampel 64 ekor ikan. Hasilnya, 25% ikan di negara maju itu juga mengandung mikroplastik. Di Eropa, ikan seabass dan goby juga mengandung plastik.

Dilansir media Independent, satu tim dari Malaysia dan Prancis menemukan ada 36 serpihan kecil plastik dalam tubuh 120 makarel, teri, belanak, dan ikan croacker.Plastik itu termasuk nilon, polistirena dan polietilena. Kerang dan remis juga mengandung plastik. Pengonsumsi kerang tingkat atas dinyatakan bisa mengonsumsi 11 ribu mikroplastik per tahun.

Zat kimia di plastik dapat menyebabkan keracunan. Bahan yang tak dapat diproses alam bisa terakumulasi di hewan dan kemudian masuk ke tubuh manusia.Dampak mikroplastik yang termakan ikan, kemudian dimakan manusia, memang masih belum jelas betul. Belum ada penelitian final soal ini. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB dalam situsnya mengakui soal ketidakpastian dampak mikroplastik semacam itu, riset lebih lanjut sangat dibutuhkan.Sebenarnya juga tidak hanya di laut, mikroplastik pun berterbangan di udara, sebagaimana dilansir CNN. Ini dipastikan oleh Profesor Frank Kelly dari King’s College London. Pupuk, limbah lumpur yang mengering, hingga serpihan karpet rumah juga bisa menghasilkan mikroplastik terbang.

Dilansir News Medical Life Science, Ada bahan di plastik bernama bisphenol-A atau BPA. Bahan itu ada dalam botol plastik dan perkakas plastik lainya. Bila perkakas itu mengalami kerusakan, BPA bakal terlepas pula. Sejak 1940-an, BPA dikenal mampu mengganggu kelenjar endokrin dan mengganggu fungsi hormon. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) merevisi sikapnya pada 2008, bila dulu FDA menyatakan BPA aman, maka sejak saat itu FDA menyatakan BPA berpotensi punya efek ke otak, perilaku, dan kelenjar prostat yang dimiliki janin dan anak-anak.

Amy Lusher dkk dalam paparan terbitan FAO PBB tahun 2017, mikroplastik dan nanoplastik yang terserap tubuh manusia lewat pernapasan dan implan prostesis menunjukkan efek beragam. Ada kerusakan DNA, perubahan gen serta perilaku protein, penggumpalan sel, nekrosis (kematian sel secara lokal), peningkatan dan kehilangan kemampuan hidup dari sel, stres oksidatif, peningkatan ion kalsium, kerusakan jaringan tisu tulang, dan luka pada organ.

Kembali lagi ke akibat mikroplastik yang dimakan ikan dan akhirnya disantap manusia, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan pernah memberikan pernyataan pada Workshop Pengelolaan Sampah Laut 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta, 27 Februari 2017 lampau. Dia mengutip penelitian di Pasar Paotere Makassar, dan menyatakan sampah plastik di ikan bisa terurai menjadi merkuri, bisa menyebabkan kanker, alergi, hingga mutasi gen manusia.

Mengingat pola konsumsi hasil laut yang tinggi oleh penduduk di negara kepulauan seperti Indonesia, dan potensi pariwisata bahari yang juga ikut terancam, kita wajib merespons masalah ini dengan segera untuk mencegah dan mengurangi risiko-risiko yang lebih buruk pada masa mendatang. Setidaknya beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya akumulasi dari sampah yaitu mengurangi penggunaan plastik, membuang sampah pada tempatnya, dan perduli terhadap lingkungan.

Ditulis Oleh : Muhammad Sahputra (NIM 180254241001), Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Prodi Ilmu Kelautan

Silahkan Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: