Membentuk Jiwa Wirausaha Yang Tangguh Menghadapi Persaingan Global

Wirausahawan (entrepreneur). Memiliki peran sangat penting dan  menjadi fasilitator bagi kemajuan ekonomi sebuah negara. Provinsi Kepulauan Riau menghadapi krisis ekonomi dan lapangan pekerjaan menuntut masyarakat agar melihat dan mengambil peluang untuk berani menjadi wirauaha. Menurut Pak Ci (Ciputra, chairman kelompok usaha Ciputra), Indonesia membutuhkan setidaknya 2% penduduknya menjadi wirausaha untuk menopang kemajuan ekonomi. Padahal saat ini hanya terdapat sekitar 0,8% penduduk Indonesia yang menjadi wirausahawan. Entrepreneurship pada prinsipnya adalah upaya menciptakan nilai tambah, dengan menangkap peluang bisnis dan mengelola sumber daya untuk mewujudkannya. Tentu harus disertai pengambilan risiko dalam porsi yang tepat.

Senin, 30 Oktober 2017, UMRAH menyelenggarakan Worshop Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), guna membekali mahasiswa pengetahuan bagaimana penyusun proposal PKM  yang memiliki potensi besar  untuk melatih diri menjadi wirausaha muda, tangguh dan berprestasi, selain dari berlomba untuk mendapatkan biaya pelaksanaan program PKM itu sendiri dari Kemerstistiedikti.   Lantas jika ingin mencetak wirausahawan yang tangguh dalam jumlah  (1)% saja dari jumlah penduduk Indonesia, maka  faktor lingkungan mempunyai peran yang signifikan dalam pembentukan jiwa kewirausahaan. Salah satu faktor lingkungan yang berperan  membentuk jiwa kewirausahaan adalah budaya.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa keberhasilan sesorang ditentukan oleh pendidikan formal hanya sebesar 15% dan selebihnya 85% ditentukan sikap mental atau kepribadian. Saat ini pengangguran tidak hanya berstatus lulusan SD sampai SMA saja, tetapi banyak juga sarjana. Perusahaan makin selektif menerima karyawan baru sementara tingkat persaingan semakin tinggi. Tidak ada jaminan seorang sarjana memperoleh pekerjaan. Contohnya; Sebagai mahasiswa yang ingin membangun jiwa wirausaha, harus mampu belajar merubah sikap mental yang kurang baik dan perlu dimulai dengan kesadarn, kemauan untuk mempelajari ilmu  kemudian menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jiwa wirausaha dapat berkembang seiring dengan inginnya seseorang mencari penghasilan dari faktor keadaan ekonomi yang tidak mendukung, sehingga banyak jiwa kewirausahaan yang muncul pada fikiran seseorang akibat desakan ekonomi tersebut, umur bukanlah ukuran untuk menanamkan jiwa kewirausahaan tapi kesadaran akan betapa bernilainya uang untuk dihasilkan, karena banyak dari para wirausahawan memiliki keinginan berwiraswasta karena timbul keinginan terbesar yaitu ingin memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Dalam Islam, berwirausaha merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, karena keberadaannya sebagai khalifah fil-ardh  untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik. Dalam surat Al-Jumu’ah [62] : 10 “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan banyak-banyak mengingat Allah supaya kamu beruntung”.

Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang terus mendorong semangat wirausaha di kalangan para sahabat-sahabatnya. Pada suatu ketika, Sa’ad bin Musa Al-Anshari menuturkan sebuah kisa             h, bahwa pada waktu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa’ad yang melepuh. Kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasulullah. “Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”  Rasulullah lalu mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak pernah disentuh api neraka, Dalam riwayat yang lain, setelah mencium tangan pekerja, beliau bersabda, “Hadzihi yaddun yuhibuhallahu wa Rasuuluhu” inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. “(HR At-Thabahari)

Rasulullah pernah menjalani hidup dalam masa-masa sulit, tapi beliau punya semangat untuk berkembang, kreatifitasnya, usahanya untuk hidup mandiri yang merupakan karakter dasar jiwa wirausaha.

Kejujuran Beliau (Muhammad. SAW), Pribadi Beliau yang menyenangkan, juga ketekunan beliau. Semua itu merupakan modal yang harus dimiliki oleh wirausahawan. Apa yang dimiliki Rasulullah, dalam dunia bisnis, biasa disebut sebagai personality.

Dua puluh lima tahun lamanya Nabi Muhammad SAW.  mendedikasikan diri pada dunia wirausaha, semenjak beliau baru berusia 12 tahun hingga 37 tahun. Selama itu, kecerdasan, ketekunan, keuletan dan kejujuran telah menempatkan Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam sebagai wirausahawan yang disegani di Jazirah Arab.

Indonesia membutuhkan sekitar 2,5% wirausaha, namun pada kenyataannya saat ini hanya ada sekitar 0,08% wirausaha yang memberanikan  diri untuk terjun dalam dunia usaha.  Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk menumbuhkan para wirausahawan ini. Pertama, memberikan modal usaha bagi para pengusaha (terutama para pengusaha muda) dan pendampingannya. Kedua mempermudah izin bagi yang akan mendirikan usaha. Ketiga, dimasukannya kurikulum berbasis soft skills dan entrepreneurship dalam pelajaran sekolah untuk segala jenjang pendidikan.

 

YANG BERPERAN MEMBENTUK JIWA WIRAUSAHA

Langkah awal yang di lakukan apabila berminat terjun ke dunia wirausaha adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini, di perlukan peran  dari orangtua sebagai pendidik utama. Yang kedua adalah Guru dan Dosen di Perguruan Tinggi.  Guru atau dosen berpengaruh pada pembentukan pribadi peserta          didik.  Mereka bisa berperan dalam membuat peserta didik  menjadi seorang enterpreneur. Untuk itu,          guru dan dosen  harus       kreatif Ke Empat, adalah Peran masyarakat, jika setiap lembaga keluarga sudah membentuk jiwa wirausaha bagi anggota keluarganya itu sendiri, maka akan muncul sebuah asumsi dalam masyarakat bahwa menciptakan pekerjaan lebih baik dari pada mencari pekerjaan. dan Kelima adalah; Peran Pemerintah. Pemerintah berharap, jumlah wirausaha dalam negara bisa mencapai   2%-3% dari saat ini O,18% melalui pendidikan kewirausahaan di berbagai lembaga pendidikan dalam negeri. Tahun 2010 misalnya, ditargetkan 10.000 mahasiswa siap menjadi wirausaha muda yang mandiri. 

Tidak mudah membentuk jiwa wirausaha,  seseorang yang yang terlahir bukan dari seorang keluarga wirausahawan akan memperoleh banyak tantangan dalam membentuk jiwanya untuk menjadi seorang wirausaha.  Namun demikian akan mudah apabila mau mengerti secara rinci makna kewirausahaan M.Musrofi (2008:2) yaitu;  Gabungan kata dari ke-an, wira dan usaha. Ke-an adalah imbuhan yang menunjukkan sifat.  Wira artinya utama, gagah, berani atau teladan. Usaha secara umum berarti proses kegiatan untk mendapatkan keadaan yang lebih baik.

 

KARAKTER WIRAUSAHAWAN SUKSES

Tidak bisa di pungkiri bahwa seorang wirausahawan memiliki sifat dan prilaku yang berbeda dengan orang kebanyakan. Ciri-ciri ini seakan mengiringi langkah-langkah seorang pengusaha. Untuk menjadi seorang pengusaha yang handal tidak ada salahnya untuk dapat mempelari ciri-ciri tersebut agar dapat di pelajari dan di laksanakan oleh para calon pengusaha/wirausahawan.

 

Desire for responsibility

Wirausaha yang unggul merasa bertanggungjawab secara pribadi atas hasil usaha yang dia lakukan. Mereka lebih dapat mengendalikan sumberdaya sumberdaya yang dimiliki dan menggunakan sumberdaya tersebut untuk mencapai cita-cita. Wirausaha yang berhasil dalam jangka panjang haruslah memiliki rasa tanggung jawab atas usaha yang dilakukan. Kemampuan untuk menanggung risiko usaha seperti: risiko keuangan, risiko teknik adakalanya muncul, sehingga wirausaha harus mampu meminimalkan risiko.

 

Tolerance for ambiguity

Ketika kegiatan usaha dilakukan, mau tidak mau harus berhubungan dengan orang lain, baik dengan karyawan, pelanggan, pemasok bahan, pemasok barang, penyalur, masyarakat, maupun aturan legal formal. Wirausaha harus mampu menjaga dan mempertahankan hubungan baik dengan stakeholder. Keberagaman bagi wirausaha adalah sesuatu hat yang biasa. Kemampuan untuk menerima keberagaman merupakan .suatu ciri khas wirausaha guna menjaga kelangsungan hidup bisnis atau perusahaan dalam jangka panjang.

 

Vision

Wirausaha yang berhasil selalu memiliki cita-cita, tujuan yang jelas kedepan yang harus dicapai secara terukur. Visi merupakan filosofi, cita-cita dan motivasi mengapa perusahaan hidup, dan wirausaha akan menterjemahkan ke dalam tujuan, kebijakan, anggaran, dan prosedur kerja yang jelas. Wirausaha yang tidak jelas visi kedepan ibarat orang yang berjalan tanpa arah yang jelas, sehingga kecenderungan untuk gagal sangat tinggi.

 

Tolerance for failurer                     

Usaha yang berhasil membutuhkan kerja keras, pengorbanan balk waktu biaya dan tenaga. Wirausaha yang terbiasa dengan kreativitas dan inovasi kadangkala atau bahkan sering mengalami ketidakberhasilan. Proses yang cukup panjang dalam mencapai kesuksesan tersebut akan meningkatkan kepribadian toleransi terhadap kegagalan usaha.

 

Internal locus of control

Didalam diri manusia ada kemampuan untuk mengendalikan diri yang dipengaruhi oleh internal diri sendiri. Wirausaha yang unggul adalah yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dari dalam dirinya sendiri. Kerasnya tekanan kehidupan, persaingan binis, perubahan yang begitu cepat dalam dunia bisnis akan meningkatkan tekanan kejiwaan balk mental, maupun moral dalam kehidupan keseharian. Wirausaha yang mampu mengendalikan dirinya sendiri akan mampu bertahan dalam dunia bisnis yang makin komplek.

 

Continuous Improvement

Wirausaha yang berhasil selalu bersikap positif, mengangap pengalaman sebagai sesuatu yang berharga dan melakukan perbaikan terus-menerus. Pengusaha selalu mencarihal-hal baru yang akan memberikan manfaat balk dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Wirausaha memiliki tenaga, keinginan untuk terlibat dalam petualangan inovatif yang akan membawa konsekuensi menguntungkan dimasa depan.

 

Preference for moderate risk.

Dalam kehidupan berusaha, wirausaha selalu berhadapan dengan intensitas risiko. Sifat wirausaha dalam menghadapi resiko dapat digolongkan ke dalam 3 macam sifat mengambil resiko, yaitu risk seeking (orang yang suka dengan risiko tinggi), moderat risk (orang yang memiliki sifat suka mengambil risiko sedang), dan risk averse (orang memiliki sifat suka menghidari risiko) Pada umumnya wirausaha yang berhasil memiliki kemampuan untuk memilih risiko yang moderate/sedang, di mana ketika mengambil keputusan memerlukan pertimbangan yang matang, hal ini sejalan dengan risiko wirausaha yang apabila mengalami kegagalan di tanggung sendiri.

 

Confidence in their ability to success.

Wirausaha umumnya memiliki keyakinan yang cukup tinggi atas kemampuan diri untuk berhasil. Mereka memiliki kepercayaan yang tinggi untuk meiakukan      banyak hal     dengan balk dan sukses.   Mereka cenderung untuk optimis terhadap peluang keberhasilan dan optimisme, biasanya berdasarkan kenyataan. Tanpa keyakinan kepercayaan untuk sukses dan mampu menghadapi tantangan akan menurunkan semangat juang dalam melakukan bisnis.

 

Desire for immediate feedback.

Perkembangan yang begitu cepat dalam kehidupan usaha menunut wirausaha untuk cepat mengantisipasi perubahan yang terjadi agar mampu bertahan dan berkembang. Wirausaha pada umumnya memiliki keinginan untuk mendapatkan respon atau umpan balik terhadap suatu permasalahan. Persaingan yang begitu ketat dalam dunia usaha menuntut untuk berpikir cerdas, cepat menanggapi perubahan. Wirausaha memiliki kecenderungan untuk mengetahui sebaik apa ia bekerja dan mencari pengakuan atas prestasi secara terus-menerus.

Hasil  wawancara mahasiswa   matakuliah kewirausahaan terhadap beberapa wirausaha di Tanjung Pinang  mengatakan bahwa, “Jiwa wirausaha dapat terbentuk bilamana pekerjaan tersebut di tekuni.”  Pendapat dimaksud  sangat sederhana,  tapi  mempunyai  makna  artinya “focus”  pada sesuatu yang sedang di kerjakan.

 

Oleh : Akhirman.S.Sos,.MM (Dosen FE. UMRAH Tanjungpinang)

 

 

Silahkan Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: