Kampus

Pentingnya Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Menurut  Prof. Notonagoro, Pancasila adalah dasar falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan, serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia. Sehingga masyarakat harus melakukan aktivitasnya sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Pancasila mengandung nilai-nilai yang berbeda dalam setiap silanya, meskipun begitu semua nilai-nilai ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis sehingga dalam aktualisasi dan realisasi nilai-nilai Pancasila setiap sila haruslah berhubungan dengan sila yang lain. Dengan kata lain, sila-sila Pancasila saling menyempurnakan.  Apabila salah satu sila tidak terwujud, maka akan mempengaruhi perwujudan sila lainnya.



Seiring berjalannya waktu penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mulai diabaikan, hal ini dapat mengakibatkan tujuan dan cita-cita bangsa Indonesia menjadi terganggu. Oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia harus dapat menjabarkan nilai-nilai Pancasila dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan pemaknaan terhadap nilai-nilai religius yang berkaitan dengan hubungan antara individu dengan Tuhan. Sila ini menunjukkan bahwa negara Indonesia merupakan negara yang percaya pada kekuasaan Tuhan karena kemerdekaan bangsa Indonesia tidak lepas dari kuasa Tuhan yang maha Esa.

Memahami sila pertama sebagai pandangan hidup berarti mewujudkan masyarakat yang beragama dan beriman kepada Tuhan. Disini negara memberi kebebasan dan kemerdekaan bagi setiap warga untuk menganut suatu agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing sehingga kerukunan antar umat agama di negara tetap terjaga. Contoh penerapan sila pertama adalah tertib dalam menjalankan ibadah dan tidak mengusik ibadah umat agama lain.

Sila kedua yaitu “Kemanusiaan yang adil dan beradab” berhubungan dengan aspek moralitas, keteraturan, dan perwujudan pranata sosial yang beradab. Negara menjamin persamaan hak dan martabat setiap orang. Terdapat perbedaan yang jelas antara manusia dan hewan, ditandai dengan adanya adab. Manusia yang beradab tentu dapat mewujudkan kehidupan yang penuh cinta dan damai dengan sikap saling menghormati dan tenggang rasa antar sesama.



Dengan menerapkan sila kedua dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan masyarakat Indonesia dapat menciptakan kehidupan yang rukun dan saling bahu-membahu untuk menciptakan Indonesia yang maju .Contoh penerapan sila kedua didalam kehidupan sehari-hari misalnya menolong teman yang sedang kesusahan dan bersikap adil kepada semua orang dengan tidak membeda-bedakan ras, suku, agama, dan jabatan.

Sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia” Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dari beberapa macam pulau yang didalamnya terdapat berbagai suku bangsa, namun perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan melainkan untuk mewujudkan kasih sayang antar sesama. Oleh karena itu penerapan sila ketiga merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia dan menjadikan perbedaan sebagai anugerah bukan halangan. Sehingga kita dapat mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kokoh, kuat, dan tangguh.

Penerapan sila ketiga dapat diwujudkan dengan hidup gotong royong, dengan gotong royong kita dapat membangun kerukunan dan rasa kekeluargaan. Tujuannya untuk menjaga agar negara tetap utuh dan tidak terpecah belah. Kita dapat menciptakan kehidupan yang damai dan sejahtera tanpa adanya perselisihan serta mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi. Contohnya, Menghormati setiap teman yang berbeda ras dan budayanya serta tidak membandingkan keunggulan daerah sendiri dengan daerah orang lain.

Sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” mempunyai makna perlunya demokrasi antar sesama dalam menyikapi beragam persoalan. Demokrasi  yang dimaksud adalah demokrasi yang mengutamakan musyawarah mufakat dibandingkan keputusan pribadi.



Dalam interaksi antar manusia kita tidak akan terlepas dari yang namanya kesepakatan, musyawarah bertujuan untuk memperoleh kesepakatan bersama dan menyatukan perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat yang ada tidak harusnya menjadi sebuah perselisihan, kita dapat menyelesaikannya dengan cara musyawarah dan diskusi hingga mencapai keputusan yang adil. Musyawarah yang dilakukan perlu dihadapi dengan sikap bijaksana artinya tidak ada pendapat yang lebih diunggulkan dan semua orang setuju dengan kesepakatan yang dihasilkan.

Penerapan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang pertama yaitu lebih mengutamakan musyawarah dalam mengambil suatu keputusan, menghormati hasil musyawarah dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Contoh penerapannya adalah dengan mengikuti pelaksanaan pemilu dan melaksanakan segala aturan dan keputusan bersama dengan ikhlas dan bertanggung jawab.

Sila terakhir yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” menyiratkan perilaku transparan, adil, dan merata untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan beragam etnik.  Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berarti menjamin kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara merata, setiap rakyat berhak dan memiliki kesempatan yang sama dalam mewujudkan kesejahteraannya.

Negara juga menjamin kesempatan yang sama bagi setiap masyarakat dalam memperoleh keadilan, keadilan ini berlaku untuk seluruh aspek kehidupan, termasuk juga hak dan kewajiban yang dimiliki masing-masing individu. Dengan meratanya kemakmuran masyarakat maka kita dapat menghindari terjadinya kesenjangan sosial. Kaerena jika terjadi kesenjangan sosial akan banyak dampak buruk yang terjadi misalnya ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah, hal ini dapat menyebabkan tingginya tingkat kriminalitas sehingga keamanan dan kenyamanan akan terganggu.

Sebaliknya jika setiap rakyat mendapatkan kemakmuran yang merata, akan timbul keseimbangan dimana rakyat mendapatkan kesamaan hak yang sama sehingga tidak ada penindasan dan diskriminasi. Contoh penerapan sila kelima dalam kehidupan sehari-hari misalnya tidak memilih-milih dalam berteman dan memberikan tugas secara merata kepada orang lain.

Aktualisasi nilai-nilai di dalam Pancasila sangat diperlukan agar bangsa kita menjadi bangsa yang memiliki kepribadian yang baik, menjunjung tinggi nilai norma serta bangsa yang berbudaya. Kelak kita akan menjadi bangsa yang memiliki peradaban tinggi.



Penulis:

Ananda Geiskha Isral
Program studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan
Universitas Martim Raja Ali Haji

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close