Membangun Kota Tanjungpinang Bebas Banjir dalam Konteks Lingkungan Cerdas

Banjir merupakan permasalahan yang sangat identik dengan sebuah kota. Dari mulai Kota Jakarta sampai Kota Tanjungpinang tak luput dari genangan banjir. Kota Tanjungpinang yang merupakan Ibu Kota dari Provinsi Kepri merupakan langganan terjadinya banjir tatkala musim penghujan datang. Banyak lokasi titik-titik banjir di Tanjungpinang yang membuat keresahan warga-warga yang tinggal di lokasi titik-titik banjir tersebut.

Contohnya seperti titik banjir yang ada di Jalan Pemuda Km.4, pada saat hujan turun sebentar saja drainase-drainase yang ada di penuhi oleh air. Lokasi jalan pemuda yang merupakan daerah cekungan membuat air mengalir dan berkumpul pada satu titik tersebut meluap ke jalanan, sehingga berdampak pada perumahan, pertokoan, dan sekolah yang ada di Jalan Pemuda Km.4.

Banjir yang terjadi di Jalan Pemuda ini merupakan akibat dari adanya rasa tanggung jawab dari masyarakat yang sangat minim terhadap lingkungan sekitar yang membuang sampah sembarangan, sistem drainase yang kurang berfungsi, dan naiknya volume air laut sehingga pada saat terjadi musim penghujan dan keadaan volume air laut sedang pasang membuat drainase-drainase yang tersedia cepat dipenuhi oleh air dan sampah-sampah yang terbawa arus banjir membuat drainase tersebut menjadi tersumbat dan air pun tidak dapat mengalir dengan semestinya.

Pada tahun 2017 telah terjadi perbaikan drainase yang direnacakan untuk meminimalisir luapan banjir nanti nya, tetapi setelah terjadi perbaikan drainase di jalan pemuda tetap saja debit air hujan tersebut tidak dapat di bendung dan tetap meluap ke jalanan, karena sistem drainase yang di perbaiki tidak sesuai dengan kondisi di lapangan karena pembangunan drainase yang di buat tidak dapat bekerja dengan baik dan juga masih melekatnya budaya membuang sampah sembarangan yang berakibat pada sumbatnya drainase-drainase tersebut.

Menurut masyarakat sekitar pembangunan drainase sebenarnya sudah membantu karena dengan adanya drainase setidaknya dapat menampung debit air yang lebih banyak dari drainase sebelumnya dan juga banjir pun lebih cepat surut tetapi kurang nya hanya salahnya perhitungan seberapa besar ukuran drainase yang seharusnya dibangun tidak sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga banjir pun tak dapat di hindari.

Untuk meminimalisir terjadinya banjir, pertama yang harus dilakukan adalah merubah pandangan dan pola pikir masyarakat sekitar karena merubah pola pikir merupakan hal yang susah untuk dilakukakan karena masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan untuk membuang sampah sembarangan, dan juga masyarakat harusnya lebih memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, menjaga kebersihan selokan-selokan dan membuang sampah pada tempat yang memang sudah disediakan agar nanti nya pada saat hujan turun sampah-sampah tidak memenuhi selokan dan drainase yang seharusnya dapat menampung air hujan. Dan bagi pemerintah untuk meminimalisir terjadinya banjir dengan cara sebaiknya membangun drainase-drainase yang memang diperlukan dan sebaiknya sebelum mambangun sebuah proyek lebih baik pemerintah turun ke lapangan agar dapat melihat langsung bagaimana kondisi di lapangan agar pembangunan yang dilakukan tidak salah perhitungan dan sasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: