Pentingnya Pemilih Pemula yang Cerdas

Sering kali dalam pesta demokrsi digelar, baik dilakukan dalam tahapan pemilu nasional, maupun dalam bentuk di daerah seperti pilihan kepala daerah selalu terlihat dengan nyata kehadiran kelompok pemilih pemula pada setiap pelaksanaan pemilihan umum. Ini sangat berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, dengan kategori usia 17 tahun keatas atau sudah menikah pada saat pemilihan umum dilaksanakan, maka bisa di jadikan sebagai kriteria pemilih pemula. (purbawasari, budiana, komariah, sani: 2014). Pemilih pemula mempunyai tanggungjawab untuk melakukan partisipasi politik dalam pemilihan umum yang dilakukan di negara ini, baik tingkat nasional maupun tingkat daerah yang dikenal dengan pemilukada. Banyak strategi yang bisa dibuat dan ditempuh dalam melakukan sosialisasi politik terhadap pemilih pemula, sehingga tidak terjebak dengan golput atau golongan putih alias tidak mencoblos. Salah satunya adalah melakukan kampanye politik di komunitas pemilih pemula dan memasang iklan politik baik yang di media elektronik maupun media cetak.

Edukasi Politik Pemilih Pemula Edukasi politik pemula dalam setiap momentum pemilu kepala daerah didaerah harus dilakukan dengan memperhatikan akan pentingnya dalam memahami demokrasi politik dalam konteks berjalannya suksesi kepemimpinan didaerah. pentingnya pendidikan politik bagi pemilih pemula seyogyanya di buat pada aktivitas-aktivitas di dalam sekolah, maupun dilingkungan luar sekolah, seperti dilingkungan kelompok sosial terkecil yaitu keluarga. Kemudian di ekternal bisa juga edukasi politik pemula dilaksanakan oleh organisasi yang didirikan oleh masyarakat dan serta forum-forum yang di inisiasi kelahirannya oleh masyarakat, demi terciptanya demokrasi yang sehat dan informative. (J.W Batawi:2013). Pada sekarang ini umur siswa-siswi SLTA/SMK adalah 16 sampai dengan umur 18 tahun. Dapat dilihat bahwa nantinya para siswa dan siswi akan menentukan pilihannya dalam demokrasi lokal yang diadakannya secara serentak. Kemudian tak kalah urgennya bagi pemilih pemula yang secara aktif berpartisipasi dalam pemilihan umum walikota didaerah, harus menjadi pemilih cerdas dalam menentukan pemimpinnya didaerah. kemudian diajarkan juga menjadi pemilih pemula yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang mengutamakan budaya politik yang beretika. (Ambar Setiyawati:2013).

Kemudian pertanyaannya bagaimana strategi menjadi pemilih pemula yang cerdas dalam pemilukada hari ini. bisa dijelaskan dari hasil riset-riset terdahulu sebagai berikut:

  1. Harus adanya dukungan dari keluarga dan lingkungan tempat tinggal serta para tokoh masyarakat melalui pendidikan politik secara dini pada pemilih pemula, sehingga bisa meningkatkan mutu atau kualitas dan cerdas pada pemilih pemula dalam dunia politik. Pemerintah harus menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung kegiatan pemilih pemula dalam pendidikan politik dan merangsang untuk berpartisipasi aktif untuk menjadi pemilih pemula yang cerdas. (Agus Muslim:2013)
  2. Harus ada penyajian iklan dengan Tema “Generasi Pemilih Cerdas dalam pemilu” di dalam media televisi lokal. Dan jangan sampai menggunakan bahasa yang mempersulit pemilih pemula dalam memahaminya. Selanjutnya harus ada komitmen yang kuat dari penyelenggara yaitu Komisi Pemilihan Umum untuk membuat iklan dengan durasi yang panjang dengan gambaran yang jelas tentang baik buruknya jika tidak memberikan suara (Aulia Nur Islami:2016).
  3. Adanya sosialisasi pemilu pemula yang duduk dibangku SLTA seperti hasil riset di Kota Semarang Melalui Lomba Pemilu Ketua OSIS SMA, SMK, MA se Kota Semarang merupakan media sosialisasi yang murah dan efektif,dibandingkan melalui kegiatan sosialisasi yang bersifat umum/ceramah didukung 100 persen responden (Hery Pamungkas:2015).
  4. Harusnya pendidikan politik bagi pemilih pemula merupakan agenda yang sangat penting, karena proses demokratisasi memerlukan syarat mutlak keterdidikan rakyat. rakyat yang terdidik secara politik adalah warga negara yang sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara sehingga ia bisa mandiri ikut berpartisipasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu bentuk pendidikan pemilih untuk pemilih pemula diharapkan merujuk kepada karakteristik pemilih pemula tersebut, seperti bagaimana penentuan strategi, materi, dan metode pendidikan pemilih tersebut didesain.(Suryanef, AL Rafni: 2015).
  5. Perlu adanya sosialisasi politik oleh partai pengusung pasangan calon kepala daerah sehingga dapat memaksimalkan kesadaran pemilih pemula dalam pemilihan umum, kemudian peran serta keluarga atau orang tua dalam memberikan pemahaman akan pentingnya memberikan hak suara mereka tanpa intervensi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dalam menentukan pilihan. Selanjutnya harus ada pendidikan yang simultan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah dlm bentuk pengintegrasian kurikulum-kurikulum disekolah-sekolah, maupun yang dilakukan oleh partai politik (Werpen Wenda:2014).

Kesimpulannya Dalam kesimpulan pembahasan ini dapat pahami bahwa untuk menjadi pemilih pemula yang cerdas ternyata secara internal harus didukung oleh pihak keluarga yang memberikan pemahaman akan pentingnya dalam memberikan hak suaranya dalam demokrasi lokal dan nasional. Dan secara ekternal peran Kpu juga harus ada kerja sama dengan pihak sekolah untuk bisa melakukan simulasi pilkada dan memberikan akan pentingnya hak suara dalam perpolitikan saat ini. ditambah dengan pendidikan politik kepada pemilih pemula dan juga harus didukung oleh sosialisasi partai politik dalam mengusung calon kepala daerahnya.

 

Referensi:

  1. Suryanef, Al Rafni, 2015. Pendidikan Pemilih (Voter’s Education) Bagi pemilih Pemula serta urgensinya dalam pembangunan Demokrasi. Prosiding SNaPP2015 Sosial,Ekonomi, dan Humaniora.
  2. AN Isami, 2016. Pemilih Cerdas Pemilu 2014 terhadap minat memilih bagi pemilih pemula (Studi Korelasional Pengaruh Tayangan Iklan Generasi Pemilih Cerdas). Jurnal.Usu.ac.id
  3. A Setiyawati, 2013. Implementasi Nilai-Nilai Demokrasi Pada Pemilih Pemula (Studi Kasus pada Pemilih Pemula di Pemilihan Kepala Desa Kebak Kecamatan Kebakkramat. Eprints.ums.ac.id.
  4. A Akdasenda, R Martini, 2013. Pemimpin Ideal Menurut Pandangan Pemilih Pemula Di Kota Semarang Dalam Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2014. Journal of Politic and Government 2013-ejournal3.undip.ac.id
  5. Werpen Wenda, 2014. Tingkat Kesadaran Politik Pemula Dalam Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lanny Jaya Provinsi Papua (Suatu studi di Distrik Pirime).Jurnal Politico, 2014-ejournal.unsrat.ac.id
  6. Hery Pamungkas, 2015. Strategi Televisi Lokal, Membentuk Opini Pemilih Pemula Dengan Cerdas. Jurnal Ilmu Komunikasi 2015.

 

 Ditulis Oleh : Suyito,S,Sos,M.Si.

Silahkan Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: