Dekonstruksi Makna Politik Pilwako

Ajang politik lokal hari ini sudah menjadi tradisi yang berulang secara terus menerus. Realitanya menjadi suatu kebiasaan setiap Lima tahun sekali.

Makna Kebiasaan Setiap Lima Tahun Sekali
Makna kebiasaan jika didekontruksi atau dibongkar, kebiasaan pilwako yang lima tahun sekali, hanyalah rutinitas struktural administratif sifat nya. kebiasaan ini selama lima tahun, dimaknai dengan makna pilkada langsung yang selalu melibatkan masyarakat dalam menentukan pilihannya dalam politik elektoral ini. Makna rutinitas ini akhirnya menjadi imperium Citra berjalannya demokrasi di tingkat lokal.

Makna Mahar dalam Pilwako
Pilwako tanjungpinang juga diwarnai dengan kebiasaan parpol dalam aksi dukung mendukung calon yang akan maju dengan tingginya mahar politik yang sering kali indikatornya dilihat dari banyakny kursi di legislatif. Mahar politik menjadi modal politik calon yang akan maju sebagai kandidat. Seringkali dalam memenuhi mahar politik, para kandidat menggandeng pebisnis untuk mendanainya dengan janji dan kontrak politik-ekonomi. Sehingga memiliki modal dalam memenangkan pertarungan dalam politik elektoral di daerah.

Makna Koalisi dalam Pilwako
Makna koalisi sudah menjadi pembicaraan diranah publik dengan strategi dan taktik partai politik dalam mengemas calon yang akan maju. bagi partai politik yang tidak cukup syarat secara fungsional administratif harus berkoalisi dengan parpol yang punya kursi juga di DPRD, tetapi koalisi dibangun tidak hanya kontrak politik semata, tetapi deal-deal secara mahar politik juga terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh laswell, politik itu instrumennya siapa dapat apa, posisi dimana, dan saling menguntungkan. Makna koalisi juga dibangun untuk memperkuat kemenangan kandidat.

Makna Pencitraan dalam Pilwako
Pencitraan kandidat dengan cara menjual figur dan dukungan sejumlah partai, dikemas dengan cara cara dibangun kelebihannya didepan publik. panggung depan pencitraan dibangun lewat personal front, dengan memperlihatkan kepedulian terhadap masyarakat. padahal sebelumnya tidak pernah dilakukannya, sehingga terlihat tidak konsisten selama ini dengan kepribadian sehari harinya, begitulah imperium pencitraan di bangunnya.

Makna Kompetisi dalam Pilwako
Kompetisi dalam pilwako antar kandidat, sudah dimulai dengan beragam strategi dan taktik antar kandidat. ramainya kompetisi antar timses terlihat dengan jelasnya dimedia sosial. Di media sosial antar tim sukses menebar kelebihan kelebihan kandidat nya masing-masing biar bisa mempengaruhi publik. Masing masing kandidat dicitrakan dan simbolkan dengan gaya yang berbeda-beda seperti drug store atau toko obat, sehingga memberikan kesempatan kepada publik untuk terpengaruh dan memilihnya. ruang publik memang pastinya akan dipengaruhi oleh macam -macam realitas dan hiperealitas politik kandidat. ruang publik akan dipengaruhi juga masing-masing penafsiran.

Secara hermeneutika ada 3 yang terjadi dalam dunia tafsir politik.

1. Penafsiran secara curiga, apapun yg diposting oleh masing-masing kandidat pasti akan mendapat serangan balik dari kandidat lainnya. karena se-tiap kandidat memang punya akar pengetahuan tentang kandidat lainnya lewat informan yg menjadi timsesnya.

2. Penafsiran dengan positif, artinya penafsiran terhadap calon kandidatnya masing-masing akan mendapat tempat dengan pujiannya, sehingga dibangun dan dikonstruksi ke ranah publik dan membeli kesan serta dicitrakan dengan simulasi simulasi yg berhasil dan sukses.

3. Penafsiran dengan tidak tahu duduk persoalannya. ada juga komunitas publik yg tidak memahami ttg pilwako tanjungpinang dengan disorientasi politiknya dan lamban melalukan reorientasi politik, akhirnya menjaga jarak dengan aktivitas politik di media sosial.. tetapi pengaruh media sosial seperti Facebook sangat besar juga mempengaruhi publik dan individual dalam menentukan sikap politiknya.

 

Ditulis Oleh : Sosiolog Tanjungpinang, Suyito, M.Si

Silahkan Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: