Kampus

Millenial Dengan Politik

Indonesia telah berdiri lama dan melewati banyak perjalanan mulai dari zaman kerajaan hingga zaman modern seperti sekarang ini. Pada zaman modern ini juga muncul sebutan generasi millenial.

Ketika mendengar kata “Generasi Millenial” tentu kita akan langsung tertuju pada sekelompok anak muda yang memiliki rasa semangat dan kreativitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.  Namun, “Millenial” juga tak jarang disematkan pada sekelompok anak muda yang memiliki pemikiran labil, mudah terbawa arus perkembangan zaman, terlalu idealistis dan kurang realistis, serta belum berpengalaman.



Meskipun begitu para pemuda tentu harus tetap memiliki cita-cita, jika tidak mereka akan berhenti berusaha. Millenial dijadikan harapan sebagai change agent, yaitu generasi yang akan menuntun transformasi dunia ke arah yang lebih baik melalui perbaikan dan pengembangan.

Hal tersebut sejalan dengan kedekatan dan kemampuan millenial dengan teknologi. Kemampuan tersebut membuat millenial dapat dengan udah mendapat banyak informasi lebih cepat mengenai berbagai hal, yang membuat mereka menjadi sosok yang dinamis, responsif, dan optimis. Millenial dengan rasa semangat dan ide-ide yang dimiliki diharapkan mampu menjadi change agent di semua sektor kehidupan, termasuk politik.

Menurut para ahli soial dan demografi, generali millenial yang juga sering disebut dengan Gen-Y (semua anak muda yang lahir pada kisaran tahun 1981-1997) memiliki rasa kusioritas yang tinggi, sisi kritis yang lebih tajam, memiliki minat yang tinggi untuk berkolaborasi dengan suatu grup, dan tentunya lebih menguasai teknologi dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, yaitu Baby boomer (kelahiran tahun 1946-1964) dan Generasi X (kelahiran tahun (1965-1980).

Namun, adanya stigma buruk millenial mengenai politik, munculnya pemberitaan tentang korupsi dari anggota legislatif dan para pejabat membuat millenial beranggapan bahwa politik memanglah suatu hal yang buruk. Disinilah diperlukannya pendidikan politik untuk generasi millenial agar mereka dapat terjun ke dunia politik, tidak hanya sebagai pendukung melainkan pemimpin.



Menurut Tapscott, kesadaran modernitas pemuda atas nasionalisme tidak lagi bersifat historis melainkan sangat fungsional. Dengan adanya pendidikan politik dapat membuka pandangan pemuda mengenai isu-isu ekonomi, sosial, dan politik. Pendidikan politik generasi milenial tidak didapat dengan cara-cara konvensional melainkan melalui media sosial. Sehingga transformasi politik yang terhubung keinternet dapat memberikan akses yang bersifat personal.

Ketika mengaitkan millenial dengan politik, bisa dikatakan millenial rawan terhadap monopoli politik. Namun, di sisi lain millenial dapat menjadi katalisator politik hingga menciptakan iklim politik baru yang lebih baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa politik sering disalahgunkan oleh oknum politisi demi jabatan, kekuasaan, dan materi, sehingga banyak generasi millenial yang berkualitas menghindar dan acuh terhadap politik.

Hal tersebut menyebabkan banyak politisi yang minim kualitas menempati posisi-posisi penting di pemerintahan, jika dibiarkan hal tersebut dapat menjadi awal kekacaun birokrasi negara. Millenial seharusnya dirangsang untuk memiliki sudut pandang bahwa politik bisa menjadi alat yang efisien untuk memberikan kesejahteraan hidup.

Kelompok millenial yang dipenuhi dinamika diharapkan dapat membawa gairah dan terobosan-terobosan baru yang dapat membawa bangsa ini ke pintu keberhasilan, mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain. Kepemimpinan para kaum muda tentu harus dikembangkan melalui proses-proses penempaan diri dengan dukungan dari berbagai pihak, yang dapat memberikan sumbangsih kaum millenial untuk terus berkarya dalam membangun bangsa.



Keberadaan kaum millenial dalam dunia perpolitikan khususnya legislatif memang akan menemui babak baru dalam sejarah Indonesia dengan banyaknya caleg millenial yang ingin menyuarakan ideologi dan perubahan yang lebih baik, dan tentunya tidak lepas dari peran politisi-politisi senior yang sudah berpengalaman.

Kolaborasi yang baik tentu akan memunculkan inovasi dan peranan yang memberikan dampak signifikan dalam menentukan arah perubahan kebijakan. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang berkesinambungan untuk mempersiapkan pemuda-pemuda sebagai generasi penerus yang cakap, mumpuni, bertutur kata, bertingkah laku serta bertindak sesuai dengan Pancasila sebagai dasar negara demi mewujudkan kehidupan yang sejahtera sesuai dengan cita-cita bangsa yang terdapat dalam pembukaan Undang-Undang dasar 1945.

Dengan semangat yang begitu besar sudah selayaknya bangsa ini mampu menghargai dan membangun integritasnya dengan melibatkan kaum muda dalam mewujudkan kepemimpinan generasi millenial di masa yang akan datang.

Generasi millenial yang memiliki komunikasi terbuka, fanatik terhadap media sosial, kehidupan yang terpengaruh dengan teknologi, serta cara pandang yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Sayangnya, gerakan millenial dalam kontestasi politik Indonesia masih belum mendapatkan muaranya.



Generasi millenial masih dianggap sebagai generasi yang apatis terhadap politik. Tetapi dengan adanya tren politik millenial dapat menjadikan generasi ini peduli atas kesadaran politik untuk mengembangkan ekonomi negaranya. Selain itu, para politsi-politisi yang sudah berpengalaman juga mempunyai peran dan tanggung jawab untuk memberikan edukasi politik atau konten-konten yang positif kepada generasi millenial melalui media sosial sehingga kesadaran politik yang terbentuk adalah kesadaran politik yang positif.

Para politisi dan elite politik juga seharusnya tidak boleh mendekatkan diri dengan millenial hanya untuk mendapatkan suara saat pemilihan saja. Kesadaran politik harus dibarengi dengan memberikan mereka panggung di politik Indonesia. Sudah saatnya para elite politik memberikan panggung untuk generasi millenial. Ruang-ruang bagi generasi millenial juga harus terbuka luas.

Golongan tua dan para elite politik harus memberikan kepercayaan kepada generasi millenial untuk terlibat aktif dalam dunia politik. Jangan sampai apa yang dikatakan oleh Daniel Wittenberg pada 2013 lalu menjadi kenyataan di Indonesia. Millenial mulai tertarik dengan isu politik, namun mereka tersingkirakan karena tidak diberi tempat.



Penulis:

Firsty Anindhita Putri Ayu
Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Publik Stisipol Raja Haji

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close