MUDIK

Secara Filosopis tradisi mudik merupakan bentuk kerinduan terhadap kampong halaman. Karena sudah begitu lama merantau, dan mengadu nasib dikota besar. Sukses dikota besar selalu mereka dambakan dalam perjalanannya, kemudian ada juga tidak sukses dalam pekerjaannya. Tetapi walau begitu tetap saja saat momentum akan lebaran mudik merupakan kebiasaan dari dulu. Momen lebaran mudik kekampung banyak bisa dilakukan, seperti bermaaf-maafan dengan orang tua, kerabat dekat dan tetangga dilingkungan sekitar. Karena didesa atau dikampung akan terasa kekeluargaan saat lebaran, dibandingkan dikota sangat individualis dan jauh dari spirit kebersamaan.

 Seperti pendapat Ferdinand Tonies sosiolog Inggris, dengan konsep gemeinschaft dan gesellschaft. Gemeinschaft adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat oleh hubungan bathin yang murni serta bersifat nyata dan organis, kelompok paguyuban sering dikaitkan dengan masyarakat desa atau komunal dengan ciri-ciri adanya ikatan kebersamaan kolektif yang sangat kuat. Bentuk Gemeinschaft  adalah keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga dan sebagainya. Sedangkan Gesellschaft adalah merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan sebagai sebuah mesin. Bentuk Gesellschaft terdapat dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik misalnya antara pedagang dan organisasi dalam suatu pabrik. Jadi wajar saja semangat mudik sangat besar keinginannya oleh para pekerja dikota-kota besar, karena semangat Gemeinschaft atau kekerabatan didaerah atau dikampung ikatan kebersamaan kolektif yang mengikatnya. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang sifatnya gesellschaft, ikatan kekeluargaannya terasa longgar dan semangat kebersamaan juga tidak terlihat harmonisnya. Semuanya diikat oleh kepentingan individu dan ekonomi. Seperti yang diungkapkan Durkheim seorang sosiolog Perancis, tentang solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Solidaritas mekanis adalah solidaritas yang muncul pada masyarakat yang masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif serta belum mengenal adanya pembagian kerja diatara para anggota kelompok, biasanya dimasyarakat pedesaan. Kemudian solidaritas organis motivasi didorong oleh saling ketergantungan antar anggota dan spesialisasi pembagian kerja. Motivasinya selalu ekonomi semata,ikatan kekeluargaannya tidak sehangat didesa. Biasanya solidaritas organis ini pada masyarakat perkotaan. Mengacu dari dua pendapat sosiolog Inggris dan Perancis diatas sangat jelas sekali bahwa motivasi mudik yang dilakukan oleh para perantau dikota-kota besar, karena semangat gemeinschaft dan solidaritas mekanis atau semangat silaturahmi yang sudah setahun lamanya tidak dilakukan yang mendasarinya. Kemudian menurut Talcot Parson mengatakan integrasi masyarakat selalu dinomor satukan, kemudian individu-individu harus tetap berkontribusi agar masyarakat tetap bertahan. Disamping itu agar keteraturan sosial lewat silaturahmi antar masyarakat juga bisa dipertahankan. Jadi ternyata pembauran itu dimasyarakat pedesaan sangat penting, sebab apabila ada sanak kekeluarga yang tidak pulang kampong akan dipertanyakan oleh orang-orang yang ada dikampung. Itulah contoh masyarakat pedesaan yang masih kuat integrasinya, jadi motiv pulang mudik tetap didasari dengan kangen dan rindu akan saudara dikampung. Selanjutnya  semangat kekerabatan kolektif atau silaturahmi dengan kerabat  menjadi dasar atau motivasi saat mudik kekampung. Kemudian  Spirit maaf-memafkan masih begitu hangat dan sangat berarti nilainya, karena kita masih memahami dan mendalami tentang makna puasa dan idul fitri. Dikampung saat mudik makna Filosofis Memaafkan (sejatinya) adalah memaafkan yang tak ter-maafkan” ujar Jacques Terrida dalam buku “On Cosmopolitanism and Forgiveness”.

Tradisi mudik ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran akan selalu ada dan terus berlangsung dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia. karena mudik menggambarkan kemampuan masyarakat pedesaan atau dikampung mempertahankan   integrasi dan solidaritasnya.  Menurut Parson (Ritzer dan Godman:2004) System budaya mempengaruhi semua system melalui “sosialisasi, institusionalisasi, dan internalisasi. Sosialisasi mudik dipelajari secara turun menurun oleh orang-orang yang kerja dikota besar, kemudian dilanjutkan oleh keturunannya dan sanak kerabatnya. Kemudian akhirnya nilai-nilai kebiasaan mudik sudah menjadi terlembagakan/institusionalisasi/keharusan setiap tahun dilakukan dimasyarakat. Selanjutnya secara internalisasi kebiasaan mudik  sudah menjadi darah daging dalam jiwa-jiwa anggota masyarakat setiap menyambut hari raya idul fitri. Mudik juga menjadi suatu rutinitas kebutuhan setiap orang merantau.

 Menurut Anthony Gidden seorang sosiolog inggris, mengatakan Rutinitas yaitu rutin, apapun hal yang dilakukan dengan kebiasaan merupakan element paling dasar dari aktivitas sosial sehari-hari. Rutinitas merupakan hal yang penting dalam mekanisme psikologis yaitu rasa percaya diri dalam diri manusia kemudian dilanggengkan dalam aktivitas manusia. Jadi mudik sudah menjadi Rutinitas budaya, sosial dan psikologis dalam masyarkat kita hari ini. Artinya kebutuhan mudik akan mendekatkan masyarakat kembali dengan perantau untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Karena secara psikologis setahun lebih tidak bertemu tentu saja selain kangen, rindu juga semangat ukhuwah islamiyah menjadi spiritnya. silaturahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampung.  Kemudian secara sosiologis, mudik Lebaran mendekatkan si perantau yang sudah sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua, famili dan teman-teman. Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Kondisi yang tidak diharapkan dari mudik adalah  Konsumerisme dan pamer kemewahan bisa dilihat dari banyaknya mobil-mobil yang parker disetiap sudut kampung. Sementara itu sebagian besar masyarakat pedesaan masih dihimpit dengan kemiskinan dan kebodohan. Makna puasa sebulan penuh ternyata hanya dijadikan ritualitas tanpa bekas, dan kalah dengan budaya pamer. Orang-orang kampong mengalami goncangan budaya, karena melihat budaya pamer para pemudik didesa. Akhirnya membuat masyarakat menjadi iri, konflik didesa juga terjadi dimasyarakat tempat berkompetisi atau persaingan para pemudik untuk menunjukkan kekayaannya. Orang kampung pasti meniru dan mengikuti cara hidup orang kota pulang kampung. Selanjutnya orang desa atau kampung akan tertarik mendengar cerita suksesnya pemudik merantau, menjual tanah dan binatang peliharannya untuk bisa ikut dan kerja diperkotaan. Sehingga memacu terjadinya urbanisasi ke kota besar. Padahal dikota besar untuk kerja disektor formal dibutuhkam modal ijazah yang tinggi dan keahlian. Akhirnya mereka  merantau tidak punya keahlian, dan terjebak jadi perampok, penjaja sex dan pengemis. Dalam sejarah mudik Lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota. Itulah fenomena mudik yang terjadi dimasyarakat kita. Semoga spirit  mudik Lebaran mendorong seluruh masyarakat  Indonesia untuk mengambil hikmahnya untuk perbaikan kedepan. Semoga!!!

Ditulis Oleh : SUYITO, M.Si (Dosen Sosiologi Stisipol Raja Haji)

 

Silahkan Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: